“Gi-gimana ceritanya bisa gitu pak?”
“Adik takut?”
“Ng, sedikit,”
“Ahahaha, kenapa takut?”
“Bekas orang mati pak,”
“Ahahaha, memangnya kenapa kalau bekas orang mati? Bukannya yang hidup itu lebih menakutkan? Kalo yang mati, ya udah mati aja, mereka menjalani kehidupan lain di alam kematian, kalopun ada makhluk yang menyamar menjadi salah satu dari orang yang sudah meninggal, anggap aja itu setan, pas menampakkan diri paling hanya diam dg fisik yang buruk. Kalau orang yang masih hidup, depan baik belakang buruk, kita sulit tau, ni orang sebenernya temen apa musuh sih, ya kan?”
“Ee, iya sih pak,”

Duh, ucapan si bapak bener juga. Tapi gimanapun ini serem banget, rasanya ada lebih dari 90 baju batik lengan panjang dan pendek yang tergantung di dinding itu.
Akhirnya aku paham, darimana udara dingin, cahaya lampu suram dan bau ‘harum’ ini berasal. Gila aja, aku bisa ada di dalam kantor yang berisi puluhan baju batik bekas kain penutup mayat!

“Darimana bapak dapat semua kain bekas penutup jenazah ini?” tanyaku lagi setelah berhasil menenangkan diri.

“Bapak dapatkan dengan minta, ada juga dengan membayar mahar, maksudnya, ketika ada kerabat atau tetangga yang meninggal, bapak sampaikan maksud bapak dengan baik. Berapa mahar yang mereka sebutkan, sedikitpun tak pernah saya tawar. Alhamdulillah, selama ini tidak pernah ada penolakan dari keluarga. Mungkin tergantung dari cara kita bicara dan penyampaian niat kita juga sih dek.” Pak Sena bicara panjang lebar dengan tenang.

“Mengapa jarik penutup mayat membuat bapak tertarik?” tanyaku kemudian.

“Mengapa tidak? Kematian juga sama indahnya dengan kehidupan. Beberapa orang, memiliki cara untuk melepaskan diri dari penatnya hidup adalah dengan berlibur, entah ke gunung atau pantai. Buat saya, memandang baju-baju batik ini adalah liburan saya, tempat saya melepaskan segala penat tentang hidup. Makna filosofis yang dalam dari penutup mayat membuat kita ingat, bahwa semua yang ada di dunia ini hanya sementara,” pandangan pak Sena tertambat pada sebuah baju batik yang coraknya cukup apik. Aku menduga, ada hal yang istimewa dari benda itu.

“Itu kain penutup jenazah ibu saya, jika rindu ibu, saya akan memakai baju batik dari jarik penutup jenazah beliau,”

Aku menelan ludah. Tapi tak berani berkata-kata. Muatan hikmah dalam kain penutup jenazah yang disampaikannya membuat mulutku rapat terkunci. Bahkan aku tak peduli bagaiman reaksi Hita mendengar setiap penjelasan pak Sena. Aku terpaku pada pikiranku sendiri.

Setelah beberapa saat, pak Sena memberi isyarat padaku untuk minum. Seolah beliau tak ingin mengusik diamku. Aku kembali tergeragap. Mengangguk kecil dan meminumnya. Kemudian kuedarkan pandanganku ke beberapa aksesoris yang terlihat sangat etnik.

“Ng, boleh saya melihat aksesorisnya? terlihat indah sekali pak,” ucapku sambil beranjak menuju ke lemari gantung tempat pernak pernik itu diletakkan. Aku meraih sebuah kalung yang terlihat begitu unik.

“Ambil saja dek,” jawabnya.

Kalung itu indah terbuat dari semacam kalung kulit. Bagian liontinnya sepertinya dari resin, ada benda bulat indah seperti kaca hitam legam dibagian tengahnya .
Kupegang liontinnya di telapak tangan, kubolak balik dan kusentuh liontin itu, kulihat lebih dekat dan kuamati.

“Ini indah sekali pak,” ujarku tanpa sadar.
“Indah ya?”
“Iya, cantik,”
“Iya, kalung itu buatan saya sendiri, liontinnya terbuat dari bola mata seorang gadis yang bunuh diri di rel kereta api dekat daerah saya, entah kenapa, bola matanya tersangkut di atas talang rumah. Tahunya setelah hujan, bola mata itu jatuh ke tanah saat saya sedang mau bersihkan talang,”

Aku terbelalak ngeri. Kalung indah itu setengah kulempar ke atas meja.
Ucapan pak Sena membuat kudukku meremang.
“Kenapa dek? Nggak papa kok. Bapak sudah pernah bertemu dengannya, bapak juga doakan, inshaa allah, sudah nggak papa,” imbuhnya.

Ya Tuhan! Ini orang sakit atau apa sih! Aku meringis, antara geli dan bergidik. Tiba-tiba udara terasa sangat pengap. Aku ingin segera mengakhiri reportase ini. Kulirik Hita, dia malah memegang kalung itu dan mengamatinya lebih detil

“Dikeringkan ya pak?”
“Iya, butuh hampir 1 bulan agar kering maksimal, saat menjemur saya jagain, biar gak diambil tikus atau kucing.”

What?! Ini obrolan macam apa! Kepalaku mulai pusing.
Selanjutnya Hita yang terus mengajukan pertanyaan.

“Adalagi dek yang kuping orang yang meninggal kecelakaan dekat rumah.” Pak Sena mengambil 1 lagi kalung resin dari gantungan. Aku mual.
Benakku mulai muncul hal-hal yang mengerikan. Obrolan mereka sampai ke penunggu keris dan lukisan mistis Semar yang sering berpindah posisi. Aku semakin pening.

Kuinjak kaki Hita. Aku sudah hampir menangis, ingin cepat-cepat keluar dari tempat itu. Orang ini sakit!
Hita paham. Dia mengangguk kecil dan memandangku. Setuju mengambil keputusan untuk pergi dari tempat itu secepatnya. Pak Sena nampaknya juga menyadari hal tersebut.

“Baiklah pak, sepertinya cukup sampai sini dulu reportasenya, terima kasih sekali atas waktu dan wejangannya,” ucap Hita dengan sopan.

“Nggak papa dek, kalau adik berdua mau sering-sering main kesini, bapak bisa tunjukkan koleksi bapak yang lain di rumah. Tapi bukan rumah yang saya tinggali dengan keluarga, saya ada rumah yang saya beli khusus untuk barang-barang koleksi saya,” tukasnya.

“Wah, keren nih, barang-barang unik apalagi pak?” tanya Hita, dia membiarkan aku mengemasi tas dan peralatan kami. Dia tahu aku sangat ketakutan.

“Peti Jenazah,”

Omg! Aku menahan diri agar suara terpekikku tak sampai keluar dan mereka dengar. Tak lagi kupedulikan sopan santun bertamu, aku ingin segera keluar dari sini!

“Baik pak, mungkin lain waktu kami akan mampir lagi, senang bertemu bapak,” Hita mengakhiri. Dari nada bicaranya, aku yakin dia sama terkejutnya denganku. Kami bersalaman, pak Sena memandangku dengan tatapan yang kali ini terasa sangat mengerikan.

Pak Sena mengantar kami sampai depan pintu ruangannya. Pandangan teduhnya tadi, di mataku berubah menjadi mengerikan. Kuturuni tangga besi dengan tergesa, badanku menyenggol tas Hita. Tidak ada candaan atau kata maaf yang kulontarkan. Baik aku dan Hita diam seribu bahasa.
Sampai di tempat parkir, kami bergegas menaiki motor dan berhenti di tukang es kelapa muda dipinggir sungai yang jaraknya sudah cukup jauh dari kantor itu.

Aku meminum sebotol air mineral, lalu diam, begitupun Hita. Setelah melegakan tenggorokan dengan segarnya air kelapa muda, Hita meminta sebotol besar air mineral pada penjualnya.
“Nih, cuci mukamu dulu pakai air ini,” ujarnya.
Kulihat wajahnya sudah basah, kusahut botol mineral itu dan menyiramkannya ke kepalaku.

“Huwah! Gila, tadi kita wawancara siapa Hit? Gila!” rutukku,
aku kembali bergidik mengingat kalung bola mata tadi. Orang macam apa yang sangggup melakukan hal gila seperti itu.

“Istighfar, aku juga kaget banget,” Hita duduk dan menutup wajahnya.
“Infonya, hanya seputar jarik. Aku sumpah penasaran pas Anto bilang kalau jarik itu dari 1000 kota. Nggak tahunya kota kematian.” Hita mendengus kesal.
“Kamu masih mau ngeliput dia lagi Hit?”
“Nggaklah, gila aja, terus kalo aku yang dibikin jadi kalung gimana?”
“Nggak bakal lah, paling kamu jadi penunggu petinya,” ujarku mencoba berkelakar untuk menghilangkan rasa takut.

Kemudian kami sama-sama terdiam. Tak habis pikir dengan pengalaman kami barusan. Pelan berhembus angin dan aku memikirkan tentang seorang gadis yang kehilangan matanya, mungkin Hita juga tengah memikirkan seseorang lelaki yang kehilangan telinganya. Ah, dasar gila, psikopat, desisku.

Penulis: Pipit Ika