x jelajahnusantara.co skyscraper
x jelajahnusantara.co skyscraper

RATU BUAYA PUTIH

Avatar jelajahnusantara.co
Redaksi
Kamis, 12 Mar 2020 22:23 WIB
Feature

Di kota asalku, ada sebuah sungai besar yang melintasi pinggiran kota, namanya sungai Kalimas. Arusnya tidak begitu deras, namun di musim-musim tertentu, alirannya cukup membuat khawatir.

Bagi yang tahu Surabaya, pasti bisa membayangkan seperti apa sungainya. Terkadang arus tenang dipermukaannya cukup menipu. Banyak korban kalap di sungai itu (begitu kami menyebut orang yang terhanyut dan meninggal karena terjebak aliran sungai tersebut). Urban legend yang berkembang di kota ini, mereka yang hanyut kalap di Kalimas, karena penunggu sungai tersebut meminta tumbal. Ratu Buaya Putih disebut-sebut sebagai penanggung jawab atas apapun yang terjadi di wilayah sungai tersebut.

Di bagian timur Surabaya, tepatnya di daerah sekitar kampus di dekat situ (sorry nggak usah aku sebut nama kampusnya ya ) mungkin belum banyak yang tahu jika terdapat 3 buah makam. Terdiri dari 1 makam besar yang diapit oleh 2 makam kecil. Tadinya aku juga nggak tahu kalau di kawasan itu terdapat makam.

Hingga suatu hari, seorang kawan yang bekerja di salah satu media cetak lokal yang namanya cukup besar. Mengajakku untuk menemaninya meliput di tempat itu.Dalam hati sebenarnya bertanya-tanya, liputan macam apa kok berangkat jam 10 malam. Tapi dalam obrolan tadi, ia menjelaskan kalau ia menyesuaikan dengan waktu yang diinginkan narasumbernya.Kurang lebih setengah jam, setelah melewati kampus, kami masuk ke sebuah jalan kecil yang di apit ilalang tinggi.

Lokasinya setelah melewati bagian bawah viaduk jalan ME**.Gelap dan sepi, kami berhenti di sebuah gubuk depan pintu masuk jalan paving yang hanya muat dimasuki satu motor. Suasana mencekam, saat dia berpamitan pergi ke sebuah rumah kayu sederhana yang letaknya sekitar 10 meter dari tempat kami memarkir kendaraan. Rumah itu nampaknya sebuah warung. Aku diam mengamati sekeliling, Tak lama dari arah jalan paving itu muncul beberapa sosok berambut panjang berjubah serba hitam, jumlahnya mungkin sekitar 10 orang.

Jantungku berdegup kencang, alih-alih berdoa, aku malah ambil ancang-ancang, mataku nyalang mencari sesuatu yang bisa kujadikan senjata untuk melindungi diri. Dalam sekejap mereka ada disekelilingku, tapi tidak ada apa-apa disitu selain rumput! Suaraku masih tercekat di kerongkongan! argh! Kututup kepalaku dengan tas ransel yang kubawa. Tuhan tolong saya!Hening

Ee, ini yang mau liputan ya?Suara berat itu sedikit mengejutkan, membuyarkan takut, memaksaku membuka mata pelan-pelan. Kuberanikan diri melihat sosok-sosok berjubah hitam yang mengelilingiku.

Sadar hanya ketakutan sendiri, buru-buru aku berdiri dan menjawab pertanyaannya dengan canggung.

Eh, iya pak,Saat itu kulihat jemariku gemetar, segera kutarik tangan dan tersenyum kecut padanya. Orang itu sepertinya tahu, duh! Kuamati wajah itu dengan lebih teliti, beliau sudah lumayan berumur. Rambut panjangnya keriting menjuntai hingga sebatas pinggang, badannya masih tegap meski kumis dan cambangnya berwarna kelabu.

Dia memakai jubah hitam yang hampir menyentuh tanah, sekilas mengingatkan aku pada Ki Joko Bodo. Yang lain juga memakai jubah hitam seperti si bapak, beberapa nampak jauh lebih muda dari beliau, kurasa ada yang seumurku dan untungnya, mereka semua manusia.Salah satu orang berbasa basi menanyakan namaku, rupanya mereka ini adalah orang-orang dari perguruan tenaga dalam atau olah kanuragan. Aku kurang memperhatikan ucapannya karena masih belum paham bagimana liputan ini akan berjalan.

Jam menunjukkan pukul 23.40 wib. Setelah berbicara dengan si bapak yang kurasa guru dari semua orang yang ada disitu, kawan ini menghampiriku, berbisik,Pemilik warung yang ku samperin tadi narasumber utama kita, dia yang kasih tahu lokasi ini, kebetulan ada orang-orang dari perguruan yang mau wisata gaib disini, sekalian kubikin janji,

Singkat kata, ini adalah liputan tentang Ratu Buaya Putih, mitosnya, beliau ini adalah penguasa Kalimas dan sekitarnya,Mas, Mbak, bisa kita mulai, masih ada waktu 10 menit untuk mengatur persiapan,Suara si bapak membuat kami buru-buru menghampiri mereka. Aku hanya melihat mereka berbincang, tak tahu harus berbuat apa, hanya satu pertanyaan yang ada dikepalaku, reportase wisata gaib ini bagaimana caranya? Dadaku kembali berdegup.

Rombongan jubah hitam itu bergerak masuk ke dalam jalan kecil berpaving. Melewatiku, sang guru melihat ke arahku dan berkata Wawancaranya setelah wisata saja, seolah tahu yang kupikirkan, aku mengangguk cepat, serem juga, dia seperti bisa baca pikiran.

Kami semua diam, hanya terdengar suara langkah kaki kami menuju ke sebuah pendopo kecil berpagar yang ternyata adalah makam.

Ada 3 makam disitu, 1 makam panjang diapit 2 makam kecil-kecil.

Tampak taburan bunga dan ubo rampe yang k akan digunakan dalam wisata gaib ini.Sebelumnya aku sama sekali tidak tahu apa itu wisata gaib. Dalam pemahaman awamku, itu artinya mengunjungi tempat gaib atau alam lain.

Ada rasa takut, tapi lebih banyak penasaran. Aku coba mengikuti setiap prosesinya.Kami ber-15, aku dan kawanku memilih duduk terpisah.

Aku duduk didekat pintu pagar, kawanku duduk disamping sang guru, kami mengelilingi 3 makam itu. Suasana hening dan mencekam. Sang guru mengetuk sebuah alat mirip shoko (seperti gong kecil yang dipukul secara teratur untuk membantu berkonsentrasi, biasa digunakan di upacara-upacara kepercayaan di jepang). Kuperhatikan mereka semua menutup mata, aku pikir juga nggak mau rugi, kepalang tanggung, nyebur aja sekalian, sekali-kali ngerasain wisata gaib.

Bunyi shoko dan keheningan seolah menyeretku dalam venue yang memperlihatkan sebuah gerbang, didepan gerbang itu nampak diapit 2 batu besar, gerbang besar namun sepertinya bukan gerbang sebuah istana, lebih seperti menuju sebuah rumah besar, ada kolam di bagian kanannya, kemudian aku merasa seolah ruhku hampir seluruhnya tercabut, seolah menembus ubun-ubun dan aku mulai takut. Sebelum seluruh kesadaranku hilang, aku membuka mata sesaat setelah aku melihat kelebat selendang.

Dengan keringat mengucur membasahi dahi, aku istighfar. Astaghfirullahaladziim, apa itu tadi? Orang-orang didepanku bergeming, kawanku nampak sangat terlena dalam hening yang saat ini seolah kunikmati sendiri.

Bayangkan, hanya aku seorang yang membuka mata ditengah makam itu. Dalam hati aku menyesal, kenapa tidak kuikuti saja sukma yang seolah terlepas tadi, tapi aku juga takut tak kembali. Dalam kesunyian itu, tak henti kulantunkan doa, Tuhan,, lindungi aku. Bunyi gemerisik diantara rerumputan membuat jantungku seolah semakin cepat berdetak, gemerisiknya seolah mendekati tempat dimana aku duduk, aku memejamkan mata rapat-rapat dan terus melafalkan doa, hingga

Selamat datang kembali saudara-saudaraku, ucapan sang guru lagi-lagi membuatku membuka mata.Aku hanya terdiam dan pura-pura sibuk dengan kamera.

Mbak, saya nggak melihat mbak disana? Nggak ikut ya? Tanya sang GuruAku nyengir, sempat merasa heran, kok dia bsa tahu? terus terang aku berkata jika takut.

Dia tersenyum.Ya sudah, nggak apa-apa, bisa kita mulai wawancaranya? Syukurlah kanjeng ratu dayang sudah memperbolehkan,Ratu dayang? Ratu buaya putih atau Ratu Dayang nih? penasaran, aku mulai mempersiapkan voice record di HP ku.

Jadi gini mbak, sejatinya makam ini adalah makam seorang tokoh wanita yang cukup memiliki pengaruh di jaman Majapahit. Beliau adalah Ratu dayang dari seluruh dayang-dayang di kerajaan Majapahit pada saat itu. Bisa dibilang ketuanya. Pada saat itu, kesaktian beliau membuat beliau menjadi tokoh wanita yang cukup disegani. Hingga beliau di pasrahi (ditugaskan) untuk menjaga wilayah Kalimas dan sekitarnya,Aku mendengarkan dengan seksama, selendang yang kulihat sekilas tadi, apakah milik Sang ratu buaya?

Jika saja mbak tadi mau mengikuti lelononging sukmo, mbak bisa bertemu beliau. Beliau tadi sudah sempat akan menyapa jenengan,

Deg! Perasaan itu muncul lagi.Mas, bisa jelaskan ke saya dari awal, bagaimana situasi atau keadaan disana? Barangkali teman-teman disini juga sekalian bisa mencocokkan, benarkah suasana seperti itu yang mereka lihat, sama atau tidak, Sang Guru beralih pada kawanku tadi. Aku terdiam dan mendengarkan jawabannya dengan serius.

Iya pak, tadi saya seolah berada di sebuah gerbang, di depan gerbang diapit 2 batu besar, gerbang besar menuju sebuah rumah besar, seperti sebuah kaputren, ada kolam di bagian kanannya, ada air mancur ., Kalimat selanjutnya tak lagi kudengarkan, karena tiba-tiba aku melihat sekelabat bayangan. Lagi-lagi si Guru memperhatikanku, mata kami bertatapan, dia tersenyum kemudian memejamkan mata. Aku terdiam, perasaan itu kembali lagi.

Hingga akhirnya, kami merasa cukup, aku bersiap berpamitan, sang guru menghampiriku dan berbisik dalam bahasa jawa, Opo sing ono sak jroning rogo ora biso di ilangke, ananging dijogo nggo roso, (kira-kira artinya, apa yg ada dalam raga tak bisa dihilangkan, namun dijaga dengan rasa). Tiba-tiba tangannya menyambar tanganku dan menggenggamkan sebuah batu keemasan berbau minyak misik.

Aku keheranan tapi menggenggamnya erat. Mereka berlalu,Ayo pulang, ajak kawanku.Eh, aku dikasih ini, apa nih?Kusorongkan batu menyerupai keong. Kawanku terlihat terkejut, matanya berkilat galak, dengan gusar disambarnya batu itu dari tanganku.

Kamu nggak usah bawa beginian, sini, biar aku saja! Sebenarnya agak terkejut dengan reaksinya yang menurutku berlebihan. Bagiku, itu hanya sebuah batu.Aku mengangguk masygul dan membiarkan dia menyimpan batu itu diantara lipatan saputangannya.

Dalam perjalanan pulang melewati sungai Kalimas, aku merasa sedang diawasi, sepanjang sungai itu seolah memperhatikan kami. Aku hanya bisa menunduk dan membaca doa keselamatan berkali-kali. Dalam benakku, sang ratu tengah menatapku dalam pandangan yang tak bisa ku artikan.

Sayup-sayup terdengar bisikan, "Raden ayu Roro K#e#$*@$," (maaf saya rahasiakan nama tersebut sampai aku tahu dengan jelas). Meski merasa sangat akrab dengan nama itu, tapi tak ku gubris. Tiba-tiba, byur! terdengar suara sesuatu mencebur ke dalam sungai tepat 3 meter disebelah kami.

Aku tak ingin menengok, apapun itu, semoga dia tak mengganggu kami. Aku hanya ingin segera sampai rumah.

Penulis: Pipit Ika

Editor : Redaksi

Artikel Terbaru
Senin, 21 Apr 2025 21:08 WIB | Seni dan Budaya
Di kaki Gunung Arjuno, sebuah panggung seni terbuka menyatukan manusia, alam, dan harapan. Dalam Jambore Seni Lereng Gunung, tiket masuknya bukan uang melainkan ...
Senin, 21 Apr 2025 20:41 WIB | Pariwisata
Mojokerto, yang dijuluki Spirit of Majapahit, menyimpan jejak kejayaan Kerajaan Majapahit melalui enam situs candi bersejarah di Trowulan. Mulai dari Candi ...
Senin, 21 Apr 2025 17:51 WIB | News
Penemuan susunan bata kuno di halaman rumah warga di Mojokerto membuka kemungkinan adanya jejak peradaban tua sebelum Majapahit. ...