Setiap anak kecil mungkin pernah bersentuhan dengan gaib, meski bukan keinginannya. Kejadian maupun makhluk gaib kadang dengan mudah bisa mereka lihat. Hal itu bisa jadi karena berbagai faktor. Begitupun yang kualami saat itu.
Peristiwa ini terjadi saat aku masih berusia 5 tahun. Daya ingatku masih cukup bagus untuk mengingat bagian itu. Sampai hari ini, kadang aku masih memikirkannya.

Sebagai cucu pertama , sejak usia 9 bulan, aku tinggal dengan nenek dan kakek. Karena ibu hamil anak kedua, semua perhatian ibu tercurah untuk calon adikku. Nenek dan kakek mengasuhku atas keinginan mereka sendiri. Seperti layaknya seorang anak kecil, aku tidur bersama mereka. Setiap jam 9 malam, kakek akan menggendongku dari ruang tv ke dalam kamar tidur, mematikan lampunya hingga gelap gulita. Tidur diantara keduanya sungguh membuat tenang. Selalu seperti itu hampir setiap malam.

Suatu malam, lolongan anjing terdengar tak jauh dari rumah.
Nenek pernah bercerita, jika terdengar lolongan anjing, tandanya ada hantu yang menampakkan diri. Aku bergidik ketakutan, berusaha memejamkan mata dan menutup diri dengan selimut.

Tapi kemudian, dengan mata tertutup, aku melihat pendaran bintang-bintang berwarna warni. Seperti sprinkle merah, hijau, kuning, serupa pelangi. Ada yang bulat, kotak-kotak kecil, berbentuk bintang, beraneka warna, sangat indah. Rasa takutku terlupakan. Aku tertarik dan mencoba meraih ‘bintang-bintang’ itu dan menggenggamnya. Menangkap dan melihatnya lenyap di tangan sungguh menyenangkan. Gelap membuat bintang-bintang itu bergerak lembut seiring nafas. Aku tersenyum, cantik sekali.

Dihadapanku adalah tembok dimana terdapat lemari gantung, tempat diletakkannya TV hitam putih milik nenek berada. Perlahan, dari dalam tembok, terlihat sebuah perkampungan. Atap rumah yang terbuat dari genting tua dan sebagian beratap jerami, bersih dan banyak pohon. TV kah? Sepertinya bukan, nenek sudah mematikannya dari tadi, lagipula perkampungan itu terlihat berwarna senja yang kekuningan serupa saat maghrib menjelang (setelah beranjak SMA, baru aku tahu itu adalah warna sephia dengan semburat matahari merah).

BACA JUGA  5 Cara Mudah Merawat Bonsai

Kukucek mata sekali lagi, benarkah? Tak lama, ada seorang anak lelaki sepantaranku, berambut ikal, kurus, kulitnya putih pucat, tersenyum padaku, ia berdiri ditengah jalan perkampungan dalam tembok itu, menghadap tepat ke arahku.

“Jangan takut,”
aku menatapnya heran, apa yang harus kutakutkan?
Wajahnya sama sekali tak menyeramkan

“Ssst, diam, dia sedang menyebarkan penyakit,”
Aku bingung apa maksudnya. Sementara itu, suara daun yang diseret terdengar cukup jelas

“Tutup matamu cepat!” Aku menurut.
Kukatupkan mata rapat-rapat dan melafalkan Al Fatihah dalam hati, baru surat itu yang kuhapal.
Dalam kebingungan, aku meyakini jika dia tak bermaksud buruk.
Lolongan anjing beradu gemerisik daun yang diseret terdengar makin keras hingga akhirnya tak terdengar apapun sama sekali.

“Sudah, aman, buka matamu,” Kubuka mata perlahan. Dia masih ada didalam tembok itu.
Aku melihatnya curiga. Mulai mempertanyakan dalam hati, siapa dia?

“Ayo main ke tempatku,” dia mengulurkan tangan, sambil tersenyum.
Kugelengkan kepala.
Herannya, di tempat segelap itu, seolah dia bisa melihatku menggeleng.
Nampak raut sedih diwajahnya, ada rasa kasihan yang muncul.
Sekali lagi dia mengulurkan tangan, aku masih diam, ragu.

“Ayo!”
“Enggak”
“Plis,”
“Nggak!”
“Tidak apa-apa, kita main saja,”
“Dimana?”

“Disini, dirumahku,”
“Nggak,”
“Ayolah, sebentar saja,”
“….”
“Ayolah,”
“Jangan paksa aku dong, dasar nakal!” ucapku dalam hati sambil menatap marah padanya.

Dia kembali terlihat sedih, sepertinya menangis. Aku tak melihat airmatanya, namun seolah aku bisa merasakan kesedihannya.
Ya, kami berbicara tanpa menggerakkan bibir. Semua percakapan tadi kami lakukan dalam hati.
Terdengar sangat jelas olehku, meski bibir kami tak bersuara.
Dia masih menangis sedih, menunduk.
Akhirnya, aku tak tega.

“Baiklah, ayo main, tapi sebentar saja ya,”
Dia tertawa, tapi tak terbahak, binar matanya bicara.
Dia menarik tangan yang kuulurkan padanya. Seperti ditarik, tubuhku ringan menyusul langkahnya masuk ke dalam perkampungan itu.
Kulihat tubuhku masih tertidur diantara nenek dan kakek yang lelap. Tak ada rasa heran dalam hati, bagaimana bisa seperti itu. Yang ada hanya perasaan seorang anak kecil yang gembira bisa bermain.

BACA JUGA  Wawancara Eksklusif Andhung Irawan

Kami berlarian diantara wanita-wanita penumbuk lesung yang sibuk menumbuk padi.
Suasana nampak ramai, tapi tak terdengar suara lesung beradu dengan alu.
Mereka berkegiatan, namun senyap.
Meski agak heran, kami tetap berlarian diantara rumah-rumah di perkampungan itu.

Beberapa saat kemudian, rasa Lelah menghampiri. Aku berpamitan padanya tanpa membuka mulut dan bersuara,
“Sudah ah, aku balik dulu ya?”
Dia mengangguk bahagia,
“Besok lagi ya,” jawabnya.
Agak berat menjawab tidak saking lelahnya, aku hanya tersenyum.
Tak tega jika harus membuatnya menangis lagi.

Entah bagaimana, dalam sekejap aku sudah berada diantara kakek nenek dan gelap kamar yang hangat. Aku tertidur kelelahan.

Esoknya, dikampungku, hampir sebagian besar orang menderita sakit mata.
Aku menebak-nebak, inikah yang dia maksud dengan ‘dia menyebarkan penyakit?’
‘Dia’ siapa?
Lalu, anak laki-laki itu siapa?

Aku menyebutnya teman, karena telah memperingatkanku untuk menutup mata dan terhindar dari sakit mata.
Tak pernah ada curiga, mengapa dia hanya hadir saat lampu kamar gelap gulita atau mengapa dia selalu muncul dari dalam tembok.
Kami menikmati kegembiraan menangkap bintang warna warni bersama dan berlarian di kampung sephia itu.
Setiap malam, hal itu selalu berulang dan berulang. Hingga aku mulai masuk Sekolah Dasar.

Suatu hari, aku marah padanya, marah besar!
Mungkin lelah yang tak habis-habis karena setiap malam bermain dengannya, membuat aku sangat kesal…
-To Be Continued-

Penulis: Pipit Ika