Sejak terakhir menulis, banyak hal yang terjadi, berkaitan dengan ghaib. Kalau dulu, rasa takut itu begitu besar. Kini, aku sedang berusaha hidup berdampingan dengan ‘mereka’.
Toh dalam rukun Iman di agama yang kuanut, kita harus meyakini semua yang gaib di dalamnya. Artinya, itu sesuatu hal yang tak mungkin terhindari.
Mungkin juga karena cape, berhadapan dengan hal-hal seperti itu. Pilihanku hanya menghindar atau hidup berdampingan dalam ‘damai, dengan caraku. Aku pilih cara terakhir.

Sejak pindah rumah, rasanya semakin sering saja aku merasakan kehadiran ‘mereka’.
Rumah yang kutempati baru kosong 6 bulan. Namun penghuni sebelumnya rupanya sangat jorok, banyak yang harus kuperbaiki dan kubersihkan sebelum tinggal di rumah ini.

1 bulan sebelum kutempati, setiap hari aku selalu datang ke rumah itu.
Setiap hari, kuputar murotal quran dari youtube maupun kubacakan sendiri setiap selesai sholat. Aku percaya, ayat-ayat Allah SWT mampu merukyah rumah.
Pohon sawo besar di depan rumah, selalu membuat takut orang yang lewat juga tetangga. Mereka kerap terkejut saat aku bilang jika rumah besar itu akan kutempati.

Rata-rata mereka bilang,
“Hati-hati mbak, di pohon sawo biasanya ada genderuwonya.”
Aku tak takut dan merawat rumah itu dengan baik. Dengan harapan, rumah itu akan lebih nyaman untuk ibadah. Aku percaya, segala sesuatu itu tergantung niat.

Pembersihan 1 :
“Assalamualaikum,” suamiku menguluk salam, sambil membuka pintu rumah besar itu.
Hawa dingin dan pengap terasa. Kami masuk dan segera menjelajah rumah untuk melihat mana saja yang harus kami perbaiki.
Di lantai 1, ruang disebelah dapur yang tadinya musholla, dijadikan gudang oleh pengontrak sebelumnya.

“Pa, jadikan tempat ini musholla lagi, nggak baik seperti ini.”
Suamiku paham.

BACA JUGA  Cara Mencuci dan Merawat Tenda yang Benar

Ada banyak pintu dan jendela di rumah itu, suamiku membukanya satu persatu.
Kami beranjak ke atas, hawa dingin dan seolah menekan semakin terasa. Di plafon atas, ada lubang angin, yang muat jika di masuki orang dewasa.
Kami saling berpandangan. Kulirik, tangan suamiku, merinding. Aku berusaha bersikap biasa. Meski kulihat seperti ada rambut keluar dari lubang itu perlahan-lahan.

“Pa, ikut mama, kita turun dulu yuk!” ucapku buru-buru.

Suamiku berjalan pelan, menuruni anak tangga, tepat di bawah lubang itu. Aku melihatnya dengan cemas. Awas saja sampai ganggu suamiku.
“Tutup saja lubang angin-angin di atas itu ma, nggak enak hawanya.” ucap suamiku. Meski tak bisa melihat, dia bisa merasakan.
“Alhamdulillah, mama mau bilang itu ke papa tadi.” jawabku.

Bergegas aku menyalakan youtube dan memperdengarkan ayat-ayat suci peruqyah rumah. Bunyi-bunyi benda jatuh atau suara gedebuk terdengar dari belakang saat ayat-ayat itu berkumandang.

Kami saling berpandangan, meski sedikit takut, aku dan suamiku cuek mengelap jendela dan mulai membersihkan rumah. Volume Hp kunaikkan.
“Besok kita bawa loudspeaker.” kata suamiku.

Sejak saat itu, setiap sudut rumah tak luput dari bunyi murotal. Suamiku meminta agar kami lebih sering sholat disitu. Itu sebabnya ruang pertama yang kami perbaiki adalah ruang sholat yang sebelumnya dijadikan gudang.

Beberapa kali, saat sholat, bulu kudukku meremang, seolah ada orang yang mengawasi di belakang. Wanita tua, anak-anak dan entah apalagi. Tak nyaman, sangat mengganggu.
Beberapa kali kusampaikan itu ke suamiku, tapi, selalu dia menjawab, jika itu hanya perasaanku saja.

Perihal aku yang selalu ‘apes’ melihat ‘mereka’, suamiku bukan orang yang mudah percaya begitu saja. Buatnya, logika dan hal yang lebih rasional patut di dahulukan ketimbang hal-hal yang tak masuk akal. Aku menyerah dan memilih untuk menguatkan mentalku. Caranya, kuputar murotal tepat disampingku, tiap kali aku sholat.

BACA JUGA  Merawat Sepatu di Musim Hujan

Suatu hari, suamiku libur kerja. Dia membantu mencat rumah agar segera beres. Jam 6, aku sampai rumah. Kulihat dia tengah terdiam di ruang tamu.

“Assalamualaikum, pa,”
“Waalaikumsalam,” dia menengok ke arahku dan memeluk.

Ada yang berbeda dari hawa rumah itu. Hawa dingin dan seolah menekan itu hilang. Hanya ada dingin yang kosong. Jadi lebih nyaman sih, tapi aneh. Karena beberapa waktu kemarin aku terbiasa dengan hawa menekan itu.

“Kenapa ma?” tanyanya saat melihatku tercenung sehabis mencium tangannya.
“Ng, nggak papa, hanya, seperti kosong gitu hawanya,” jawabku.

Dia menghela nafas, memelukku dan bercerita,
“Maaf papa nggak percaya mama, tadi ‘dia’ dibelakang papa pas papa sholat,”
“Papa kesal, karena kaget dan keganggu banget, jadi papa bacakan ayat kursi dan sholawat di garam kasar yang mama beli kapan hari, papa sebarkan ke semua sudut, pake setengah marah gitu.” Ucap suamiku lirih.

“Ya kan? papa nggak percayaan sih apa yang mama bilang, tapi nggak papa, enak gini bersih,”
Aku bergegas berjalan ke belakang, ke arah musholla dan dapur. Bersih. Hawanya nyaman sekali. Lalu aku beranjak ke tangga lantai 2. Tepat di anak tangga pertama, aku berbalik ke suamiku.

“Papa hanya tebar garam di lantai 1 ya?”
“Iya, habisnya tadi yang keliatan kan di lantai 1 aja, kok mama tahu?”

Kuurungkan langkahku menuju atas. Karena di atas, kulihat ‘banyak’ yang berkumpul disana.

BERSAMBUNG

Penulis: Pipit Ika