#SIAPA??

jelajahnusantara.co

Bagaimana tidak marah? hampir setiap malam dia mengajakku bermain dalam kampungnya.

Hari itu, giliran aku yang meminta dia keluar dari tembok. Agar mendatangiku, bermain di luar tembok bersamaku. Tapi dia hanya tersenyum kecut dan menggeleng.

Jangan curang, masa aku terus yang kesitu! dengusku kesal. Wajahnya tertunduk sedih, tangannya terus terulur mengajakku masuk.Kenapa diam, jawab!Dia masih ada di dalam tembok itu, berhadapan denganku yang duduk diantara kakek nenek yang selalu lelap tertidur saat dia datang.

Gemas, aku tak lagi menutupi kemarahanku. Dia menatap sayu.

Kali ini aku benar-benar kesal padanya, dan saat ini aku sangat tega melihatnya sedih.Mau dia nangis? biar aja nangis deh!Ayo sini! teriakku lagi dalam hati,., kepalanya terangkat, menatapku.Wajah pucatnya tampak sedih.

Ayo lekas!Dia tetap diam, memandangku dengan tatapan yang lebih menyedihkan dibandingkan biasanya.Tangannya tak lagi terulur, Aku geram menahan marah.

Ika,Apa!Aku...Dia diam, menunduk, sepertinya menangis lagi.AkuApa sih!Aku suka kamu,Aku terdiam, mungkin terkejut. Usiaku masih 7 tahun, jujur saat itu aku sudah tahu kalau cewek bisa suka cowok dan begitupun sebaliknya, tapi belum paham maksudnya.Dia berkata dengan wajah memelas. Aku tak peduli.

Aku capek, aku sudah nggak mau main sama kamu lagi,Cuek kutenggelamkan kepala dibalik guling. Aku tahu dia masih melihatku.

Dia seperti menangis, aku mengintipnya dari balik guling. Sedikit muncul iba.Ingin kubujuk dia agar jangan menangis, tapi aku tak mau hal itu membuatnya merasa aku sudah tak marah padanya. Aku takut dia ngelunjak.

Bayangkan saja, dari umur 5 tahun sampai menginjak 7 tahun, hampir tiap malam kami lari-larian di kampungnya yang ramai tapi senyap. (baca #Siapa? di Jurnal Misteri Jelajah Nusantara Kamis tgl 27 Februari 2020)

Kudiamkan. Kutoleh lagi, dia masih disitu. Menatapku dalam-dalam, mengusap wajah, tersenyum dengan terpaksa, kemudian melambai.

Baru kusadari, wajahnya agak blur, antara ada dan tiada. Entah bagaimana menjelaskannya, tapi bukan itu yang jadi perhatianku, lambaiannya!

Kenapa dia melambai? Seolah berpamitan, dia terus melambai, berjalan perlahan, masuk ke dalam perkampungan itu. Menoleh lagi, kemudian melambaikan tangannya dan berlari menjauh.

Jauh ke dalam kampung dan ditelan warna sephia yang tiba-tiba berubah menjadi gelap..

Kita pasti ketemu lagi, aku jaga kamu! lamat terdengar suaranya yang semakin samar.

Kemudian tembok itu gelap gulita, kemana dia? Pada saat itu juga, seolah tersadar, aku merasa kehilangan yang sangat. Astaga! Apa yang aku lakukan?

Tiba-tiba, entah, rasa apa ini, dadaku terasa sesak sekali, aku menangis dengan keras.Aku benar-benar merasakan kehilangan dia.

Nenek terbangun mendengar tangisku, Kenapa nduk? Astaghfirullahaladziim,Entah mengapa beliau istighfar, nenek punya kemampuan melihat hal gaib yang diturunkan dari kakek buyutku.

Mungkin beliau melihat atau merasakan sesuatu, aku tak tahu. Kakek ikut terjaga dan membantu nenek membacakan ayat kursi di ubun-ubun dan membasuh wajahku dengan air. Kemudian kakek menggendongku hingga aku tertidur.

Kulihat nenek mengambil sebaskom air, membacakan sesuatu dan memercikkannya ke pojok-pojok rumah, aku tak memahami maksudnya, aku memeluk kakek dan tertidur lelap. Sayup-sayup aku dengar nenek membaca Al-Quran.

Hingga kini aku tak pernah tahu, mengapa nenek istighfar saat terbangun dan melihatku menangis. Apalagi sejak saat itu, aku tak pernah melihat anak dalam tembok itu, meski kadang aku ingin.

Pernah semalaman aku menatap tembok, hanya bintang-bintang berwarna warni yang muncul, tapi kampung itu tidak pernah nampak lagi. Anak lelaki kurus berambut ikal dengan mata kecoklatan itu, aku tak pernah bertemu lagi.

Sejak saat itu, entah kenapa, aku merasa lebih peka menangkap kehadiran mereka yang tak kasat mata//pit.

--The END--

Penulis: Pipit Ika

Editor : Redaksi

Feature
Populer
Berita Terbaru