Halo Sahabat Jurnal Misteri, menemani malam jum’at anda, saya persembahkan wawancara eksklusif dengan pemilik dari Kundolangit Art, yaitu Andhung Irawan. Tidak banyak seniman dengan keahlian seperti beliau.
Seniman sketsa dengan aliran yang cukup langka menurut kami.

Berkenaan dengan tulisan kemarin tentang sketsa para lelembut dan danyang yang dilukisnya, atas ijin beliau, saya persembahkan galeri foto special Kundolangit Art. Seluruh sketsa yang ada disini FOR SALE, jika anda tertarik silahkan hubungi no. telp. 0857 0749 8880.

Sebagai informasi, lukisan-lukisan Andhung Irawan pernah mendapat apresiasi di benua Eropa, dijadikan sebuah album majalah kumpulan lukisan gaib sebanyak 10 halaman dan dijual dengan harga 15 Euro atau setara dengan 300 ribu rupiah.

Berikut wawancara eksklusif Jurnal Misteri dengan Mas Andhung yang penuh kerendahan hati untuk Anda :

#GALERI_KUNDOLANGIT_ART

JM :
“Awal mula bisa melukis seperti itu bagaimana ceritanya mas?”
AI :
“Ya, saya sendiri tidak tahu pasti, mengapa saya yang ‘dipilih’ untuk menjadi juru foto ‘mereka’. Yah, saya menyebut diri saya seperti itu. Karena kadang, vision itu datang tiba-tiba, melekat sekali di ingatan, seperti klise film dan mau tak mau harus saya afdruk, dengan cara menuangkan menjadi sebuah karya”

JM :
“Mengapa wujud ‘mereka’ dilukis sketsa dengan warna hitam putih? apakah mereka menampakkan diri dengan wujud seperti itu?”
AI :
“Tidak, gambar saya itu belum ada apa-apanya dengan penampakan aslinya. Mereka menampakkan diri dengan menyilaukan. Emas, intan, rojo brono kalau orang Jawa bilang, menyilaukan mata. Misalnya seperti ketika yang datang adalah Ratu dari sebuah Ranu, ya mereka berpakaian sangat indah seperti layaknya seorang ratu. Tapi penggambaran mereka dengan warna hitam putih sendiri merupakan sebuah ‘kesepakatan’ diantara kami. Tentu saya punya alasan tersendiri. Selain itu di balik warna hitam putih, terkandung makna filosofis yang dalam. Ketika hal itu saya sampaikan pada ‘mereka’, alhamdulillah ‘mereka’ setuju dan menerimanya.”

JM :
“Tapi bagaimana bisa penggambaran mereka begitu detil dan hidup mas?”
AI :
“(Tertawa) sampean aja bingung, apalagi saya, hehehe. Kadang saat sedang tidak ada ‘obyekan’ dari ‘mereka’, saya ulangi lagi melihat hasil gambar saya, dalam hati ya bilang, siapa yang menggambar ini ya? kok bisa bagus sekali gitu loh, hehehe. Yah begitulah dik, kadang saya sendiri juga heran. Makanya saya bilang kalau saya ini juru foto. Otak saya ini merekam gatra (wujud) mereka dan tangan ini otomatis melukis mereka sesuai yang tergambar dipikiran saya.”

JM :
“Nuwun sewu, kira-kira kenapa mereka memilih jenengan ya mas?”
AI :
“Lah ya emboh (tertawa) saya juga tidak paham dik. Tapi mungkin, setiap manusia itu memiliki bagian atau porsi masing-masing di dunia. Mungkin ya saya memang ditakdirkan untuk ‘dekat’ dan mudah berinteraksi dengan bangsa ‘mereka’ untuk jadi ‘juru foto’nya. Yah, tinggal bagaimana kita menyikapinya dik, toh bukan saya yang manggil dan mau ketemu mereka, memangnya siapa saya, dan mau ngapain kok pake dipanggil-panggil. Sudah ketemu, gambar, ya sudah, hehehe,”

JM :
“Jika suatu waktu mas sangat sibuk, dan tidak bisa menggambar mereka, kira-kira apa yang bisa terjadi?”
AI :
“Ya, tidak ada yang terjadi, paling badan saya gelisah, nggak enak, resah, bagaimanapun ya harus di tuangkan dalam gambar. Kalau tidak, ya ‘mereka’ nagih. Kok yang ‘itu’ kamu gambar, ‘saya’ kok tidak, gitu. Tapi bagaimanapun kita nggak boleh kalah. Ya pas saya belum bisa gambar, paling saya bilang, ‘aku masih ngurusi keluargaku, ya nanti kalo sudah kelar sampean tak gambar’. Ya jangan sampai kita di setir sama ‘mereka’ lah dik. Tapi intinya mau berapapun lama waktu yang diperlukan sampai saya nggak sibuk, ‘mereka’ tetap harus di gambar.

JM :
“Ok, sebenarnya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menggambar ‘mereka’?
AI :
“Tergantung kesibukan saya sih, kadang hanya beberapa menit, beberapa jam, beberapa hari atau bahkan minggu, tergantung mood. Saya tidak mau ‘mereka’ setir. Bagaimanapun, kita sesama makhlukNYA. Saya menerima ‘bagian’ saya, bukan berarti menuruti keinginan ‘mereka’ kapan saja.

JM :
“Apakah setelah dilukis, ‘mereka’ pernah minta dilukis lagi?”
AI :
“Kadang ada yang begitu, kalau adik jeli, ada beberapa gambar saya yang merupakan satu kesatuan kisah, namun saya gambar secara acak dengan waktu yang agak lama. Itu karena ‘dia’ memang minta digambar lagi dan tidak ingin kisahnya di pahami. Banyak yang seperti itu dik, hanya ingin Digambar tapi tak ingin dikenali. Makanya dalam beberapa gambar saya, ada yang saya terangkan ‘beliau’ siapa dan ada yang tidak. Itu juga karena memang beliaunya tidak mau disebut atau memperkenalkan diri.”

JM :
“Dalam lukisan jenengan, saya melihat hanyalah ‘mereka’ yang sepertinya memiliki tingkatan atau mungkin bisa saya sebut memiliki kasta yang tinggi mas, memakai baju ala keraton dan lain-lainnya. Bagaimana bisa begitu mas? sedangkan saya sering melihat lukisan gaib tapi yang digambar dengan perwujudan yang umum, biasanya yang sering menakut-nakuti orang itu loh.

AI :
“(Tersenyum) Saya sendiri juga tidak tahu pasti, kenapa yang seperti ‘mereka’ yang datang pada saya. Cuma pada prosesnya, yang adik bilang suka nakutin orang itu juga datang. Kalau sudah seperti itu, tangan ini ikut menggambar juga keberadaan mereka secara otomatis. Dan ini buat saya juga terasa nggak enak. Energinya kadang bentrok. Bisa diibaratkan, filmnya nggak jadi, terlalu banyak figuran, hehehe. Tapi, saya punya cara agar, ‘film’ yang ada dalam pikiran saya ini tidak terganggu. Sholawat tidak pernah lepas saat saya menggambar ‘mereka’ dik. Ya alhamdulillah dengan cara itu, ‘figuran-figuran’nya ilang sendiri-sendiri. Tapi ada juga sih figuran yang sengaja di bawa si gaib itu untuk melengkapi kisah yang mereka ingin saya gambarkan,”

Sampai disini saya ingat dengan sebuah sketsa seekor kuda hitam yang gagah, sketsa kuda ini menyedot perhatian saya dibanding ‘figuran’ yang ususnya terburai tepat di depan sang kuda. Gagak Rimang, begitulah tutur sang pelukis.

JM :
“Apakah hanya danyang tanah Jawa saja yang jenengan gambar mas?”
AI :
“Alhamdulillah, enggak dik, siapa saja yang datang dan nyuwun digambar ya saya rupakan. Ada beliau yang dari Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, Lombok juga pernah.

Ah ya, seingat saya, saya pernah melihat gambar wanita cantik yang belakangan dikatakan mas Andhung bahwa beliau adalah penunggu Lereng Gunung Rinjani, Lombok.

JM :
“Terakhir, manakah dari gambar-gambar tersebut yang paling special buat jenengan?”
AI :
“(Tertawa) mana ya, kalau dibilang special ya saya rasa special semua, karena masing-masing memiliki cerita dan aura tersendiri. Tapi mungkin yang dari gunung Wilis kayaknya bisa saya bilang istimewa, karena, satu demi satu, yang tak pernah saya tahu sebelumnya, muncul saat itu. (saat mas Andhung mendatangi sebuah acara di lereng Gunung Wilis).”

Nah, demikian interview saya yang menarik Bersama Kundolangit Art. Namun belum terpuaskan rasanya. Karena masih banyak hal yang sebenarnya ingin saya tanyakan dari beliau, hanya saja terhalang social distancing, jadi saya harus cukup puas by VC saja.

Semoga anda suka suguhan Galeri Jurnal misteri kali ini, mari kita doakan semoga pandemic ini segera berakhir, tetap jaga Kesehatan dan nikmati serunya malam Jum’at Anda bersama Jurnal Misteri Jelajah Nusantara./pit.