x jelajahnusantara.co skyscraper
x jelajahnusantara.co skyscraper

Perjuangan dan semangat tak kunjung padam hingga 200 tahun ini.

Avatar jelajahnusantara.co
Redaksi
Senin, 22 Mei 2017 02:07 WIB
Seni dan Budaya

Thomas Matulessy atau yang di kenal sebagai Pattimura yang lahir di Haria, pulau Saparua, Maluku, 8 Juni 1783  meninggal di Ambon, Maluku, 16 Desember1817 pada umur 34 tahun), juga dikenal dengan nama Kapitan Pattimura adalah pahlawan Maluku dan merupakan Pahlawan nasional Indonesia dan juga pahlawan cengkeh dan pala.

Perjuangan dan semangat beliau tak kunjung padam hingga 200 tahun ini. Mengingatkan pada tahun 1816 silam, pihak Inggris menyerahkan kekuasaannya kepada pihak Belanda dan kemudian Belanda menetapkan kebijakan politik monopoli, pajak atas tanah (landrente), pemindahan penduduk serta pelayaran Hongi (Hongi Tochten), serta mengabaikan Traktat London I antara lain dalam pasal 11 memuat ketentuan bahwa Residen Inggris di Ambon harus merundingkan dahulu pemindahan koprs Ambon dengan Gubenur dan dalam perjanjian tersebut juga dicantumkan dengan jelas bahwa jika pemerintahan Inggris berakhir di Maluku maka para serdadu-serdadu Ambon harus dibebaskan dalam artian berhak untuk memilih untuk memasuki dinas militer pemerintah baru atau keluar dari dinas militer, akan tetapi dalam pratiknya pemindahan dinas militer ini dipaksakan. Kedatangan kembali kolonial Belanda pada tahun 1817 mendapat tantangan keras dari rakyat. 

Warga maluku Surabaya memperingati perjuangan dan semangat yang mengakar ini dengan sangat istimewa untuk hari pattimura yang ke-200 di pantai kenjeran lama (21/5/2017) , perayaan secara nasional setiap provinsi salah satunya di Surabaya untuk wilayah jawa timur.

Raimon lesilolo ketua panitia perayaan hari patimura kali ini menjelaskan "Dalam acara ini kita mempunyai moto laeng sayang laeng yang mempunyai arti saling mempunyai saling menyayangi sesama umat manusia, makna mengangkat persaudaraan sesama umat menggambarkan sang Pattimura, dan berharapan kehidupan masyarakat maluku jangan sampai terganggu dengan hal hal buruk yang dapat memecahkan negara ini."

Bentuk acara ini di penuhi acara-acara adat dan kebudayaan Maluku dan di akhiri dengan makan patita yang berarti makan bersama tidak pandang perbedaan ungkapnya. (Dn)

Editor : Redaksi

Artikel Terbaru
Senin, 21 Apr 2025 21:08 WIB | Seni dan Budaya
Di kaki Gunung Arjuno, sebuah panggung seni terbuka menyatukan manusia, alam, dan harapan. Dalam Jambore Seni Lereng Gunung, tiket masuknya bukan uang melainkan ...
Senin, 21 Apr 2025 20:41 WIB | Pariwisata
Mojokerto, yang dijuluki Spirit of Majapahit, menyimpan jejak kejayaan Kerajaan Majapahit melalui enam situs candi bersejarah di Trowulan. Mulai dari Candi ...
Senin, 21 Apr 2025 17:51 WIB | News
Penemuan susunan bata kuno di halaman rumah warga di Mojokerto membuka kemungkinan adanya jejak peradaban tua sebelum Majapahit. ...