Keringat mulai bercucuran di keningku.Mbak Nia tidak berbicara apapun. Dia dalam sikap semedinya."Jawab dik," ucapnya tiba-tiba, masih dengan memejamkan mata."Jenengan sinten?(kamu siapa)," tanyanya.Aku masih merunduk, tak mampu menggerakkan badankumbak Nia nanya sama siapa sih? aku masih bingung kenapa badanku tak bisa tegak dan mulutku kaku untuk bicara.Tubuhku merunduk serendah-rendahnya dalam posisi bersila. Bisa bayangkan gimana rasanya kalo itu posisi itu kulakukan dalam keadaan normal? tulangku nggak se-elastis itu."Krgh..kegh.."Hanya suara itu yang keluar dari mulutku, ada rasa takut, aku kenapa?! Kenapa aku tak bisa bicara?"Nggih, nggih..." ucap mbak Nia, matanya terpejam penuh konsentrasi.Tubuhku terasa semakin berat. Hampir mirip seperti saat aku liputan mobil berhantu, tapi kali ini, jauh lebih berat lagi. Ugh!Mbak Nia menggumam, hanya itu yang bisa kudengar.Tiba-tiba mbak Nia berbisik"Raden Ayu Roro K......r," ucapnya perlahan ditelingakuBulu kudukku merinding cepat, seperti terkena aliran listrik, aku tersentak, Ughh! Akkh!Tiba-tiba, pandanganku gelap. Sepertinya tadi aku berteriak. Tak disangka airmataku keluar, loh, kok? kenapa aku menangis?"Sudah, sudah,"Aku terisak, mbak Nia memelukku."Kenapa aku tadi mbak, aku kenapa gini?""Maaf ya dik, saking mbak penasarannya," mbak Nia memeluk menenangkanku.Aku masih tak mengerti. Mbak Nia benar-benar bikin bingung
Hita dan yang lain masuk saat mendengar teriakanku,"Ada apa mbak?!" Hita bertanya dengan nada tak suka."Nggak papa mas, maaf, ini tadi loh, saya merasa kalau harus menyapa 'beliau',""Beliau siapa?" tanya Hita lagi.Mbak Nia menatap tajam pada Hita yang kemudian jadi salah tingkah.Pandangan mbak Nia beralih padaku.
"Dik, maaf aku buat sampean gini, mbak Nia menggenggam tanganku dan bicara dengan perlahan.Dik, konon, dalam diri setiap insan ada penjaga, orang islam mengenalnya dengan malaikat penjaga, sedang orang Jawa biasa menyebutnya kakang kawah adhi ari-ari," ujarnya."Dalam dirimu pun, aku melihat hal yang sama. Ada penjaga, 2, cantik. Yang muda membuatmu selalu tampak jauh lebih muda dari usiamu yang sebenarnya, dia yang sedang kusapa tadi, yang satunya, membuat orang merasa nyaman didekat sampean, welas asihnya begitu tinggi," mbak Nia masih mengatur nada suaranya agar yang lain tidak mendengar."Sepertinya sesepuh dari Sumenep, saya nggak tahu dari siapa, sepertinya ibu ya?""Sudah bunda, jangan dipaksa," ucap mas Andi pada istrinya. Mbak Nia tersenyum dan mengangguk.Aku menahan nafas, benarkah? Aku tak pernah mengira bahkan berpikir tentang itu. Tentang wajah yang tampak awet muda, ya, itu disebut oleh banyak kawan yang selalu mengira usiaku lebih muda.Dan ya, buyut putri dari mama berasal dari Sumenep.Eh! apa tadi aku bilang ke mbak Nia tentang asal usulku?Tak lama, mbak Nia mengambil sesuatu, benda itu terlihat usang dan berbau seperti bau khas sebuah benda yang lama disimpan didalam lemari."Ini, disorongkannya benda itu padaku.Ini milikmu, saya serahkan padamu, sudah ya, saya nggak punya hutang lagi ya?"Aku menerimanya dengan bingung.Mbak Nia memaksa dan memasukkannya dalam tasku.Tak lama, kami berpamitan. Aku masih bingung, mbak Nia senyum-senyum. Sebelum pergi tadi, mas Andi memintaku memilih lukisan sketsa yang aku suka. Dan aku memilih sketsa yang pada kamis depan akan saya share (bersama sketsa-sketsa para danyang/lelembut Tanah Jawa lainnya) dalam Galery Jurnal Misteri Jelajah Nusantara. Full akan saya kupas disana beberapa lukisan plus wawancara saya dengan pelukisnya.
Selepas itu, mas Andi dan mbak Nia berpandangan, tersenyum dan melambaikan tangan.Dalam mobil, aku masih kebingungan. Nggak tahu harus bagaimana mencerna kejadian tadi."Dikasih apa tadi mbak?"pertanyaan mbak Umarmi membuyarkan lamunanku.Bergegas kubuka tas, selendang!"Dikasih selendang mbak, nih," kuulurkan sebuah selendang yang nampak terlihat baru dan bersinar.Aku terbelalak dan sedikit memekik, nggak mungkin!"Kenapa mbak!" tanya mbak Umarmi"Eh, nggak papa mbak,"Kuulurkan selendang itu padanya dengan tangan sedikit gemetar.Selendang itu tadi buluk dan usang, sudah bau lemari. Tapi yang ini, terlihat baru dan wangi.Aku diam dan hanya memandang mbak Umarmi yang sibuk berceloteh tentang bagusnya selendang itu.Sekejap terbayang bayangan wanita berkebaya, rambut panjangnya disanggul, sederhana dan rapi, berkerudung... Nyai...Entah kenapa tiba-tiba kudesiskan sebutan itu lirih.
**nggak aku sebutkan lengkap nama Nyai, karena entah kenapa aku ngerasa nggak etis menulis nama tersebut sedang aku belum ada keinginan untuk mengetahui tentang beliau lebih lanjut.Percaya nggak percaya, selendang itu masih ada dan meresahkan beberapa kawan yang memiliki kelebihan yang kebetulan melihatnya. Katanya, mereka suka kaget, pas duduk didekatku saat memakai selendang itu. Kaget karena apa, entahlah. Mereka hanya bilang, kadang, rambutnya yang diurai panjang bikin kaget. nya yang dimaksud, tentu bukan aku.Tapi, entah kenapa, aku nyaman menyimpan selendang itu dan sesekali memakainya saat perform diatas panggung karena coraknya, nggak lebih dari itu.Tidak ada hal aneh yang terjadi, hanya saja, sekali, saudaraku yang lama tak pernah berkunjung dan kebetulan memiliki kelebihan, mengatakan kalau, dirumahku ada 'perempuan' yang tinggal. Btw, aku nggak pernah ketemu dan masih merasa semua biasa-biasa saja. Tidak ada maksud buruk, tidak ada hasrat untuk mengetahui dirinya lebih lanjut, entah kelak. Jikapun ia ada, semoga kami bisa berdampingan dengan baik, itu saja.belakangan aku tahu jika NYAI adalah panggilan buyut putri dan nenek dari ibu./pitWallahualambisawwabThe End.
Naskah: Pipit Ika
Editor : Redaksi