Menyingkap Tabir Goa Pasir: Pusaka Majapahit di Lereng Sunyi Tulungagung

jelajahnusantara.co
Goa Pasir (Sahlan Kurniawan/Jelajah Nusantara)

JELAJAH NSUANTARA - Ketika mendengar nama Goa Pasir, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada lanskap eksotis berupa gua berisi pasir lembut, atau mungkin goa yang terbentuk di tengah bentang padang pasir. Namun, jangan terburu menyimpulkan. Goa Pasir yang terletak di Tulungagung ini justru menyuguhkan narasi sejarah yang jauh lebih menarik daripada sekadar bentukan alam.

Terletak di Dusun Pasir, Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol, Goa Pasir sejatinya adalah situs budaya yang menyimpan jejak masa lampau. Namanya sendiri bukan berasal dari kandungan pasir, melainkan dari nama dusun tempat ia bersemayam. Hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat kota Tulungagung, lokasi ini mudah dijangkau. Cukup arahkan kendaraan ke jalur Blitar dan ikuti petunjuk arah di Desa Junjung. Bila ragu, penduduk setempat tak segan menunjukkan jalan Goa Pasir adalah bagian dari ingatan kolektif mereka.

Baca juga: Jumiang: Menikmati Laut dari Atas Bukit di Pamekasan

Perjalanan menuju mulut gua sedikit menguji tekad. Jalan setapak berbatu besar dan curam harus dilalui dengan hati-hati. Namun begitu tiba, udara hening yang menyelimuti kawasan gua seperti memanggil kita untuk berhenti sejenak merenungi waktu yang seolah tertinggal di balik batu-batu tua itu.

Goa Pasir bukan sekadar ruang kosong di dalam bukit. Ia adalah lanskap arkeologis. Di dalam dan sekitar gua, terdapat arca-arca batu andesit, patung-patung kuno, relief di dinding batu, serta makam-makam tua. Dua arca dwarapala menyambut pengunjung layaknya penjaga waktu, lengkap dengan guratan usia di tubuh mereka. Fragmen arca Ganesha, dewa berkepala gajah dalam mitologi Hindu, ditemukan tak jauh dari sana—membuka kemungkinan kuat bahwa situs ini pernah menjadi bagian dari peradaban Majapahit.

Baca juga: Pantai Wedi Awu, Surga Tersembunyi di Malang Selatan yang Mempesona

Penelitian arkeologis menunjukkan bahwa beberapa arca yang ditemukan di lokasi ini bertanggal tahun Saka 1224 (1302 M) dan 1325 (1403 M), masa ketika Majapahit mencapai kejayaannya. Dalam buku Tabuta (Tapak Budaya Tulungagung) karya Drs. M. Dwi Cahyono, M.Hum, disebutkan bahwa Goa Pasir, atau Situs Karsyan, dulunya merupakan tempat pertapaan. Bangunannya berbentuk tapal kuda, khas arsitektur pertapaan kuno.

Kini, Goa Pasir menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik bagi para penjelajah budaya. Namun, di balik gemuruh pariwisata, goa ini tetap berdiri tenang mengingatkan kita bahwa setiap batu, setiap ukiran, memiliki cerita yang tak akan lekang dimakan zaman.

Baca juga: 5 Rekomendasi Wisata Pantai Terbaik di Jawa Timur, Surga Tropis yang Menanti untuk Dijelajahi

Di sanalah letak pesonanya. Goa Pasir bukan hanya tempat untuk dilihat, melainkan tempat untuk dirasakan: sejarah yang diam, tetapi tetap berbicara.

Editor : Redaksi

Feature
Populer
Berita Terbaru