Surabaya (Jelajahnusantara.co) Tingkatkan kecintaan terhadap kesenian dan budaya terutama seni tari, STIE Perbanas Surabaya kembali menggelar festival Traditional & Contamporary Dance Competation bertemakan TRANDMORANCE 2019.
Festival tari yang diselenggarakan pada Minggu, 10 Maret 2019 di Lapangan Kampus 1 STIE Perbanas Surabaya ini diikuti oleh 46 peserta se-Jawa Timur.
Emma Oktavianti selaku Ketua Pelaksana TRANDMORANCE 2019, mengatakan bahwa, tujuan diselenggarakannya festival tari se Jawa Timur ini disamping meningkatkan kecintaan terhadap kesenian juga salah satu cara untuk menarik minat generasi milenial turut melestarikan budaya Indonesia.

Kita semua tahu di era digital sekarang ini, kesenian dan kebudayaan Indonesia semakin terlupakan. Apalagi bagi anak muda jaman sekarang yang disebut generasi milenial hampir melupakan kebudayaan sendiri, kata Emma saat dijumpai di kampus STIE Perbanas Surabaya, Minggu, (10/03/19).
Oleh karena itu, melalui festival ini yang kita kombinasikan dengan dance dapat menarik perhatian para generasi milenial untuk semakin mencintai dan terus melestarikan kebudayaan Indonesia, tambahnya.
Indonesia memiliki beraneka ragam budaya dan seni. Namun, kalau tidak dijaga dan dilestarikan semakin lama akan terkikis dan terlupakan. Pagelaran tari yang diselenggarakan Perbanas Surabaya kali ini berbeda dari tahun sebelumnya.
Tahun ini, konsep yang lebih dikuatkan berupa keunikan Back to 90s dimasukan dalam kreasi tarian setiap penampil, khususnya modern dance. Dengan mengusung tema No One Can Stop For us For Dance.

Total peserta yang berjumlah 46 kelompok tari tampil, dengan rincian 25 tari tradisional dan 21 modern dance.
Kelompok tari yang tampil ini se-Jawa Timur, berasal dari Jember, Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Surabaya, Malang, dan lainnya. Adapun peserta yang tampil meliputi Senstra Dance, Fresh Id, Sawunggaling Tradisional Dance, DCulture, Cakadidi, dan masih banyak lagi lainnya, terangnya.
Setiap peserta diberikan durasi 5-7 menit untuk menampilkan kreasinya. Sedangkan untuk penilaian ada criteria yang diberikan. Diantaranya yaitu Koreo, Skill, Kreativitas, Kostum, Ekspresi, serta penghayatan khusus untuk tari tradisi.
Siska Aulia salah satu peserta dari Universitas Negeri Jember (Unej) saat menyuguhkan Tari Sabuk Mangir dari Banyuwangi mengaku telah mempersiapkan matang matang tariannya selama tiga minggu.

Tari Sabuk Mangir merupakan tarian tradisional asal Banyuwangi. Tapi kita modifikasi agar lebih menarik dan mudah disukai oleh generasi milenial. Namun, tidak meninggalkan pakem tarian aslinya, tutur Siska.
Dijelaskan juga, Tari Sabuk Mangir merupakan tarian yang bersifat magis untuk memikat kaum hawa. Menurut kepercayaan di daerah Mangir, dengan Sabuk yang disabetkan, maka wanita yang terkena akan jatuh cinta atau malah menjadi gila. Siska dan keempat temannya pun berharap bisa menang dalam pergelaran ini. (Tls)
Editor : Redaksi