JELAJAH NUSANTARA - Di tengah keheningan yang mendalam, sebuah tempat masih berada di area seputar Sendang Tirta Kamandanu mengajak kita merasakan getaran spiritual yang begitu kental. Kaputren, sebuah area khusus yang diyakini sebagai tempat peristirahatan istri Sri Aji Jayabaya, tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga menghadirkan pengalaman batin yang tak terlupakan. Terletak di dekat sendang yang sakral, Kaputren ini menjadi simbol ketenangan, keikhlasan, dan keterpisahan dari dunia yang fana.
Seperti halnya sendang itu sendiri, Kaputren dibangun pada masa kejayaan Kerajaan Kediri di abad ke-12, di bawah pemerintahan Raja Sri Aji Jayabaya. Di sinilah, menurut kepercayaan, istri sang prabu menjalani kehidupannya setelah suaminya memilih jalan spiritual yang sangat dalam: moksa. Moksa merupakan pencapaian spiritual tertinggi, di mana jiwa seseorang bebas dari siklus kelahiran kembali dan segala urusan duniawi, termasuk ikatan keluarga dan cinta dunia.
Istri Sri Aji Jayabaya, Dewi Sara, dikenal sebagai sosok yang penuh keikhlasan. Ketika Prabu Jayabaya memutuskan untuk meninggalkan dunia ini, ia harus merelakan dirinya untuk terpisah dari suaminya, sebuah bentuk kesabaran dan ketulusan yang luar biasa. Tidak banyak yang diketahui dari sosok istri Sri Aji Jayabaya, namun kepercayaan setempat menggambarkannya sebagai wanita dengan jiwa yang tenang, cerdas, cantik dan setia. Beliau merelakan kepergian suaminya untuk menyempurnakan pencarian spiritualnya. Ia digambarkan sebagai penopang kekuatan moral dan spiritual sang prabu, meski akhirnya ditinggalkan untuk memberi ruang bagi Sri Aji Jayabaya meraih moksa.
Kisah tentang keikhlasan ini menjadi salah satu aspek yang membuat Kaputren di Sendang Tirta Kamandanu begitu bermakna. Tempat ini dipercaya sebagai tempat di mana istri Jayabaya menjalani hidupnya dengan meditasi dan doa, merenungi kebesaran Sang Maha Kuasa, sembari menerima takdir yang telah digariskan untuknya. Kaputren menjadi simbol keterikatan yang hilang, namun sekaligus pengingat bahwa semua hal di dunia ini bersifat sementara, termasuk cinta dan hubungan manusia.
Itu yang saya rasakan seketika ketika saya memasuki area Kaputren di Sendang Tirta Kamandanu. Suasana yang saya rasakan sungguh berbeda dengan suasana di luar Kaputren. Meski tak ada sekat pemisah ruang, hanya tanaman perdu yang memisahkan antara bagian Sendang yang selalu ramai dan Kaputren yang tenang. Ada keheningan yang begitu mendalam. Seolah waktu berhenti dan hanya ada ruang bagi renungan dan ketenangan batin. Tak ada tembok yang mengelilingi area ini, namun saya merasa berada dalam ruang hampa dan kedap suara, terasa seakan membentuk batas yang memisahkan kita dari dunia luar, bukan hanya batas fisik, tetapi juga batas gaib yang memisahkan dunia nyata dan dunia gaib. Keheningan ini begitu kental, hingga membuat saya tak bisa mengabaikan perasaan ingin mengolah rasa. Saya putuskan untuk meditasi sejenak di tempat ini. Entah mengapa, saya merasa harus melakukannya. Seolah ada ajakan untuk saya berdiam dan itikaf sejenak.
Gerimis turun dengan lembut, titik-titik airnya sama sekali tak terasa. Seolah menembus kabut, saya melangut dalam kesadaran bahwa, dulu, beratus-ratus tahun yang lalu, di tempat ini, seorang wanita agung ikhlas melepas Kakanda tercintanya untuk moksa dan menyatu dalam alam ilahiyah dengan penuh kesadaran. Wanita agung itu memasrahkan segala keinginan duniawinya untuk mengantarkan sang suami ke alam kelanggengan tertinggi. Tak terasa airmata saya luruh. Betapa keagungan Sang Maha Kuasa begitu meraja di tempat ini. Dua pohon besar yang menaungi tempat saya bermeditasi seolah semakin rimbun dan membawa saya semakin khusyu. Sukma seolah mengangkasa dengan khidmat, perasaan tenang, dan nyaman terasa begitu nyata. Tepat di hadapan saya tergambar, seorang wanita dengan keanggunan luar biasa meski berpakaian begitu sederhana, rambut panjang bergelombang yang ditutup kain polos, dengan wajah cantiknya mengatupkan mata, bersemedi. Aura seorang ratu jelas memancar penuh vibrasi positif yang membuat ruang di sekeliling beliau begitu adem dan nyaman. Jiwa serasa diajak melanglang buana mengingat keagungan Sang pemilik semesta. Airmata semakin deras seiring dzikir yang saya panjatkan pada Sang Maha Kuasa.
Jika tak ada salah satu rekan yang akhirnya membangunkan saya dari meditasi, mungkin saya akan terus menikmati suasana yang tak terlukiskan di tempat itu. Ketika akhirnya tersadar dan membuka mata, saya masih terkesima dengan rasa yang terasa begitu nyata. Betapa batas antara dua dunia terasa tebal, tetapi sekaligus samar. Di dalam Kaputren, seolah kita diajak untuk menyadari bahwa ada lebih dari sekadar dunia fisik yang kita tempati.
Pengalaman spiritual yang saya rasakan di Kaputren tidak sekadar tentang tempat itu sendiri, tetapi tentang apa yang disimbolkan oleh keheningan dan kedamaian yang ada di dalamnya. Saya mencoba mengolah rasa, merenungi makna keterpisahan dan keikhlasan yang menjadi inti dari kisah Prabu Jayabaya dan istrinya. Setiap langkah terasa ringan, namun penuh makna, seolah saya diingatkan pada kekuatan doa dan meditasi yang beliau lakukan di tempat ini berabad-abad lalu.
Seiring dengan melingkarnya waktu di Kaputren, saya semakin merasakan bahwa keheningan ini adalah bentuk komunikasi yang mendalam dengan Sang Maha Kuasa. Tidak ada yang lebih terasa di sini selain kesadaran akan kebesaran-Nya dan keterikatan kita yang pada akhirnya akan lepas dari segala hal duniawi. Di sinilah, Dewi Sara menunjukkan teladan besar tentang keikhlasan seorang wanita, yang menerima takdir bahwa suaminya harus meninggalkannya demi perjalanan spiritualnya.
Ada yang membuat saya sedikit heran. Tak banyak orang yang berani memasuki area Kaputren ini seorang diri. Beberapa hanya berani berfoto diluar. Padahal ketika menapaki anak tangga dengan telanjang kaki menuju pintu kupu tarung yang dipadukan dengan aksen kusen batu bata berbentuk candi ala hindunya, aura ketenangan itu sangat terasa. Dari penjelasan seorang rekan, biasanya untuk memasuki Kaputren, seseorang harus didampingi oleh juru kunci, yaitu, Mbah Suratin atau Mbah Gino. Terutama ketika dia berniat untuk melakukan ritual tertentu atau khusus.
Bagi mereka yang mencari kedamaian batin atau ingin merasakan keajaiban spiritual, Kaputren di Sendang Tirta Kamandanu adalah tempat yang sempurna. Keheningan di dalamnya bukan sekadar kosong, melainkan penuh dengan makna dan pesan tentang ketulusan, keikhlasan, dan perenungan mendalam. Tempat ini menjadi cermin bagi kita untuk merenungkan, bahwa segala sesuatu yang kita miliki di dunia ini pada akhirnya akan kita lepaskan, termasuk hubungan dan cinta yang kita anggap paling mendalam.
Cerita tentang keajaiban Sendang Tirta Kamandanu dan Kaputren adalah pengingat bahwa dalam keheningan, sering kali kita menemukan jawaban yang tak terucapkan. Seperti istri Jayabaya yang dengan ikhlas merelakan kepergian suaminya untuk mencapai moksa, kita pun diingatkan bahwa terkadang, keikhlasan adalah jalan menuju kedamaian yang sejati.
Percaya atau tidak, Kaputren di Sendang Tirta Kamandanu menjadi saksi bisu dari perjalanan spiritual dan pengorbanan, memberikan pengalaman yang mendalam bagi siapa pun yang datang dengan niat tulus untuk merenung dan menghubungkan diri dengan Sang Pencipta. Keheningannya bukanlah sebuah kehampaan, melainkan ruang yang menghubungkan dua dunia: dunia nyata dan dunia gaib, serta dunia batin yang kita miliki sendiri.
Penulis: Pipit IkaFoto: Istimewa
Editor : Redaksi