[metaslider id=3382]
photo by Ali/Pool
Sejumlah mahasiswa Unit Kegiatan Kerohanian Hindu Universitas Surabaya (UKKH Ubaya) menggelar Sendratari Dalem Balingkang dalam Bali Festival 2019 di Lapangan Perpustakaan Kampus Ubaya Tenggilis, Jl. Raya Kalirungkut Surabaya, Jawa Timur, Jumat (3/5).
Penampilan drama musikal kontemporer yang kental dengan adat Bali, bertajuk Gelora Romansa Budaya, mengangkat kisah asal muasal sepasang Barong Landung.
Barong Landung merupakan sosok perkawinan campur Bali - Tionghoa yang digambarkan dengan wujud pria Bali berkulit hitam dan bermata besar yang berdampingan dengan seorang perempuan berkulit putih langsat dan bermata sipit.
Barong Landung merupakan penghormatan terhadap sosok Raja Jaya Pangus (Dalem Bali Kang) dan permaisuri Kang Tjin We yang merupakan pendatang Tionghoa. Penghormtan yang dilakukan oleh masyarakat Bali merupakan bentuk pengajaran toleransi budaya kepada masyarakat.
Konon, Barung Landung dihormati dan sering dipentaskan untuk mengusir pengaruh jahat dan membawa kedamaian serta kesejahteraan warga.
Bali Festival merupakan acara tahunan rutin yang diselenggarakan oleh UKKH Ubaya sebagai bentuk sikap anak muda khususnya mahasiswa dari Bali untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya mereka ke masyarakat luas di tanah Jawa.
Salah satu tujuannya untuk mengingatkan kepada kaum muda bahwa Indonesia memiliki beragam budaya termasuk adanya budaya Bali. Melalui pertunjukkan ini, masyarakat menjadi lebih mengenal dan tahu budaya Bali itu bagaimana dan seperti apa.
Melalui Bali Festival 2019, UKKH Ubaya ingin menunjukkan bahwa budaya adalah jati diri bangsa yang perlu dilestarikan kepada anak muda dan itu harus tercermin dalam pribadi mahasiswa Ubaya yang multikultural.
Editor : Redaksi