Salam Jurnal Misteri,
Kalian pernah nggak sih punya kesukaan terhadap suatu barang? Aku yakin pernah, sama sepertiku. Dulu aku suka banget sama mainan kertas bergambar cewek dan baju-baju cantik. Kami menyebutnya bongkar pasang. Beberapa teman yang kukenal juga memiliki koleksi. Entah perangko atau benda-benda lucu dan unik. Menurutku semua benda yang dikoleksi itu menarik.

Nah, dari sekian banyak koleksi barang yang aku tahu, baru kali ini aku menjumpai orang dengan koleksi yang super aneh dan nggak biasa menurutku. Ap aitu? Simak ceritaku :

Liputan kali ini, entah yang ke berapa, aku dan Hita akan menemui seorang Kepala sebuah instansi yang cukup krusial di Kota S. Dari Hita aku mendengar tentang Pak Sena yang memiliki hobi koleksi benda yang cukup unik. Baik Hita maupun narasumber yang memberitahunya tidak memberikan informasi jelas benda apa yang Pak Sena koleksi.

Tak sabar rasanya ingin segera sampai dan melihat benda koleksi tersebut. Dari cara Hita mengajak yang sangat antusias, aku menebak ini pasti sangat menarik.

“Hit, apa sih koleksi Pak Sena ini?”
“Tar juga kamu tahu,”
“Kasih clue lah,”
“Nggak ah, nggak seru, biar kamu makin penasaran,”

Aku merengut, dasar pelit.

Sampailah kami di sebuah kantor yang asri wilayah utara. Beberapa orang nampak berlalu lalang. Hita menghampiri meja resepsionis dan menunggu. Tak lami kami diarahkan untuk naik oleh seorang karyawan yang menyertai kami untuk menemui pak Sena. Kantor beliau terletak dilantai 2. Bangunan semi permanen yang cukup kuat terbuat dari container dan tangga besi yang kokoh sebagai tempat pijakannya. Sebagian besar kantor ini berbahan besi. Aku berpikir pasti panas sekali disini jika tidak ada AC.

Pak Sena menyambut kami dengan ramah. Orang yang sabar dan sopan, itu kesan pertama yang kusimpulkan. Karyawan tadi berlalu dengan sangat takdzim dihadapannya. Aku menerka, ini karena wibawanya.

Masuk ke dalam kantornya, perasaan sejuk dan nyaman terasa. Ada pemandangan tak biasa yang kutangkap. Baju batik beraneka corak digantung dengan sangat rapi memutari hampir seluruh dinding ruangannya. Inikah koleksinya? Baju batik? Biasa banget. Tapi, lumayan banyak sih. Begitu pikirku saat itu. Namun, sebagai orang yang suka mengkoleksi, aku heran, mengapa dia tak meletakkan baju-baju itu dalam lemari? Bukankah udara yang lembab akan membuat baju cepat rusak.

Kulihat juga beberapa kayu yang berbeda jenis, tersandar rapi di sudut-sudut ruangan. Beberapa ada yang diletakkan di meja. Ada juga benda-benda aneh seperti batu, kalung, perhiasan perunggu, dan lain-lainnya. Wangi parfum yang cukup mengusik menyeruak, rasanya pernah mencium aroma ini, dimana ya? Ok, aku mulai merasakan sedikit klenik disini. Ditambah beberapa lukisan Semar yang diletakkan secara khusus di dinding teratas, membuat suasana semakin mistis. Rasa dingin semakin terasa ketika kami duduk di ruangan itu. Aku memandang ke atas, mencari dimana letak AC-nya, tapi tak kutemukan. Heran juga darimana udara dingin ini berasal, apalagi setahuku kantor ini terbuat dari container besi. Lampu cukup terang di tengah ruangan, tapi entah mengapa kurasakan sedikit suram.

“Nggak susah kan mencari kantor ini?”
Ucapan pak Sena membuyarkan lamunanku.

“Eh, enggak pak, saya biasa ke daerah ini kok,” ucapku tergeragap.
Pak Sena tersenyum, sepertinya mafhum dengan sikapku barusan.

“Dony dah ngabarin bapak, katanya adik berdua mau wawancara seputar koleksi bapak, betul?”
“Betul pak, kemarin Dony….”
Hita menjawab pertanyaan pak Sena dan menjelaskan maksud kedatangan kami. Setelahnya, aku tak menghiraukan kalimat Hita lagi.
Kupuaskan diri mengedarkan pandangan ke seisi ruangan itu.

“Adik pasti heran ya liat suasana kantor bapak?” tanya pak Sena tiba-tiba.
Aku sedikit terkejut, kemudian mengangguk pelan dan tersenyum kikuk.

“Maaf pak, habisnya saya jarang lihat yang seperti ini, eh, tapi koleksi baju batik bapak bagus-bagus,”
ujarku mengalihkan rasa malu karena ketahuan keheranan dengan kondisi kantornya.

“Iya, saya memang suka dengan batik, melestarikan budaya nenek moyang kita sekaligus menambah rasa nasionalisme, ya kan dek Hita?”

“Betul pak, sepakat,” ucap Hita sambal menganggukan kepala dengan hormat. Kulihat dia lebih banyak diam. Padahal tadi antusias sekali saat perjalanan kesini.

“Okey, silahkan kalau mau tanya-tanya seputar hobi bapak,”

Aku menyiapkan recorder, dan pasang telinga baik-baik. Jantungku berdegup sedikit lebih cepat. Ada yang ‘spesial’ di diri pak Sena. Dan aku ingin mengetahu lebih banyak.

“Bisa ceritakan awal mula suka pada batik pak?” ucapku mengawali reportase.
Hita sudah siap dengan kameranya.
“Eng, mohon maaf, boleh saya ambil beberapa foto ruangan ini pak?” ijin Hita sebelum pak Sena menjawab pertanyaanku.

“Nggak apa-apa mas, silahkan, ambil sepuasnya, kan gak bayar ini,” ucap pak Sena berseloroh.
Kami bertiga tertawa mendengar gurauan itu.

“Baik, lanjut ke pertanyaan tadi ya dek, jadi, awal mula kecintaan saya pada batik itu sudah sejak masih remaja. Batik dengan jenis apa saja saya suka. Tapi semakin mencintai batik itu justru ketika saya menyadari sesuatu.”
“Apa itu pak?” tanya Hita menyela.
“Bahwa batik atau jarik ternyata juga digunakan untuk menutup jenazah yang disemayamkan, sebelum dikebumikan, iyakan?”
“Iya juga ya,” gumamku
“Nah, kenapa bisa gitu?” tanya pak Sena sambil tersenyum.

Aku melihat ke arah Hita yang sepertinya tengah berpikir.

“Iya, ya, kenapa ya?” ujar Hita sambal cengar cengir. Aku ikut tersenyum kecut, ketahuan kami gak care sama salah satu warisan leluhur nih.

“Coba adek perhatikan, dalam budaya Jawa, kelahiran, pernikahan, kehamilan, bahkan kematian, jarik ini tak lepas dari setiap upacaranya. Sesederhana apapun bentuk upacara tersebut. Coba diingat-ingat,”

Kupikir benar juga, ketika melahirkan adikku dulu, nenek membawa beberapa jarik yang turun temurun diwariskan dari nenek buyutku dan dimasukkan dalam tas. Katanya untuk alas tidur dan alas untuk melahirkan nanti. Bahan jarik yang adem katanya bisa menyamankan seorang ibu dan bayi. Ketika si bayi lahir, ada jarik yang disebut gendongan, meski banyak rupa kain untuk menggendong yang lebih modern, beberapa orang masih mempertahankan gendongan jarik. Selain kuat, bayi juga merasa lebih nyaman, begitu kata mereka.
“Saya sangat mensyukuri hidup, baik kelahiran maupun kematian, ada masa depan pada sebuah kelahiran, namun pada kematian, bapak melihat ‘masa depan’ yang sesungguhnya, hehehe, iya kan dek?”
Pak Sena menyalakan sebatang rokok.
Setelah menghembuskan asap hisapan pertamanya, dia mulai bicara lagi,

“Masa depan kita adalah ruangan dalam tanah ukuran 1×2, nggak besar, cukup segitu. Tanpa lampu, Kasur juga dari batang pohon pisang dan tanpa uang, itu masa depan kita. Baju yang dibawapun hanya selembar kain putih yang sebentar juga akan kumal, itulah masa depan bapak dan tiap-tiap makhluk bernyawa lainnya,”

Aku menelan ludah, entah mengapa tenggorokanku terasa tercekat dan kering.
“Minum dulu dek,” ucap pak Sena mengagetkanku.
Duh, ketahuan lagi. Orang ini serem juga, begitu pikirku.

“Makasih pak,”
kuminum segelas air kemasan yang disiapkan karyawannya tadi. Hita ikut minum, mungkin dia juga merasakan yang sama sepertiku.

“Lanjut ya?” tanyanya. Aku mengangguk.
“Itu sebabnya saya mengumpulkan banyak kain jarik ini. Jika adek mengerti, kain-kain ini memiliki corak khas, meski ada juga yang coraknya beda, namun setiap baju batik yang saya buat dari jarik ini memiliki kesamaan yaitu, sama-sama pernah digunakan untuk menutupi jenazah sebelum dimakamkan.”

Sampai disitu, jantungku seolah berhenti berdetak, kulirik Hita yang berkeringat dingin.
“Ng, maaf, jadi, i-ini semua berasal dari bekas penutup mayat pak?” tanyaku lagi, memperjelas pemahamanku.
“Iya,”
What?! Ini orang ngeri banget! Jeritku dalam hati.
Hita spontan tersedak saat mendengar jawaban pak Sena.
Aku menghela nafas, saat dia terbatuk-batuk dan meredakannya dengan minum beberapa gelas air.

 

To be continued

Penulis: Pipit Ika