Saat itu, bertempat di rumahku yang sempat kosong beberapa bulan karena tidak lagi dikontrakkan, kami mendirikan sebuah kantor kecil yang cukup nyaman. Beberapa teman patungan mendirikan sebuah CV yang bergerak di penyediaan computer untuk instansi pemerintah daerah setempat. Kami hanya sekelompok anak muda yang ingin mandiri dan membiayai kuliah dengan uang sendiri saat itu.

Orangtuaku tinggal disebelah kantor tersebut, berbeda halaman dan pagar.
Yang ku tahu, 3 dari 5 orang team kami itu adalah lulusan pondokan yang cukup terkenal di daerah Lawang dan Madura. Ke-bisa-an mereka bertiga dalam hal gaib kadang bikin aku kesal.

Hari itu kamis malam jum’at. Kami sedang benar-benar penat karena baru menyelesaikan pesanan untuk dinas pemerintah. Sambil istirahat, sebut saja Yus, tiba-tiba nyelutuk,

“Eh, mau nggak bikin sesuatu yang seru?”
“Apa tuh?” Tanya Agus.

Agus ini adalah salah satu team kami yang bukan lulusan pondokan, dia sangat awam dengan hal-hal gaib dan semacamnya.

“Kamu udah pernah ketemu jin belom?” Yus balik tanya.
“Belom, emang bisa?”
“Bisa, mau?”
“Mau aja sih, eh, bentar-bentar, gimana caranya?”
“Ya dipanggil,” ujar Yus enteng
“Kalau dia marah gimana?” Agus
“Kita kan makhluk yang lebih mulia dari dia, ya kalo marah kita lawanlah,”

Dalam hati aku bilang, duh sombong amat sih.
Fendi yang masih saudara Yus ikut komen,
“Nanti bisa kita pagerin dulu mas Agus, jadi mas Agus nggak usah takut kalo dia marah,”
“Dipagerin itu buat apa?”
“Ya buat proteksi lah, biar dia gak bisa ngerasuk ke sampean,”
“Waduh, menakutkan gitu Fen,” seru Agus, tapi wajahnya keliatan kalau penasaran banget.
Mereka tertawa, aku yang mendengarnya, jadi pengen ikutan,

“Aku mau dong,” celutukku
“Serius?” Tanya Agus
Melihatku yang antusias, Agus jadi rada malu, maksud hati sebenarnya dia ogah diajak mainan hal-hal seperti itu, tapi tengsin lah, masa kalah sama cewe?

“Ayo wes! Kapan lagi aku bisa ketemu jin,” ujarnya.
“Aku juga mau!” seruku.
Yus mendekat ke arahku, kemudian dia berkata,
“Bener ya? Jangan takut nanti kalau mereka menampakkan diri,”
“Kok mereka?”
“Iya, kita mau manggil yang banyak sekalian,”

Aku mikir, waduh, berani nggak ya aku?
“Gimana sih muka jin itu?” tanyaku lagi.

“Macem-macemlah, ada yang rusak, ada yang jelek, adalagi yang nggak ada mukanya,”
“Asem! Nggaklah! Nggak jadi!,” aku menyingkir segera dari mereka, habis denger kalau ada yang nggak ada wajahnya, aku jadi jiper juga.

“Ika! Kita manggilnya dirumah mama kamu ya!” teriak Yus. Aku mengiyakan sambil bergegas pulang, aku ambil dulu barang-barang yang sekiranya aku butuhin, biar nggak perlu datang pas mereka lagi main manggil jin. Ada-ada aja sih mereka, rutukku.
Orangtuaku memang tengah pergi dan baru besok kembali. Aku menginap dikantor.

Keesokan harinya, Agus cerita dengan antusias,
“Ya Allah, aku denger, dari arah ventilasi itu ada suara, gareng teko, gareng teko! Jiangkrik, tak pikir suoro e Yus e, tapi kok kayak suara orang banyak, ternyata itu pasukannya,” celotehnya dengan bahasa jawa yang kental.
Yus, Fendi dan Ega senyam senyum aja mendengarnya.

“Emang kamu dipagerin gimana mas Agus?” tanyaku penasaran.
“Dilingkari gitu Ka, tapi aku liat Feri kecekik, terus dibubarin sama Yus,”
“Terus ilang gitu?”
“Iya?”
“Hmm, biasanya kalau ada gareng, bagong, petruk, semar juga ada loh (punokawan),” ucapku asal.
“Loh ada loh! Tapi wes gak kuat anak-anak, ya aku buyarin aja,” ucap Yus.
Diantara mereka bertiga, memang Yus yang sepertinya lebih pengalaman dalm hal beginian. Aku cuek mendengarnya, gak penting banget, pikirku.

Malam itu sudah menunjukkan pukul 10 malam,
“Aku pulang dululah, mau nonton film,” pamitku.
Aku masuk ke rumah sebelah, mama tertidur di karpet depan TV dengan kepala diatas guling.
Aku duduk dan mulai menonton film favorit. Hari itu hari Jum’at dan film yang kutonton adalah film drama yg lumayan lucu, judulnya sex and The City (film jadul, kali aja ada yang inget ).

Dari ekor mata, aku menangkap seperti sesuatu serupa kepulan asap yang membentuk ekor gaun masuk ke arah pintu yang menghubungkan ruang tamu dan kamar, pintu ini terletak tepat disebelah meja TV.
Aku cuek. Ketawa lagi gara-gara dialog pemain yang lucu, dari ekor mataku, aku menangkap lagi sesuatu serupa itu, kali ini ke arah luar, ke ruang tamu, tempat dimana aku nonton TV.
Aku masih cuek. Saat aku ingin merebahkan tubuhku disamping mama, sambil nonton TV, aku tata guling kemudian berbalik, dan, aku melihatnya…

Perempuan berambut panjang, bergaun putih dengan wajah menunduk, rambut panjangnya menutupi tangannya yang memegang lutut, duduk pas disamping mama, jaraknya kurang dari 1 meter dari tempatku duduk, astaghfirullahal’adzim!

Jujur saja, boro-boro ayat kursi, yang ada aku teriak,
“Aaaaaaaaargh!!!!!”
buru-buru kubuka pintu kamar dan melesat menuju samping rumah, tempat dimana teman-temanku masih ketawa-ketawa.

“Ya Allah, nggak mau! Nggak mau!” teriakku.
Melihatku seperti itu Yus dan Fendi segera tanggap.
“Yus, ada Kunti ini ngikutin ika!”
“Waduh, iya e,” Yus berkata seperti itu sambil merapal doa dan meniupkannya di ubun-ubunku.

Fendi meminumkan air putih yang telah dibacakan doa, berangsur-angsur aku pulih dari rasa takut. Lamat-lamat kudengar ia berbisik pada Yus,
“kayaknya kita kurang bersih ini ritual pembersihannya,”
Langsung saja aku meradang,
“Heh! Apa-apaan kalian ya! Sudah tahu kyk gituan, dibuat mainan! Dasar! Nggak mau tahu, bersihin ulang, sekarang juga, gak mau tahu!” jeritku ke mereka.

Sambil meminta maaf, mereka mengiyakan permintaanku. Aku terus saja ngamuk dan nyerocos. Gerutuanku terhenti saat Mama mendatangi kami,

“Ka, kok pintu rumahnya kamu biarin kebuka lebar sih, mama digigitin nyamuk loh,”

Aku memandang beliau dengan iba, O my God, dasar anak durhaka, aku cari selamat sendiri, lupa kalau mama ada disitu, mana ayah belom datang.

“Ya allah, maaf ma, iya, tadi buru-buru,” ku jawab seperti itu. Nggak mungkin kan aku ngaku kalau mama kutinggal gara-gara aku liat hantu.

“Ayo pulang, sudah malam ini loh kok masih bercanda aja,” mama berbalik ke arah pulang.
Aku mengikuti beliau sambil mendelik ke mereka yang kasih tanda ampun dan mengikuti kami ke rumah.

“Loh, kok malah kesini semua?” tanya mama
“Iya, mereka mau jagain kita sampai ayah datang ma,” ucapku.

Dan mama percaya, beliau masuk ke kamar, ku ikuti dan kubaca doa sebisaku, mereka?
kupastikan ngebersihin rumah itu dari hawa-hawa negatif yang mereka undang.
Aku ancam mereka nggak bakalan dapat makan pagi besok kalau belom ‘bersih’.

Pesan moral dari cerita remeh ini, jangan mainan hal-hal gaib seenaknya, Ini masih mending cuma menampakkan diri, kalo sampe ngerasukin? Hufhh, nggak tau lagi.
Dan penampakan si ‘mbak’ itu adalah penampakan super jelas yang pernah terjadi selama hidupku.

Penulis: Pipit Ika