<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
            xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
            xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
            xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
            xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
            xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"><channel>
                <title>jelajahnusantara.co - Mahakarya Nusantara</title>
                <atom:link href="https://jelajahnusantara.co/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
                <link>https://jelajahnusantara.co/</link>
                <description></description>
                <lastBuildDate>Fri, 03 Jul 2026 07:55:00 +0700</lastBuildDate>
                <language>id-ID</language>
                <generator>https://jelajahnusantara.co/</generator>
                <image>
                    <url>https://jelajahnusantara.co/po-content/uploads/logo/icon-jelajah-nusantara.png</url>
                    <title>jelajahnusantara.co - Mahakarya Nusantara</title>
                    <link>https://jelajahnusantara.co/</link>
                </image><item>
                    <title><![CDATA[Mitos Orang Blora Dilarang Mendaki Gunung Lawu: Jejak Sumpah Prabu Brawijaya V yang Masih Dipercaya Hingga Kini]]></title>
                    <link>https://jelajahnusantara.co/news-7734-mitos-orang-blora-dilarang-mendaki-gunung-lawu-jejak-sumpah-prabu-brawijaya-v-yang-masih-dipercaya-hingga-kini</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jelajahnusantara.co/news-7734-mitos-orang-blora-dilarang-mendaki-gunung-lawu-jejak-sumpah-prabu-brawijaya-v-yang-masih-dipercaya-hingga-kini</guid>
                    <pubDate>Fri, 03 Jul 2026 07:55:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[JELAJAH NUSANTARA - Gunung Lawu bukan sekadar gunung setinggi 3.265 meter di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bagi masyarakat Jawa, Lawu adalah gunung]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>JELAJAH NUSANTARA</strong> - Gunung Lawu bukan sekadar gunung setinggi 3.265 meter di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bagi masyarakat Jawa, Lawu adalah gunung yang diselimuti sejarah, spiritualitas, dan berbagai legenda yang bertahan selama berabad-abad. Di antara sekian banyak cerita yang berkembang, salah satu yang paling menarik adalah mitos bahwa masyarakat Blora, terutama dari wilayah Cepu, tidak diperbolehkan mendaki Gunung Lawu.</p>
<p>Hingga kini, kepercayaan tersebut masih sering diperbincangkan. Sebagian warga masih memegang teguh pantangan itu, sementara sebagian lainnya menganggapnya hanya sebagai cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun. Namun, siapa pun yang sering mendaki Lawu hampir pasti pernah mendengar kisah tersebut.</p>
<p><strong>Berawal dari Runtuhnya Majapahit</strong></p>
<p>Cerita ini dipercaya bermula pada akhir abad ke-15, ketika Kerajaan Majapahit berada di ambang keruntuhan. Setelah kekuasaannya melemah akibat konflik internal dan berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di pesisir utara Jawa, Prabu Brawijaya V dikisahkan meninggalkan ibu kota kerajaan.</p>
<p>Dalam berbagai versi babad dan cerita rakyat, sang raja memilih mengasingkan diri menuju Gunung Lawu. Gunung ini dipercaya sebagai tempat bertapa terakhir sebelum beliau mencapai moksa atau menghilang dari kehidupan dunia.</p>
<p>Perjalanan menuju Lawu tidak berlangsung mudah. Dalam legenda, Prabu Brawijaya V dikejar oleh pasukan yang dipimpin Adipati Cepu. Sang adipati mendapat tugas menangkap atau membawa kembali raja terakhir Majapahit tersebut.</p>
<p>Pengejaran berlangsung melewati hutan-hutan lebat, sungai, hingga lereng-lereng pegunungan. Namun semakin dekat dengan Lawu, perjalanan pasukan menjadi semakin sulit. Kabut tebal turun tanpa diduga, jalur berubah-ubah, dan para prajurit kehilangan arah.</p>
<p>Masyarakat percaya bahwa kawasan Gunung Lawu telah dijaga oleh kekuatan gaib yang melindungi sang raja.</p>
<p><strong>Sumpah yang Menjadi Pantangan</strong></p>
<p>Sesaat sebelum mencapai puncak dan menghilang dari dunia, Prabu Brawijaya V dipercaya mengucapkan sumpah kepada Adipati Cepu beserta keturunannya.</p>
<p>Dalam beberapa versi cerita lisan, isi sumpah itu bermakna bahwa keturunan Adipati Cepu tidak diperkenankan menginjakkan kaki di Gunung Lawu. Apabila melanggar, mereka diyakini akan mengalami kesialan, tersesat, sakit, bahkan kehilangan nyawa.</p>
<p>Karena Cepu kini menjadi bagian dari Kabupaten Blora, legenda tersebut kemudian berkembang menjadi pantangan bagi masyarakat Blora secara umum. Di beberapa daerah, bahkan masyarakat Bojonegoro juga disebut ikut terkena pantangan karena memiliki keterkaitan sejarah dengan wilayah Cepu pada masa lampau.</p>
<p>Meski isi sumpah berbeda-beda di setiap daerah, inti ceritanya tetap sama: ada larangan turun-temurun bagi keturunan Adipati Cepu untuk mendaki Lawu.</p>
<p><strong>Turun-temurun Menjadi Nasihat Orang Tua</strong></p>
<p>Bagi masyarakat Cepu dan beberapa desa di Blora, cerita itu bukan sekadar dongeng pengantar tidur.</p>
<p>Banyak orang tua yang sejak dahulu menasihati anak-anaknya agar tidak mendaki Gunung Lawu. Bahkan ada keluarga yang benar-benar melarang anggota keluarganya mengikuti pendakian ke Lawu.</p>
<p>Sebagian memilih menghormati pantangan tersebut tanpa mempertanyakan alasannya.</p>
<p>Mereka percaya bahwa menghormati pesan leluhur jauh lebih baik daripada mengambil risiko yang tidak diketahui akibatnya.</p>
<p>Di kalangan pendaki asal Blora sendiri, tidak sedikit yang mengaku baru mengetahui mitos tersebut setelah dewasa. Ada yang akhirnya membatalkan niat mendaki, tetapi ada pula yang tetap berangkat dengan keyakinan bahwa keselamatan ditentukan oleh Tuhan serta persiapan yang matang.</p>
<p><strong>Cerita-cerita yang Menguatkan Mitos</strong></p>
<p>Seiring berjalannya waktu, muncul berbagai kisah yang dianggap memperkuat legenda tersebut.</p>
<p>Ada cerita tentang pendaki asal Cepu yang tiba-tiba jatuh sakit ketika mendaki. Ada pula yang dikabarkan tersesat padahal jalur pendakian cukup jelas.</p>
<p>Sebagian lagi mengaku mendengar suara gamelan, melihat sosok berpakaian kerajaan, atau mengalami kebingungan arah ketika kabut turun.</p>
<p>Namun, kisah-kisah tersebut sulit diverifikasi karena sebagian besar hanya berasal dari cerita lisan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.</p>
<p>Di sisi lain, pengalaman-pengalaman mistis juga dialami pendaki dari berbagai daerah, sehingga tidak dapat dijadikan bukti bahwa pantangan tersebut benar-benar berlaku khusus bagi warga Blora.</p>
<p><strong>Lawu, Gunung yang Sarat Nuansa Spiritual</strong></p>
<p>Terlepas dari benar atau tidaknya mitos itu, Gunung Lawu memang memiliki posisi istimewa dalam budaya Jawa.</p>
<p>Di lereng gunung terdapat sejumlah situs bersejarah seperti Candi Sukuh dan Candi Cetho yang berasal dari akhir masa Majapahit. Di jalur pendakian juga terdapat Sendang Drajat, Sendang Panguripan, hingga Pasar Dieng, lokasi yang dipercaya memiliki nilai spiritual oleh sebagian masyarakat.</p>
<p>Di dekat puncak berdiri Hargo Dalem, tempat yang diyakini sebagai lokasi pertapaan Prabu Brawijaya V. Tidak jauh dari sana terdapat warung legendaris Mbok Yem yang selama puluhan tahun menjadi tempat singgah para pendaki.</p>
<p>Kombinasi sejarah, budaya, dan spiritualitas inilah yang membuat Lawu memiliki aura berbeda dibanding gunung-gunung lain di Pulau Jawa.</p>
<p><strong>Pandangan Saat Ini</strong></p>
<p>Pengelola jalur pendakian maupun para pegiat alam bebas umumnya memandang cerita tersebut sebagai bagian dari warisan budaya yang patut dihormati.</p>
<p>Hingga kini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa masyarakat Blora tidak dapat mendaki Gunung Lawu. Faktanya, banyak pendaki asal Blora maupun Cepu yang berhasil mencapai Puncak Hargo Dumilah dan kembali dengan selamat.</p>
<p>Menurut para pendaki berpengalaman, risiko di Gunung Lawu lebih banyak dipengaruhi kondisi cuaca yang cepat berubah, suhu dingin ekstrem, kabut tebal, serta kesiapan fisik dan perlengkapan pendakian.</p>
<p>Karena itu, mereka mengingatkan agar setiap pendaki lebih mengutamakan keselamatan dibanding memperdebatkan benar atau tidaknya sebuah mitos.</p>
<p><strong>Warisan Folklor yang Tetap Hidup</strong></p>
<p>Boleh percaya, boleh juga tidak. Itulah posisi legenda orang Blora dilarang mendaki Gunung Lawu saat ini.</p>
<p>Bagi sebagian masyarakat, kisah tersebut merupakan bagian dari sejarah yang sarat pesan moral: manusia harus menghormati alam, menjaga sopan santun di tempat yang dianggap suci, serta tidak berlaku sombong di hadapan kekuatan yang lebih besar.</p>
<p>Sementara bagi kalangan sejarawan, cerita ini lebih tepat dipandang sebagai folklor Jawa yang lahir dari perpaduan sejarah runtuhnya Majapahit dengan kepercayaan masyarakat lokal.</p>
<p>Apa pun sudut pandangnya, legenda itu telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Gunung Lawu. Selama gunung tersebut berdiri menjulang di antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, kisah tentang sumpah Prabu Brawijaya V kepada Adipati Cepu tampaknya akan terus hidup, diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya, menjadi salah satu legenda paling terkenal di tanah Jawa.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jelajahnusantara.co/po-content/uploads/202607/1001951062.png" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Mitos Orang Blora Dilarang Mendaki Gunung Lawu: Jejak Sumpah Prabu Brawijaya V yang Masih Dipercaya Hingga Kini]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Mitos]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[TANA TORAJA 1 : Mengungkap Keunikan Tana Toraja, Dari Tongkonan hingga Ritual Rambu Solo&#039;]]></title>
                    <link>https://jelajahnusantara.co/news-7733-tana-toraja-1-mengungkap-keunikan-tana-toraja-dari-tongkonan-hingga-ritual-rambu-solo</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jelajahnusantara.co/news-7733-tana-toraja-1-mengungkap-keunikan-tana-toraja-dari-tongkonan-hingga-ritual-rambu-solo</guid>
                    <pubDate>Sun, 28 Jun 2026 20:27:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[JELAJAH NUSANTARA - Kabut pagi belum sepenuhnya terangkat ketika deretan rumah Tongkonan mulai terlihat di lereng perbukitan Tana Toraja, Sulawesi Selatan.]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>JELAJAH NUSANTARA</strong> - Kabut pagi belum sepenuhnya terangkat ketika deretan rumah Tongkonan mulai terlihat di lereng perbukitan Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Atapnya yang melengkung menyerupai perahu tampak menjulang di antara hamparan sawah bertingkat dan hutan hijau yang membentang hingga kaki langit. Udara yang sejuk berpadu dengan aroma tanah basah menghadirkan kesan damai bagi siapa pun yang datang.</p>
<p>Di tempat yang dijuluki "Negeri di Atas Awan" ini, waktu seolah berjalan lebih lambat. Alam, budaya, dan kepercayaan menyatu dalam kehidupan masyarakatnya. Tidak mengherankan jika Tana Toraja menjadi salah satu destinasi budaya paling unik di Indonesia, bahkan dunia.</p>
<p>Namun, pesona Toraja bukan hanya soal panorama pegunungan atau rumah adat Tongkonan yang ikonik. Daya tarik utamanya justru terletak pada cara masyarakat memandang kehidupan dan kematian.</p>
<p><strong>Kematian Bukanlah Akhir</strong></p>
<p>Di banyak tempat, kematian identik dengan kesedihan. Di Toraja, kematian justru menjadi momentum berkumpulnya keluarga besar sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada orang yang telah berpulang.</p>
<p>Tradisi itu dikenal dengan Rambu Solo', sebuah upacara adat pemakaman yang bisa berlangsung berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.</p>
<p>Bagi masyarakat Toraja, seseorang yang meninggal belum sepenuhnya dianggap pergi sebelum prosesi adat dilaksanakan. Selama menunggu upacara, jenazah biasanya disemayamkan di rumah keluarga dan diperlakukan layaknya orang yang sedang sakit.</p>
<p>Prosesi Rambu Solo' melibatkan ratusan bahkan ribuan orang. Kerbau menjadi bagian penting dalam ritual tersebut. Semakin tinggi kedudukan sosial seseorang, semakin banyak kerbau yang dikorbankan sebagai simbol penghormatan.</p>
<p>Di tengah prosesi, peti jenazah kemudian diarak menuju tempat pemakaman menggunakan tandu besar yang dipikul bersama-sama. Sorak-sorai para pengusung justru menambah semarak suasana. Tidak ada tangisan yang berlebihan. Yang tampak adalah penghormatan terakhir yang dilakukan dengan penuh kebersamaan.</p>
<p><strong>Rumah yang Menyatukan Generasi</strong></p>
<p>Tak jauh dari lokasi upacara, berdiri rumah-rumah Tongkonan yang menjadi identitas masyarakat Toraja.</p>
<p>Bangunan ini bukan sekadar tempat tinggal.</p>
<p>Tongkonan adalah simbol persatuan keluarga besar. Di sinilah berbagai keputusan adat diambil, silsilah keluarga dijaga, dan nilai-nilai leluhur diwariskan kepada generasi berikutnya.</p>
<p>Setiap ukiran pada dinding rumah memiliki makna. Warna merah melambangkan kehidupan, hitam melambangkan kematian, putih berarti kesucian, sedangkan kuning menjadi simbol anugerah dan kemakmuran.</p>
<p>Keunikan arsitektur Tongkonan membuatnya menjadi salah satu ikon budaya Indonesia yang dikenal dunia.</p>
<p><strong>Jejak Leluhur di Tebing Batu</strong></p>
<p>Perjalanan ke Toraja belum lengkap tanpa mengunjungi kawasan wisata budaya Londa dan Kete Kesu.</p>
<p>Di Londa, peti-peti jenazah ditempatkan di dalam gua batu kapur yang telah digunakan selama ratusan tahun. Tengkorak dan tulang-belulang tersusun rapi sebagai pengingat bahwa kehidupan memiliki akhir.</p>
<p>Sementara itu, Kete Kesu menghadirkan pemandangan deretan Tongkonan tua yang berdiri berdampingan dengan makam batu di tebing. Kompleks adat ini menjadi salah satu kawasan paling banyak dikunjungi wisatawan karena masih mempertahankan bentuk aslinya.</p>
<p>Di tempat inilah sejarah Toraja masih hidup.</p>
<p>Alam yang Menenangkan</p>
<p>Di balik kuatnya tradisi adat, Tana Toraja juga menawarkan bentang alam yang memikat.</p>
<p>Sawah bertingkat menghijau mengikuti kontur perbukitan. Kabut tipis turun hampir setiap pagi. Matahari perlahan muncul dari balik pegunungan, memantulkan cahaya keemasan yang membuat seluruh lembah terlihat begitu dramatis.</p>
<p>Tidak sedikit fotografer dari berbagai negara datang hanya untuk mengabadikan momen matahari terbit di Toraja.</p>
<p>Suasana tenang itu membuat banyak wisatawan memilih tinggal lebih lama untuk menikmati kehidupan masyarakat setempat.</p>
<p><strong>Menjaga Warisan Dunia</strong></p>
<p>Budayawan Toraja Y.A. Sarira mengatakan kekuatan terbesar Toraja bukan hanya terletak pada tradisi yang masih bertahan, tetapi juga pada nilai gotong royong yang terus dijaga masyarakat.</p>
<p>"Tongkonan bukan sekadar rumah adat. Ia adalah pusat kehidupan keluarga dan identitas masyarakat Toraja. Di sanalah nilai-nilai budaya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya," ujarnya.</p>
<p>Sementara itu, antropolog dari Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Nurhayati Rahman, menilai Toraja merupakan salah satu contoh masyarakat adat yang berhasil mempertahankan warisan budayanya di tengah arus modernisasi.</p>
<p>Menurutnya, tradisi seperti Rambu Solo' tidak bisa dipandang hanya sebagai atraksi wisata.</p>
<p>"Bagi masyarakat Toraja, ritual tersebut adalah bagian dari sistem sosial, kepercayaan, dan penghormatan terhadap leluhur. Wisatawan perlu memahami nilai budayanya, bukan hanya menyaksikan prosesi seremonialnya," katanya.</p>
<p>Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tana Toraja juga menegaskan bahwa pemerintah terus mendorong pengembangan pariwisata berbasis budaya tanpa menghilangkan nilai-nilai adat yang telah diwariskan selama ratusan tahun.</p>
<p>Menurutnya, pelestarian budaya hanya dapat berjalan apabila masyarakat adat tetap menjadi pelaku utama dalam setiap kegiatan budaya.</p>
<p><strong>Lebih dari Sekadar Destinasi</strong></p>
<p>Di Tana Toraja, wisata bukan hanya soal mengunjungi tempat-tempat indah.</p>
<p>Setiap langkah membawa kisah.</p>
<p>Setiap ukiran menyimpan filosofi.</p>
<p>Setiap rumah adat menyimpan sejarah sebuah keluarga.</p>
<p>Dan setiap prosesi adat mengajarkan bahwa kematian bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari siklus kehidupan yang harus dihormati.</p>
<p>Saat kabut kembali turun menutupi lembah dan matahari perlahan tenggelam di balik pegunungan, Tana Toraja seolah berbisik bahwa warisan budaya bukan sekadar untuk dikenang, melainkan untuk terus dirawat.</p>
<p>Di negeri di atas awan ini, masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup di setiap Tongkonan, di setiap doa yang dipanjatkan, dan di hati masyarakat yang setia menjaga warisan leluhurnya agar tetap abadi.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jelajahnusantara.co/po-content/uploads/202606/1003937195.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Toraja]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Feature]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Misteri Benteng Kedung Cowek, Tempat Paling Angker di Surabaya yang Menyimpan Jejak Perang]]></title>
                    <link>https://jelajahnusantara.co/news-7732-misteri-benteng-kedung-cowek-tempat-paling-angker-di-surabaya-yang-menyimpan-jejak-perang</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jelajahnusantara.co/news-7732-misteri-benteng-kedung-cowek-tempat-paling-angker-di-surabaya-yang-menyimpan-jejak-perang</guid>
                    <pubDate>Thu, 25 Jun 2026 14:39:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[JELAJAH NUSANTARA - Di sisi timur Kota Surabaya, tepat di kawasan Kedung Cowek yang menghadap Selat Madura, berdiri sebuah bangunan tua yang keberadaannya]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>JELAJAH NUSANTARA</strong> - Di sisi timur Kota Surabaya, tepat di kawasan Kedung Cowek yang menghadap Selat Madura, berdiri sebuah bangunan tua yang keberadaannya nyaris terlupakan oleh perkembangan kota modern. Ribuan kendaraan melintas setiap hari menuju dan dari Jembatan Suramadu, namun hanya sedikit yang menyadari bahwa tidak jauh dari jalur sibuk tersebut tersembunyi sebuah benteng berusia lebih dari seabad yang pernah menjadi bagian penting dari pertahanan militer Hindia Belanda.</p>
<p><strong>Namanya Benteng Kedung Cowek.</strong></p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Benteng ini berada di wilayah pesisir utara Surabaya. Jika datang dari arah pusat kota, pengunjung dapat menuju Jalan Kedung Cowek hingga mendekati kaki Jembatan Suramadu sisi Surabaya. Dari arah Madura, bangunan tua itu berada tidak jauh setelah menyeberangi Suramadu menuju daratan Surabaya. Sementara dari arah Pelabuhan Tanjung Perak, perjalanan menuju lokasi hanya membutuhkan waktu sekitar beberapa belas menit dengan mengikuti jalur pantai timur kota.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Meski berada di kawasan yang relatif ramai, keberadaan benteng ini seolah sengaja bersembunyi. Pepohonan besar, semak belukar, dan tembok-tembok beton tua membuatnya tampak terisolasi dari hiruk pikuk kota di sekitarnya. Dari luar, tidak ada kemegahan yang langsung menarik perhatian. Hanya bangunan kusam tersembunyi dengan batu-batu bertumpuk yang sebagian tertutup vegetasi liar. Namun justru di situlah daya tariknya.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bagi para sejarawan, Benteng Kedung Cowek merupakan salah satu saksi penting perjalanan Surabaya sebagai kota pelabuhan dan pusat pertahanan maritim. Bagi fotografer urban, tempat ini menawarkan lanskap yang unik, perpaduan antara arsitektur militer kolonial, reruntuhan yang termakan usia, serta panorama Selat Madura yang membentang di kejauhan. Sementara bagi sebagian orang lainnya, benteng ini menyimpan sesuatu yang lebih sulit dijelaskan.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ada yang menyebutnya sebagai lokasi bersejarah yang menyimpan jejak masa lalu. Ada pula yang percaya bahwa usia bangunan, kisah peperangan, dan berbagai peristiwa yang pernah terjadi di dalamnya meninggalkan atmosfer yang berbeda dibanding tempat-tempat lain di Surabaya.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Perasaan itu biasanya muncul bahkan sebelum seseorang benar-benar memasuki kawasan benteng. Semakin mendekat, suara kendaraan yang semula mendominasi perlahan mulai tergantikan oleh desir angin laut. Pepohonan tua yang tumbuh di sekitar bangunan menciptakan bayangan-bayangan panjang, sementara tembok beton tebal berdiri membisu seperti penjaga yang telah terlalu lama menunggu.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tidak ada suara Meriam, tak ada pasukan yang berjaga &nbsp;atau komandan yang memberikan perintah. Namun entah mengapa, suasana di tempat ini masih menyimpan kesan seolah sesuatu pernah terjadi dan belum benar-benar pergi. Mungkin itu hanyalah efek dari bangunan tua yang telah melewati begitu banyak peristiwa sejarah. Atau mungkin memang ada cerita-cerita yang masih tertinggal di antara lorong sempit, ruang bawah tanah, dan gudang-gudang amunisi yang kini kosong.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Yang jelas, Benteng Kedung Cowek bukan sekadar bangunan peninggalan kolonial biasa. Ia adalah saksi bisu dari masa ketika Surabaya menjadi salah satu kota pertahanan terpenting di Nusantara. Sebuah tempat yang dibangun untuk menghadapi ancaman dari laut, menyimpan persenjataan perang, dan mengawasi setiap pergerakan kapal yang memasuki perairan sekitar Selat Madura.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tetapi seiring berjalannya waktu, sejarah tidak hanya meninggalkan catatan. Sejarah juga meninggalkan cerita. Dan sebagian dari cerita itu hingga hari ini masih menjadi bisik-bisik yang beredar di kalangan warga sekitar, penjaga kawasan, hingga para pengunjung yang pernah mencoba menjelajahi sudut-sudut tergelap Benteng Kedung Cowek.</p>
<p>Apa sebenarnya yang membuat benteng tua ini begitu penting bagi pertahanan Surabaya pada masanya?</p>
<p>Mengapa lokasinya dipilih secara khusus di tepi Selat Madura?</p>
<p>Dan benarkah di balik dinding-dinding beton yang kini mulai rapuh itu tersimpan kisah-kisah yang tidak seluruhnya tercatat dalam buku sejarah?</p>
<p>Untuk menemukan jawabannya, kita harus kembali ke awal abad ke-20, ketika Surabaya berada di bawah bayang-bayang perang yang perlahan mulai mendekat dari lautan.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tidak seperti benteng-benteng kolonial lain yang mudah ditemukan dalam catatan sejarah, Benteng Kedung Cowek dahulu sengaja dirahasiakan. Lokasinya nyaris tidak tercantum dalam peta kota karena merupakan bagian dari sistem pertahanan pantai Belanda yang sangat strategis.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Benteng ini diperkirakan dibangun sekitar tahun 1915 sebagai bagian dari jaringan artileri pantai yang bertugas mengawasi Selat Madura dan jalur masuk menuju Surabaya. Pada masanya, kawasan ini dipenuhi meriam besar, gudang amunisi, dan pos pengamatan militer.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dengan luas kawasan mencapai lebih dari tujuh hektare dan terdiri dari sebelas bangunan utama, Benteng Kedung Cowek merupakan salah satu sistem pertahanan pantai terbesar yang pernah dimiliki Hindia Belanda di wilayah Surabaya. Pemilihan lokasinya bukan tanpa alasan.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sejak abad ke-19, Surabaya telah berkembang menjadi salah satu pelabuhan terpenting di Hindia Belanda. Kapal-kapal dagang, kapal perang, hingga armada militer keluar masuk melalui perairan yang terhubung dengan Selat Madura. Bagi pemerintah kolonial, jalur ini merupakan urat nadi yang harus dijaga dengan segala cara.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dari kawasan Kedung Cowek, hampir seluruh lalu lintas laut yang menuju Surabaya dapat dipantau. Siapa pun yang datang dari arah laut akan lebih dulu terlihat dari titik ini. Karena itulah Belanda membangun sistem pertahanan berlapis yang mampu memberikan peringatan dini sekaligus melakukan serangan apabila terjadi ancaman dari luar.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Di masa itu, kawasan benteng bukanlah tempat yang bisa dimasuki sembarang orang. Prajurit bersenjata berjaga siang dan malam. Gudang amunisi disimpan di bangunan-bangunan beton berdinding sangat tebal. Lorong-lorong penghubung dibangun untuk memudahkan mobilisasi personel dan logistik. Bahkan sebagian struktur dirancang agar tetap mampu bertahan jika terkena serangan artileri dari laut. Perintah-perintah militer diteriakkan dari satu pos ke pos lainnya. Amunisi dipindahkan dari gudang penyimpanan. Para penjaga bergantian mengawasi perairan Selat Madura yang membentang di hadapan mereka. Setiap hari, mereka hidup dalam kesiapsiagaan.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ketika situasi politik dunia berubah dan bayang-bayang perang mulai menyelimuti Asia, fungsi Benteng Kedung Cowek menjadi semakin penting. Kawasan ini menjadi salah satu titik pertahanan yang diperhitungkan untuk melindungi Surabaya, kota pelabuhan yang menjadi urat nadi perdagangan dan militer di Jawa Timur.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Namun sejarah memiliki caranya sendiri untuk mengubah nasib sebuah tempat. Ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada awal tahun 1940-an, penguasaan atas benteng ini ikut berpindah tangan. Struktur pertahanan yang sebelumnya dibangun Belanda kemudian dimanfaatkan oleh pasukan Jepang untuk kepentingan militer mereka.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Masa itu menjadi salah satu periode paling kelam dalam perjalanan bangsa Indonesia. Perang membawa ketakutan, ketidakpastian, dan penderitaan ke berbagai penjuru negeri. Tidak banyak catatan rinci yang menceritakan apa saja yang terjadi setiap hari di dalam kawasan benteng, namun hampir dapat dipastikan bahwa tempat ini tidak pernah benar-benar sepi dari aktivitas militer.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lalu datanglah tahun 1945. Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Namun kemerdekaan yang baru lahir itu harus dipertahankan dengan darah dan pengorbanan. Surabaya menjadi salah satu medan perjuangan paling sengit dalam sejarah revolusi Indonesia. Kota ini berubah menjadi lautan perlawanan.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Jalan-jalan dipenuhi barikade. Gedung-gedung strategis diperebutkan. Dentuman senjata dan ledakan terdengar dari berbagai penjuru kota. Ribuan pejuang mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan yang baru beberapa bulan diumumkan.Dalam pusaran peristiwa itulah Benteng Kedung Cowek kembali memainkan perannya. Posisinya yang strategis menjadikan kawasan ini bagian dari sistem pertahanan yang digunakan para pejuang Indonesia. Dari titik ini, pergerakan di jalur laut masih dapat diawasi. Benteng yang dibangun oleh penjajah itu justru menjadi salah satu saksi perjuangan bangsa yang sedang berusaha melepaskan diri dari penjajahan. Hari-hari penuh ketegangan pernah berlalu di tempat ini. Orang-orang datang dan pergi. Sebagian kembali ke rumah. Sebagian lainnya mungkin tidak pernah pulang.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kini, sebagian besar aktivitas itu telah lama menghilang. Meriam-meriam yang dahulu menghadap Selat Madura sudah tidak lagi berada di tempatnya. Pos-pos penjagaan kosong. Gudang amunisi yang pernah menyimpan perlengkapan perang kini hanya menyisakan ruangan gelap dengan dinding yang mulai ditumbuhi lumut.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Namun justru ketika fungsi militernya berakhir, kisah lain mulai tumbuh. Warga sekitar yang tinggal tidak jauh dari kawasan benteng memiliki beragam cerita tentang tempat ini. Sebagian menganggapnya hanya bangunan tua yang menyimpan sejarah. Sebagian lagi memilih untuk tidak terlalu lama berada di area benteng ketika matahari mulai tenggelam.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Alasannya beragam. Ada yang mengaku sering mendengar suara langkah kaki padahal tidak ada orang di sekitar. Ada pula yang merasa seperti sedang diawasi ketika memasuki bangunan tertentu. Beberapa pengunjung bahkan memilih membatalkan eksplorasi setelah merasakan suasana yang menurut mereka terlalu sunyi untuk sebuah kawasan yang berada tidak jauh dari keramaian kota.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tentu saja, cerita-cerita semacam ini sulit dibuktikan. Bisa jadi itu hanya perasaan yang muncul ketika seseorang berada di tengah bangunan tua yang pernah menjadi bagian dari sejarah perang. Bisa pula karena lorong-lorong sempit, ruangan gelap, dan dinding beton yang menjulang menciptakan kesan psikologis tertentu bagi siapa pun yang datang.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Namun ada satu hal yang menarik. Semakin banyak orang mempelajari sejarah Benteng Kedung Cowek, semakin mereka menyadari bahwa tempat ini bukan sekadar bangunan pertahanan biasa. Di balik tembok-temboknya tersimpan berbagai peristiwa yang tidak seluruhnya terdokumentasi dengan baik. Pergantian kekuasaan, masa pendudukan Jepang, hingga pergolakan revolusi kemerdekaan pernah melewati kawasan ini.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dan seperti banyak lokasi yang menjadi saksi berbagai peristiwa besar dalam sejarah manusia, Benteng Kedung Cowek perlahan membangun reputasinya sendiri. Bukan hanya sebagai situs bersejarah. Tetapi juga sebagai tempat yang menyimpan banyak pertanyaan yang hingga kini belum seluruhnya terjawab.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Di lorong-lorong sempit yang lembap, dinding beton setebal beberapa puluh sentimeter masih berdiri kokoh meski sebagian permukaannya mulai retak dimakan usia. Lumut tumbuh di beberapa sudut bangunan. Akar-akar pohon perlahan menyusup ke sela-sela beton yang dahulu dirancang untuk menahan guncangan perang.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lubang-lubang ventilasi yang dulunya berfungsi menjaga sirkulasi udara bagi para prajurit kini hanya membiarkan angin laut masuk dan keluar tanpa tujuan. Ketika embusan angin melewati celah-celah sempit itu, terkadang terdengar bunyi mendesir yang panjang dan pelan, seolah menjadi suara yang lahir dari masa lalu.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sulit membayangkan bahwa tempat yang kini tampak sunyi tersebut pernah menjadi pusat aktivitas militer yang sibuk. Waktu terus berjalan. Perang berakhir. Kota Surabaya tumbuh menjadi kota metropolitan yang ramai. Jalan-jalan baru dibangun. Gedung-gedung tinggi bermunculan. Jembatan Suramadu berdiri megah membelah cakrawala.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Namun Benteng Kedung Cowek tetap berada di tempatnya. Diam. Membisu. Seolah menolak melupakan apa yang pernah disaksikannya. Barangkali karena itulah banyak pengunjung yang merasa suasana di tempat ini berbeda dibanding bangunan bersejarah lainnya. Bukan karena bentuk bangunannya. Bukan pula karena usianya yang sudah lebih dari seratus tahun. Melainkan karena setiap sudutnya seakan menyimpan jejak-jejak kehidupan yang pernah berlangsung di sana.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Jejak orang-orang yang berjaga di malam hari, jejak para prajurit yang menunggu datangnya ancaman dari laut dan jejak mereka yang hidup dalam kecemasan perang dan ketidakpastian masa depan. Semua itu memang tidak terlihat. Tidak terdengar. Tidak tercatat sepenuhnya dalam arsip sejarah. Namun entah mengapa, sebagian orang merasa masih dapat merasakannya.</p>
<p>Kisah-Kisah yang Beredar di Antara Dinding Tua</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ketika senja turun, Benteng Kedung Cowek perlahan berubah wajah. Cahaya matahari yang tadinya masuk melalui celah-celah bangunan mulai memudar. Lorong-lorong beton yang sebelumnya masih terlihat jelas berubah menjadi bayangan panjang yang seolah tidak memiliki ujung. Angin laut dari Selat Madura berembus melewati ventilasi tua dan menghasilkan suara-suara samar yang terkadang terdengar menyerupai bisikan. Pada saat itulah imajinasi manusia mulai bekerja. Dan sejarah mulai terasa hidup.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Meski demikian, daya tarik Benteng Kedung Cowek tidak hanya datang dari bentuk bangunannya yang eksotis atau nilai sejarah yang melekat padanya. Bagi sebagian orang, benteng ini adalah tempat di mana sejarah dan misteri seolah bertemu dalam ruang yang sama.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Secara resmi tidak ada catatan sejarah yang membuktikan keberadaan fenomena gaib di Benteng Kedung Cowek. Namun seperti banyak bangunan militer tua lainnya, cerita-cerita mistis tumbuh dari mulut ke mulut. Mungkin karena itulah banyak orang yang merasakan suasana berbeda ketika memasuki kawasan benteng. Bukan sekadar sepi, tetapi sunyi dengan hawa yang terasa berat. Fotografer urban yang pernah melakukan pemotretan di lokasi ini juga kerap bercerita tentang perasaan tidak nyaman saat senja mulai turun. Tidak sedikit pula yang memilih meninggalkan kawasan sebelum magrib.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tak heran jika banyak orang menyebut tempat ini sebagai salah satu lokasi paling angker sekaligus paling bersejarah di Surabaya. Bahkan bagi konten kreator dengan genre horor, benteng Kedung Cowek menjadi salah satu lokasi favorit yang dituju untuk mendapatkan video-video menyeramkan yang mengundang banyak viewers.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bayangkan berjalan sendirian di antara bangunan beton berusia lebih dari seratus tahun, mendengar desir angin dari arah Selat Madura, sementara cahaya matahari perlahan menghilang di balik tembok-tembok tua.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Salah satu cerita yang cukup sering beredar di kalangan warga sekitar berkaitan dengan keberadaan sosok-sosok yang dipercaya masih "menjaga" kawasan benteng. &nbsp;Beberapa pengunjung mengaku merasakan hawa dingin yang muncul tiba-tiba meski cuaca sedang panas. Ada pula yang merasa seperti diawasi ketika memasuki ruang bawah tanah atau lorong-lorong tertutup. Bahkan penampakan noni Belanda dan hantu tanpa kepala. Namun, ada juga praktisi spiritual yang mengatakan jika Kawasan Benteng tersebut menjadi salah satu lokasi krusial, tempat salah satu penjaga keseimbangan tanah Jawa bersemayam. Bahkan beberapa praktisi supranatural pernah mengatakan jika ada banyak pusaka dan mustika bertebaran disana.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bahkan, legenda yang berkembang di masyarakat setempat pernah mengaitkan benteng ini dengan keberadaan sosok ular gaib yang dipercaya menghuni area tertentu di dalam kompleks benteng. Terlepas dari benar atau tidaknya cerita tersebut, kisah itu menjadi bagian dari folklore yang hingga kini masih sering diperbincangkan.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Fenomena-fenomena semacam itulah yang kemudian menarik perhatian banyak penjelajah lokasi terbengkalai, pemburu sejarah, hingga para kreator konten horor dari berbagai daerah. Beberapa kanal YouTube bertema misteri pernah melakukan eksplorasi di lokasi ini. Salah satu yang cukup dikenal adalah tim Diary Misteri Sara yang turut memperkenalkan Benteng Kedung Cowek kepada khalayak yang lebih luas melalui penelusuran tempat-tempat bersejarah dan penuh misteri.<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Namun terlepas dari apa yang mereka temukan atau rasakan, ada satu kesamaan yang hampir selalu muncul dari berbagai cerita . Yaitu suasana. Suasana yang sulit dijelaskan, tidak dapat ditangkap kamera yang terkadang membuat orang mempercepat langkah tanpa sadar ketika hari mulai gelap. Namun ada satu hal yang sulit dibantah. Benteng Kedung Cowek memang memiliki atmosfer yang berbeda. Mungkin yang terdengar hanyalah angin. Mungkin yang terlihat hanyalah permainan cahaya. Atau mungkin, seperti yang dipercaya sebagian orang, ada jejak-jejak masa lalu yang masih bertahan di antara dinding-dinding tua itu. Tak ada yang benar-benar tahu. Namun satu hal yang pasti, Benteng Kedung Cowek bukanlah tempat yang mudah dilupakan.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Benar atau tidaknya kisah-kisah tersebut tentu kembali pada pengalaman masing-masing. Cerita tersebut tentu tidak pernah tercatat dalam dokumen resmi sejarah. Namun seperti banyak situs tua lainnya di Indonesia, kisah-kisah itu terus hidup dari generasi ke generasi. Ada yang mengaitkannya dengan para pejuang yang gugur saat mempertahankan Surabaya. Ada pula yang meyakini bahwa kawasan benteng menyimpan energi dari berbagai peristiwa yang pernah terjadi di sana selama puluhan tahun.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Semakin lama seseorang mempelajari sejarahnya, semakin besar pula kesadaran bahwa horor terbesar dari tempat ini bukanlah kisah-kisah gaib yang beredar. Melainkan kenyataan bahwa ribuan manusia pernah hidup dalam ketakutan yang nyata di sini. Mereka berjaga dalam gelap, menunggu serangan dari laut, menyaksikan perang, kehilangan, dan kematian. Dan sebagian dari mereka tidak pernah kembali.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kini lebih dari satu abad telah berlalu. Meriam-meriam telah hilang. Pasukan telah lama pergi. Perang telah menjadi bagian dari buku sejarah. Namun Benteng Kedung Cowek masih berdiri. Membisu. Menghadap Selat Madura seperti yang dilakukannya sejak awal abad ke-20.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Menjadi saksi bahwa waktu memang dapat meruntuhkan beton, menghapus jejak kaki, bahkan menghilangkan nama-nama dari ingatan manusia. Tetapi tidak selalu mampu menghapus cerita. Karena di tempat-tempat seperti inilah sejarah dan misteri berjalan berdampingan.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dan ketika matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya di balik cakrawala, menyisakan siluet hitam bangunan tua di tepi laut Surabaya, muncul satu pertanyaan yang hingga kini belum pernah benar-benar terjawab.</p>
<p>Apakah yang membuat Benteng Kedung Cowek terasa begitu mencekam adalah keberadaan sesuatu yang tak kasat mata?</p>
<p>Atau justru karena tempat ini masih menyimpan gema dari masa lalu yang tidak pernah benar-benar pergi?</p>
<p>Mungkin...</p>
<p>hanya dinding-dinding tua itu yang mengetahui jawabnya.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jelajahnusantara.co/po-content/uploads/202606/foto-benteng-kc.JPG" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Misteri Benteng Kedung Cowek, Tempat Paling Angker di Surabaya yang Menyimpan Jejak Perang]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Jurnal Misteri]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Mengapa Hujan Deras di Malam Hari Sering Dikaitkan dengan Pertanda?]]></title>
                    <link>https://jelajahnusantara.co/news-7731-mengapa-hujan-deras-di-malam-hari-sering-dikaitkan-dengan-pertanda</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jelajahnusantara.co/news-7731-mengapa-hujan-deras-di-malam-hari-sering-dikaitkan-dengan-pertanda</guid>
                    <pubDate>Tue, 23 Jun 2026 02:21:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[JELAJAH NUSANTARA – Derasnya hujan yang mengguyur pada malam hari tak hanya dipandang sebagai fenomena cuaca. Di berbagai daerah, hujan malam masih kerap d]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>JELAJAH NUSANTARA</strong> &ndash; Derasnya hujan yang mengguyur pada malam hari tak hanya dipandang sebagai fenomena cuaca. Di berbagai daerah, hujan malam masih kerap dikaitkan dengan sejumlah mitos yang diwariskan turun-temurun. Meski zaman terus berkembang, sebagian masyarakat masih mempercayai hujan malam membawa pesan atau pertanda tertentu.</p>
<p>Salah satu kepercayaan yang cukup dikenal adalah anggapan bahwa hujan deras pada malam hari menjadi tanda akan datangnya kabar penting atau perubahan besar dalam kehidupan seseorang. Di beberapa wilayah Jawa, hujan yang turun saat sebagian besar warga terlelap juga diyakini sebagai pertanda datangnya tamu dari tempat yang jauh.</p>
<p>Tidak sedikit pula yang mengaitkan hujan malam dengan suasana mistis. Hujan yang turun tiba-tiba disertai angin kencang atau petir sering dianggap sebagai tanda adanya aktivitas makhluk tak kasat mata. Kepercayaan tersebut umumnya berkembang dari cerita rakyat yang terus diceritakan dari generasi ke generasi.</p>
<p>Namun di balik berbagai mitos tersebut, hujan malam memiliki penjelasan ilmiah yang sederhana. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara tropis membuat pembentukan awan hujan sering terjadi setelah permukaan bumi menerima panas matahari sepanjang siang hari. Akumulasi uap air yang terbentuk kemudian berkembang menjadi awan hujan dan mencapai puncaknya pada sore hingga malam hari.</p>
<p>Fenomena ini juga diperkuat oleh tingginya tingkat kelembapan udara dan pergerakan massa udara di atmosfer. Karena itu, hujan deras pada malam hari merupakan kejadian yang lazim terjadi, terutama saat musim hujan atau masa peralihan musim.</p>
<p>Meski belum ada bukti ilmiah yang menghubungkan hujan malam dengan berbagai pertanda yang dipercaya masyarakat, mitos-mitos tersebut tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal. Cerita yang berkembang selama puluhan bahkan ratusan tahun itu masih hidup dalam percakapan sehari-hari dan menjadi warna tersendiri dalam tradisi masyarakat Indonesia.</p>
<p>Pada akhirnya, hujan deras di malam hari dapat dipandang dari dua sisi. Di satu sisi sebagai fenomena alam yang dapat dijelaskan secara ilmiah, sementara di sisi lain menjadi bagian dari warisan budaya yang menyimpan berbagai tafsir dan kepercayaan masyarakat.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jelajahnusantara.co/po-content/uploads/202606/1003913903.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Ilustrasi Hujan (Istimewa)]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Mitos]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Legenda Lompia: Saat Kemalasan Melahirkan Kuliner Legendaris]]></title>
                    <link>https://jelajahnusantara.co/news-7730-legenda-lompia-saat-kemalasan-melahirkan-kuliner-legendaris</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jelajahnusantara.co/news-7730-legenda-lompia-saat-kemalasan-melahirkan-kuliner-legendaris</guid>
                    <pubDate>Sun, 21 Jun 2026 13:03:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[JELAJAH NUSANTARA — Tidak banyak yang tahu bahwa lompia, makanan yang kini akrab dijajakan di berbagai sudut kota, konon lahir bukan dari dapur mewah atau l]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>JELAJAH NUSANTARA</strong> &mdash; Tidak banyak yang tahu bahwa lompia, makanan yang kini akrab dijajakan di berbagai sudut kota, konon lahir bukan dari dapur mewah atau laboratorium kuliner modern. Menurut cerita rakyat yang berkembang dari mulut ke mulut, lompia tercipta akibat perpaduan antara rasa lapar, kemalasan, dan kecerdikan manusia yang enggan mencuci terlalu banyak piring.</p>
<p>Alkisah, berabad-abad lalu hiduplah seorang pedagang bernama Ki Ngalor-Ngidul. Ia terkenal bukan karena kekayaannya, melainkan karena kebiasaannya berbicara ke mana-mana tanpa arah. Saat orang bertanya harga beras, ia menjawab soal cuaca. Ketika ditanya jalan ke pasar, ia malah bercerita tentang ayam tetangga yang hilang.</p>
<p>Suatu hari, Ki Ngalor-Ngidul mengalami musibah besar. Persediaan piring di rumahnya pecah akibat dipinjam tetangga yang mengaku hanya "sebentar". Sementara itu, tamu terus berdatangan karena mereka mengira Ki Ngalor-Ngidul sedang mengadakan syukuran. Padahal yang terjadi justru sebaliknya: dapurnya hampir bangkrut.</p>
<p>Dalam kepanikan, ia mengambil lembaran kulit tipis dari adonan tepung yang biasa digunakan untuk membungkus makanan. Semua isi dapur dimasukkan begitu saja. Rebung, sayuran, sedikit daging, bahkan sisa masakan yang masih layak makan ikut digulung menjadi satu.</p>
<p>"Kalau tidak ada piring, ya makan saja bungkusnya sekalian," ujar Ki Ngalor-Ngidul sebagaimana tidak pernah tercatat dalam buku sejarah mana pun.</p>
<p>Ajaibnya, para tamu justru menyukai makanan gulung tersebut. Mereka memuji kepraktisannya. Tidak perlu piring, tidak perlu sendok, dan yang paling penting, tidak perlu mencuci setelah makan.</p>
<p>Kabar itu segera menyebar ke berbagai daerah. Para pejabat kerajaan saat itu disebut-sebut tertarik bukan karena rasanya, melainkan karena biaya jamuan makan bisa ditekan. Konon sejak saat itu muncul kebiasaan rapat panjang yang penuh pidato namun minim konsumsi.</p>
<p>Seiring waktu, makanan gulung itu dikenal sebagai lompia. Sebagian orang menyebut namanya berasal dari bahasa tertentu. Namun menurut versi satir masyarakat, kata "lompia" berasal dari gabungan kalimat, "Lho, makanan apa ini?" yang sering diucapkan orang saat pertama kali melihat rebung dibungkus kulit tipis.</p>
<p>Meski kebenaran kisah ini sulit dibuktikan, satu hal yang pasti: lompia berhasil bertahan melewati berbagai zaman. Ia selamat dari pergantian kerajaan, pergantian rezim, bahkan dari ancaman orang yang mengaku sedang diet tetapi diam-diam membeli tiga sekaligus.</p>
<p>Kini lompia bukan sekadar makanan. Ia menjadi simbol bahwa kreativitas sering lahir dari keterbatasan. Dan seperti banyak kebijakan di dunia, terkadang sesuatu yang tercipta karena keadaan darurat justru bertahan paling lama.</p>
<p>Untung saja Ki Ngalor-Ngidul tidak memilih membungkus rebung dengan daun pisang saat itu. Jika tidak, mungkin hari ini kita sedang berebut resep "pispia" alih-alih menikmati lompia.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jelajahnusantara.co/po-content/uploads/202606/1003908015.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Ilustrasi Lompia (Istimewa)]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Cerita Hari Ini]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Malam Tanpa Akhir di Arjuno: Ketika Pendaki Menghilang dari Jalur dan Mendengar Pesta Para Penghuni Gunung]]></title>
                    <link>https://jelajahnusantara.co/news-7729-malam-tanpa-akhir-di-arjuno-ketika-pendaki-menghilang-dari-jalur-dan-mendengar-pesta-para-penghuni-gunung</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jelajahnusantara.co/news-7729-malam-tanpa-akhir-di-arjuno-ketika-pendaki-menghilang-dari-jalur-dan-mendengar-pesta-para-penghuni-gunung</guid>
                    <pubDate>Sun, 21 Jun 2026 10:41:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[JELAJAH NUSANTARA – Langit di atas Gunung Arjuno malam itu gelap tanpa bulan. Hanya cahaya senter yang memecah pekatnya hutan di jalur pendakian Tretes. S]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>JELAJAH NUSANTARA</strong> &ndash; Langit di atas Gunung Arjuno malam itu gelap tanpa bulan. Hanya cahaya senter yang memecah pekatnya hutan di jalur pendakian Tretes. Sekelompok pendaki yang baru saja turun dari puncak tidak menyadari bahwa malam itu akan menjadi pengalaman paling mengerikan dalam hidup mereka.</p>
<p>Jarum jam menunjukkan pukul 22.30 WIB ketika kabut turun secara tiba-tiba. Dalam hitungan menit, jalur yang semula terlihat jelas berubah menjadi lorong putih yang menelan pandangan. Udara terasa lebih dingin dari biasanya. Angin yang semula berembus pelan mendadak berhenti. Hutan menjadi sunyi. Terlalu sunyi.</p>
<p>Di tengah kesunyian itu, terdengar suara ramai dari kejauhan.</p>
<p>Awalnya mereka mengira suara pendaki lain yang sedang beristirahat. Namun semakin lama, suara itu semakin jelas. Ada orang bercakap-cakap, suara tawar-menawar, tawa anak-anak, hingga dentingan benda seperti aktivitas pasar malam. Padahal menurut peta dan GPS, lokasi mereka berada di tengah sabana yang kosong tanpa satu pun tenda pendaki.</p>
<p>Salah seorang anggota rombongan mencoba mengarahkan senter ke sumber suara. Di kejauhan, tampak puluhan titik cahaya berkelap-kelip seperti lampu minyak. Cahaya itu bergerak perlahan di antara kabut.</p>
<p>&ldquo;Jangan dilihat terlalu lama,&rdquo; bisik seorang pendaki yang lebih senior.</p>
<p>Namun peringatan itu terlambat.</p>
<p>Salah satu anggota rombongan mendadak berjalan sendiri menuju arah cahaya. Matanya kosong. Wajahnya pucat. Ia seperti sedang mengikuti seseorang yang tak terlihat. Beruntung dua rekannya segera menarik tubuhnya sebelum menghilang ke balik kabut.</p>
<p>Malam semakin mencekam.</p>
<p>Dari arah hutan terdengar suara gamelan mengalun pelan. Nadanya lirih, seperti iringan pesta pernikahan kuno. Anehnya, suara itu terdengar semakin dekat meski tak ada satu pun manusia di sekitar mereka. Beberapa pendaki mengaku mencium aroma bunga melati yang sangat kuat bercampur bau dupa yang menusuk hidung.</p>
<p>Tak lama kemudian, mereka melihat sosok perempuan berambut panjang berdiri di antara pepohonan.</p>
<p>Tubuhnya diam.</p>
<p>Tidak bergerak.</p>
<p>Hanya berdiri menatap dari kejauhan.</p>
<p>Ketika senter diarahkan ke sosok tersebut, ia menghilang begitu saja.</p>
<p>Panik mulai menguasai rombongan. Mereka memutuskan mempercepat langkah turun. Namun setiap kali berjalan, mereka justru kembali ke tempat yang sama. Sebuah pohon besar berakar menjulang menjadi penanda yang terus mereka temui berulang kali.</p>
<p>Satu jam.</p>
<p>Dua jam.</p>
<p>Tiga jam.</p>
<p>Mereka merasa seperti berjalan tanpa pernah benar-benar berpindah tempat.</p>
<p>Hingga menjelang pukul 03.00 WIB, suara-suara aneh itu tiba-tiba berhenti. Kabut perlahan menipis. Jalur pendakian kembali terlihat. Saat memeriksa GPS, mereka terkejut mengetahui bahwa selama berjam-jam tersesat, posisi mereka ternyata hanya bergeser sekitar 200 meter dari lokasi awal.</p>
<p>Sesampainya di pos pendakian, seorang warga setempat hanya tersenyum ketika mendengar cerita mereka.</p>
<p>&ldquo;Kalau mendengar pasar ramai atau gamelan di Arjuno, jangan pernah mendekat,&rdquo; katanya pelan. &ldquo;Belum tentu itu manusia.&rdquo;</p>
<p>Hingga kini kisah tentang Pasar Setan, suara gamelan misterius, dan sosok-sosok tak dikenal di Gunung Arjuno masih menjadi cerita yang terus beredar di kalangan pendaki. Sebagian menganggapnya sekadar mitos. Namun bagi mereka yang pernah mengalaminya, malam di Arjuno adalah pengingat bahwa tidak semua penghuni gunung bisa dilihat oleh mata manusia.</p>
<p>&nbsp;</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jelajahnusantara.co/po-content/uploads/202606/1003907296.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Ilustrasi Gunung Arjuno (Istimewa)]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Jurnal Misteri]]></category><category><![CDATA[Cerita Hari Ini]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Jangan Biarkan Negara Menjadi Pemain]]></title>
                    <link>https://jelajahnusantara.co/news-7728-jangan-biarkan-negara-menjadi-pemain</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jelajahnusantara.co/news-7728-jangan-biarkan-negara-menjadi-pemain</guid>
                    <pubDate>Fri, 12 Jun 2026 07:23:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Oleh: Heri Lentho, Pegiat Budaya Jawa Timur
JELAJAH NUSANTARA - Di berbagai daerah di Indonesia, terutama di Jawa Timur, muncul kecenderungan baru dalam]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p>Oleh:<em> Heri Lentho, Pegiat Budaya Jawa Timur</em></p>
<p><strong>JELAJAH NUSANTARA</strong> - Di berbagai daerah di Indonesia, terutama di Jawa Timur, muncul kecenderungan baru dalam pengelolaan kebudayaan. Pemerintah tidak lagi sekadar menjadi fasilitator kegiatan budaya, melainkan mulai tampil sebagai pelaku utama. Dinas membentuk kelompok seni, pemerintah membangun tim kesenian resmi, bahkan tidak jarang ikut berkompetisi dalam festival yang sesungguhnya diperuntukkan bagi sanggar, komunitas, dan kelompok masyarakat.</p>
<p>Sekilas hal itu tampak wajar. Bukankah pemerintah memang memiliki tugas memajukan kebudayaan?</p>
<p>Namun justru di situlah persoalannya.</p>
<p>Pemajuan kebudayaan bukanlah proyek negara untuk menguasai kebudayaan. Pemajuan kebudayaan adalah upaya negara memastikan kebudayaan tetap hidup di tangan masyarakat.</p>
<p>Perbedaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menentukan masa depan kebudayaan Indonesia.</p>
<p>*Negara Sebagai Pusat atau Masyarakat Sebagai Pusat?*</p>
<p>Dalam kajian kebijakan budaya dikenal dua paradigma besar.</p>
<p>Pertama, _state-centered culture_, yaitu kebudayaan yang dikendalikan negara. Pemerintah menentukan arah, mengelola sumber daya, mengorganisasi pelaku, sekaligus menjadi representasi utama kebudayaan.</p>
<p>Model ini banyak berkembang pada negara-negara dengan tradisi birokrasi yang kuat.</p>
<p>Negara menjadi pusat produksi simbol budaya.</p>
<p>Paradigma kedua adalah community-centered culture.</p>
<p>Dalam model ini masyarakat merupakan pemilik sekaligus penggerak kebudayaan. <br />Negara hanya memastikan ruang hidup kebudayaan tetap tersedia melalui regulasi, fasilitasi, perlindungan, dan dukungan sumber daya.<br />Sejak lahirnya UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, Indonesia secara jelas memilih paradigma kedua. Kebudayaan ditempatkan sebagai hasil cipta, rasa, karsa, dan karya masyarakat. Pemerintah diberi tugas menjamin kebebasan berekspresi, menyediakan sarana-prasarana, membangun mekanisme pelibatan masyarakat, serta mendorong lahirnya ekosistem kebudayaan yang kolaboratif.</p>
<p>Pilihan tersebut kembali ditegaskan dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 6 Tahun 2024 tentang Pemajuan Kebudayaan Daerah.</p>
<p>Perda ini bahkan secara eksplisit menempatkan asas partisipatif, kebebasan berekspresi, kesederajatan, gotong royong, keberlanjutan, dan keberagaman sebagai fondasi tata kelola kebudayaan daerah. Pemerintah Provinsi diberi mandat untuk membangun mekanisme pelibatan masyarakat dan mendorong peran aktif lembaga kebudayaan serta seluruh elemen masyarakat dalam ekosistem kebudayaan.</p>
<p>Artinya, secara filosofis maupun normatif, Jawa Timur telah memilih kebudayaan yang bertumpu pada masyarakat, bukan birokrasi.</p>
<p><strong>Teori UNESCO: Budaya Harus Dikelola Bersama</strong></p>
<p>Dalam berbagai kerangka kebijakan UNESCO, tata kelola kebudayaan modern bertumpu pada partisipasi masyarakat dan keterlibatan pemangku kepentingan dalam seluruh proses pengambilan keputusan.<br />Pendekatan _community engagement_ menempatkan masyarakat bukan sebagai objek kebijakan, melainkan sebagai subjek yang ikut menentukan arah pengelolaan warisan budaya dan ekspresi budaya mereka sendiri. Berbagai studi tata kelola warisan budaya menunjukkan bahwa pelibatan komunitas merupakan syarat utama keberlanjutan kebudayaan.</p>
<p>Mengapa demikian?</p>
<p>Karena kebudayaan tidak hidup di kantor pemerintahan.</p>
<p>Kebudayaan hidup di kampung-kampung, padepokan, sanggar, kelompok kesenian, komunitas adat, ruang latihan, dan dalam ingatan kolektif masyarakat.</p>
<p>Negara dapat membangun gedung.</p>
<p>Negara dapat menyediakan anggaran.</p>
<p>Tetapi negara tidak dapat menciptakan kebudayaan tanpa masyarakat.</p>
<p>Ketika negara terlalu dominan, kebudayaan berisiko berubah menjadi administrasi. Yang tumbuh bukan kreativitas, melainkan kepatuhan birokratis.</p>
<p>*Pentahelix Kebudayaan dan Batas Peran Pemerintah*</p>
<p>Dalam tata kelola kebudayaan masa kini berkembang konsep pentahelix yang melibatkan lima unsur utama:<br />- Pemerintah<br />- Komunitas budaya<br />- Akademisi<br />- Dunia usaha<br />- Media</p>
<p>Kelima unsur tersebut memiliki fungsi berbeda.</p>
<p>Pemerintah bertugas memfasilitasi.</p>
<p>Akademisi melakukan riset dan pengembangan pengetahuan.</p>
<p>Dunia usaha mendukung keberlanjutan ekonomi budaya.</p>
<p>Media memperluas ruang apresiasi.</p>
<p>Sementara komunitas budaya menjadi jantung yang menjaga kehidupan kebudayaan.</p>
<p>Masalah muncul ketika salah satu unsur mengambil alih fungsi unsur lainnya.</p>
<p>Ketika pemerintah mulai menjadi pelaku utama kebudayaan, keseimbangan pentahelix terganggu. Ekosistem berubah menjadi hierarki. Komunitas tidak lagi menjadi subjek, melainkan sekadar pendukung kegiatan pemerintah.</p>
<p>Padahal Perda Pemajuan Kebudayaan Jawa Timur secara jelas mengamanatkan pemerintah untuk mendorong peran aktif masyarakat dan menjaga keberlanjutan ekosistem kebudayaan.</p>
<p>*Reog, Ludruk, Jaranan, dan Wayang: Pelajaran dari Kesenian Rakyat*</p>
<p>Jawa Timur memiliki kekayaan budaya yang luar biasa.</p>
<p>Reog tumbuh dari komunitas warok dan kelompok rakyat Ponorogo.</p>
<p>Ludruk hidup karena ketekunan para seniman keliling yang berpindah dari kampung ke kampung.</p>
<p>Jaranan berkembang melalui kelompok-kelompok rakyat yang diwariskan secara turun-temurun.</p>
<p>Wayang bertahan karena dedikasi para dalang, niyaga, dan keluarga-keluarga budaya yang menjaga tradisi lintas generasi.</p>
<p>Tidak satu pun kesenian tersebut lahir dari birokrasi.<br />Mereka lahir dari masyarakat.</p>
<p>Karena itu, ketika pemerintah membentuk tim kesenian resmi dan ikut berkompetisi dalam festival yang sama dengan sanggar masyarakat, muncul pertanyaan etis yang mendasar.</p>
<p>Apakah pemerintah sedang membina masyarakat?</p>
<p>Ataukah sedang bersaing dengan masyarakat yang dibinanya?</p>
<p>Dalam perspektif tata kelola, situasi ini menciptakan konflik peran.</p>
<p>Pemerintah menjadi regulator.</p>
<p>Pemerintah menjadi pemberi anggaran.</p>
<p>Pemerintah menjadi pembina.</p>
<p>Tetapi pada saat yang sama pemerintah juga menjadi peserta.</p>
<p>Ibarat pertandingan sepak bola, wasit tiba-tiba turun ke lapangan dan ikut mencetak gol.</p>
<p>Mungkin tidak ada aturan yang secara eksplisit melarang.</p>
<p>Tetapi seluruh prinsip keadilan kompetisi menjadi dipertanyakan.</p>
<p>Kasus Reog dan Bahaya Birokratisasi Kebudayaan</p>
<p>Kasus yang paling menarik dapat dilihat pada berbagai festival Reog.</p>
<p>Festival sejatinya merupakan ruang aktualisasi komunitas Reog yang hidup di masyarakat.</p>
<p>Peserta idealnya adalah:<br />- paguyuban Reog;<br />- sanggar seni;<br />- komunitas budaya;<br />- lembaga pendidikan;<br />- kelompok masyarakat.</p>
<p>Apabila pemerintah ikut membentuk tim resmi dan menjadi peserta, maka terjadi apa yang dapat disebut sebagai birokratisasi kebudayaan.</p>
<p>Birokrasi mulai mengambil ruang yang seharusnya menjadi milik komunitas.<br />Lambat laun muncul ketergantungan.<br />Komunitas kehilangan inisiatif.</p>
<p>Kreativitas bergeser menjadi proyek.</p>
<p>Kesenian berubah dari gerakan budaya menjadi program kerja.</p>
<p>Pada titik inilah kebudayaan kehilangan daya hidupnya.</p>
<p>Mengembalikan Negara ke Tempat yang Terhormat</p>
<p>Negara memiliki peran yang sangat penting dalam kebudayaan.</p>
<p>Tetapi peran itu bukan sebagai pemain utama.</p>
<p>Peran negara adalah memastikan panggung tersedia.</p>
<p>Memastikan lampu menyala.</p>
<p>Memastikan seniman mendapat ruang berekspresi.</p>
<p>Memastikan komunitas memperoleh dukungan.<br />Memastikan generasi muda memiliki kesempatan mewarisi tradisi.</p>
<p>Keberhasilan pemerintah dalam bidang kebudayaan tidak diukur dari banyaknya trofi yang dimenangkan tim bentukan birokrasi.</p>
<p>Keberhasilan pemerintah diukur dari seberapa banyak sanggar tumbuh.<br />Seberapa banyak kelompok seni bertahan.</p>
<p>Seberapa kuat regenerasi seniman berlangsung.</p>
<p>Seberapa luas masyarakat terlibat dalam kehidupan budaya.</p>
<p>Ruh Perda Jawa Timur Nomor 6 Tahun 2024 sesungguhnya mengarah ke sana.</p>
<p>Membangun ekosistem kebudayaan yang partisipatif, kolaboratif, berkelanjutan, dan berpusat pada masyarakat.</p>
<p>Karena pada akhirnya, negara bukanlah pemilik kebudayaan.</p>
<p>Negara hanyalah penjaga ruang.</p>
<p>Sedangkan pemilik sesungguhnya adalah masyarakat yang terus menghidupkannya dari generasi ke generasi.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jelajahnusantara.co/po-content/uploads/202606/1003860285.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Heri Lentho (Istimewa)]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Figur]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Bulan Bung Karno: Menghapal Sejarah, Melupakan Cita-cita?]]></title>
                    <link>https://jelajahnusantara.co/news-7727-bulan-bung-karno-menghapal-sejarah-melupakan-citacita</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jelajahnusantara.co/news-7727-bulan-bung-karno-menghapal-sejarah-melupakan-citacita</guid>
                    <pubDate>Thu, 11 Jun 2026 07:15:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Bulan Bung Karno: Menghapal Sejarah, Melupakan Cita-cita?
Oleh: Meimura]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ditulis Oleh: Meimura.</strong></p>
<p>Setiap bulan Juni, bangsa Indonesia kembali menengok sosok Soekarno. Foto-fotonya menghiasi ruang publik, kutipan-kutipannya memenuhi media sosial, dan kalimat "Jas Merah" kembali dikumandangkan</p>
<p>. Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.</p>
<p>Namun, sejarah yang hanya diingat sering kali berubah menjadi upacara.</p>
<p>Sedangkan sejarah yang dipahami akan menjadi arah.</p>
<p>Karena itu, Bulan Bung Karno seharusnya tidak berhenti pada mengenang siapa Bung Karno, tetapi juga bertanya: cita-cita apa yang sebenarnya ingin diwujudkannya?</p>
<p>Salah satu gagasan terpenting yang diwariskan Bung Karno adalah tentang bangsa yang berdikari. Sebuah bangsa yang tidak bergantung pada belas kasihan bangsa lain. Sebuah bangsa yang mampu berdiri di atas kaki sendiri.</p>
<p>Rumusan itu begitu terkenal:</p>
<p><em><strong>Berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.</strong></em></p>
<p>Tiga hal itu bukan daftar menu prasmanan yang bisa dipilih salah satu.</p>
<ul>
<li>Ia adalah satu kesatuan.</li>
<li>Politik memberi arah.</li>
<li>Ekonomi memberi daya.</li>
<li>Kebudayaan memberi jiwa.</li>
</ul>
<p>Jika salah satu hilang, maka bangsa menjadi pincang.</p>
<p>Sayangnya, dalam praktik pembangunan modern, kebudayaan sering ditempatkan sebagai anak tiri. Ia dipanggil ketika ada perayaan, diundang ketika ada festival, difoto ketika ada seremoni, lalu dilupakan ketika kebijakan disusun.</p>
<p>Padahal Bung Karno justru meletakkan kebudayaan sebagai bagian penting dari pembangunan bangsa.</p>
<p>Bagi Bung Karno, bangsa yang besar bukan hanya memiliki gedung tinggi, jalan lebar, dan pusat perbelanjaan yang megah.</p>
<p>Bangsa yang besar juga memiliki kesadaran sejarah, ruang ekspresi, kebebasan berpikir, dan penghormatan terhadap kerja kebudayaan.</p>
<p>Karena kebudayaan bukan sekadar hiburan.</p>
<p>Ia adalah cara sebuah bangsa mengenali dirinya sendiri.</p>
<p>Di sinilah Surabaya layak melakukan perenungan pada Bulan Bung Karno.</p>
<p>Sebagai Kota Pahlawan, Surabaya memiliki modal sejarah yang luar biasa. Namun sejarah tidak hidup di dalam monumen. Sejarah hidup melalui manusia yang terus merawat ingatan kolektifnya.</p>
<p>Karena itu keberadaan Balai Pemuda, Dewan Kesenian Surabaya (DKS), BMS, Sanggar Merah Putih, dan berbagai komunitas seni bukan sekadar urusan fasilitas.</p>
<p>Mereka adalah bagian dari ekosistem kebudayaan kota.</p>
<p>Mereka adalah tempat gagasan bertemu, kreativitas tumbuh, kritik dilahirkan, dan identitas kota dirawat.</p>
<p>Tentu Pemerintah Kota memiliki hak dan kewenangan untuk mengatur aset, menyusun kebijakan, dan menentukan prioritas pembangunan. Tidak ada yang mempersoalkan hal itu.</p>
<p>Namun dari sudut pandang pemikiran Bung Karno, pertanyaannya menjadi lebih mendasar:</p>
<p>Apakah kebijakan yang diambil semakin memperkuat kehidupan kebudayaan?</p>
<p>Ataukah justru mempersempit ruang hidupnya?</p>
<p>Apakah komunitas seni diposisikan sebagai mitra pembangunan?</p>
<p>Ataukah hanya dianggap pengguna ruang yang keberadaannya dapat dipindahkan sewaktu-waktu?</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena Bung Karno tidak pernah membayangkan kebudayaan sebagai pelengkap administrasi.</p>
<p>Dalam pandangannya, kebudayaan adalah salah satu pilar kedaulatan bangsa.</p>
<p>Sebuah bangsa mungkin mampu membangun gedung-gedung megah.</p>
<p>Tetapi jika ruang budayanya mengecil, maka yang tumbuh hanya bangunan.</p>
<p>Bukan peradaban.</p>
<p>Dalam konteks itulah, jika terdapat kebijakan yang membuat komunitas budaya kehilangan ruang bertumbuh, kehilangan kesempatan berpartisipasi, atau merasa semakin jauh dari pusat-pusat kebudayaan kota, maka setidaknya hal tersebut patut dievaluasi dari perspektif cita-cita Bung Karno tentang bangsa yang berkepribadian dalam kebudayaan.</p>
<p>Bukan untuk menyalahkan.</p>
<p>Melainkan untuk mengingatkan.</p>
<p>Bahwa kebudayaan bukan biaya.</p>
<p>Ia investasi peradaban.</p>
<p>Saya membayangkan seandainya Bung Karno datang ke Balai Pemuda hari ini.</p>
<p>Mungkin ia akan bertanya bukan tentang luas gedungnya.</p>
<p>Bukan pula tentang jumlah acara seremonialnya.</p>
<p>Melainkan:</p>
<p>"Berapa banyak seniman yang dapat tumbuh di sini?"</p>
<p>"Berapa banyak anak muda yang menemukan keberanian berkarya di sini?"</p>
<p>"Berapa banyak gagasan yang lahir di sini?"</p>
<p>Sebab gedung kebudayaan tidak diukur dari meter persegi.</p>
<p>Melainkan dari luas imajinasi yang dapat ditumbuhkannya.</p>
<p>Bulan Bung Karno akhirnya bukan sekadar bulan mengenang masa lalu.</p>
<p>Ia adalah bulan untuk menguji diri.</p>
<p>Apakah kita hanya menghafal Jas Merah?</p>
<p>Ataukah juga melanjutkan cita-cita berdikari yang diwariskannya?</p>
<p>Berdaulat dalam politik.</p>
<p>Berdikari dalam ekonomi.</p>
<p>Dan berkepribadian dalam kebudayaan.</p>
<p>Karena tanpa kebudayaan, politik kehilangan arah.</p>
<p>Tanpa kebudayaan, ekonomi kehilangan makna.</p>
<p>Dan tanpa kebudayaan, bangsa hanya menjadi kumpulan bangunan yang megah tetapi kehilangan jiwanya.</p>
<p>Maka menghormati Bung Karno tidak cukup dengan memasang fotonya di dinding.</p>
<p>Yang jauh lebih sulit adalah memastikan bahwa ruang-ruang kebudayaan tetap hidup, seniman tetap mendapat tempat, dan masyarakat tetap memiliki hak untuk bermimpi.</p>
<p>Sebab bangsa yang besar bukan bangsa yang paling sering menyebut nama Bung Karno.</p>
<p>Melainkan bangsa yang berani mewujudkan cita-citanya.</p>
<p>Besut Jogo Regol.&nbsp;</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jelajahnusantara.co/po-content/uploads/202606/1001838632.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Meimura (Istimewa)]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Figur]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Membawa Suara Ludruk Melintasi Zaman]]></title>
                    <link>https://jelajahnusantara.co/news-7726-membawa-suara-ludruk-melintasi-zaman</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jelajahnusantara.co/news-7726-membawa-suara-ludruk-melintasi-zaman</guid>
                    <pubDate>Tue, 09 Jun 2026 20:49:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[JELAJAH NUSANTARA - Langkah-langkah kecil yang selama ini ditempuh Meimura melalui gerakan Jelajah Deso Milangkori rupanya mulai menarik perhatian kalangan]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>JELAJAH NUSANTARA</strong> - Langkah-langkah kecil yang selama ini ditempuh Meimura melalui gerakan Jelajah Deso Milangkori rupanya mulai menarik perhatian kalangan pemerhati budaya nasional. Dari panggung-panggung sederhana di desa, kesenian Besutan kini mendapat kesempatan tampil di forum internasional dalam Seminar dan Festival Internasional Tradisi Lisan (LISAN XIII) yang akan digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada 5&ndash;8 Agustus 2026.</p>
<p>Undangan itu datang dari Asosiasi Tradisi Lisan (ATL), organisasi yang selama puluhan tahun aktif menjaga keberlangsungan tradisi lisan Nusantara. Bagi Meimura, kesempatan tersebut bukan sekadar tampil di hadapan peserta dari berbagai daerah dan negara, melainkan membawa sebuah misi yang lebih besar: memperkenalkan kembali Besutan sebagai ruh awal lahirnya ludruk.</p>
<p>&ldquo;Sebagai pegiat budaya, tentu ini sebuah kehormatan tersendiri. Saya bersyukur Besutan mendapat ruang untuk hadir dalam forum yang mempertemukan banyak pegiat tradisi lisan dari berbagai daerah dan negara,&rdquo; ujar Meimura.</p>
<p>Di tengah derasnya arus hiburan modern, keberadaan ludruk kini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Regenerasi yang berjalan lambat, berkurangnya panggung pertunjukan, hingga bergesernya minat generasi muda membuat salah satu kesenian khas Jawa Timur itu berada dalam situasi yang memprihatinkan. Dalam kondisi itulah Besutan hadir sebagai jalan alternatif.</p>
<p>Berbeda dengan ludruk yang membutuhkan perangkat pertunjukan lebih besar, Besutan tampil lebih sederhana. Ia bisa dimainkan di ruang-ruang kecil, di tengah masyarakat, bahkan berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan mudah. Kelenturan inilah yang membuat Besutan dianggap lebih adaptif untuk menjangkau generasi masa kini tanpa kehilangan akar tradisinya.</p>
<p>Wakil Ketua ATL Jawa Timur, Henri Nurcahyo, melihat kehadiran Besutan dalam forum internasional sebagai kesempatan untuk memperluas percakapan tentang masa depan ludruk. Menurutnya, pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan dengan mempertahankan bentuk lama secara utuh, tetapi juga melalui cara-cara baru yang tetap menjaga nilai dan semangat aslinya.</p>
<p>&ldquo;Rencana kehadiran Meimura dengan Besutannya di forum internasional ini memiliki makna penting untuk menggugah kepedulian kalangan yang lebih luas perihal keberadaan ludruk yang semakin tergerus perubahan zaman,&rdquo; kata Henri, yang juga dijadwalkan menyampaikan makalah berjudul Menyalakan Api Ludruk Melalui Besutan.</p>
<p>Forum LISAN XIII sendiri mengangkat tema Peranan Tradisi Lisan sebagai Warisan Budaya Takbenda dalam Merawat Kemanusiaan, Alam dan Kehidupan dari Masa Lalu ke Masa Depan. Peserta direncanakan datang dari berbagai daerah di Indonesia, serta negara-negara seperti Singapura dan India. Di tengah keberagaman tradisi yang akan ditampilkan, Besutan membawa cerita tentang upaya masyarakat Jawa Timur menjaga warisan budayanya tetap hidup.</p>
<p>Perjalanan menuju Jakarta memang belum sepenuhnya mudah. Panitia hanya menanggung biaya seminar dan konsumsi selama kegiatan berlangsung, sementara transportasi dan akomodasi masih harus diupayakan secara mandiri. Namun bagi Meimura, perjalanan itu terasa lebih dari sekadar perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan membawa suara ludruk dari kampung-kampung Jawa Timur menuju panggung dunia, agar nyalanya tidak padam ditelan zaman.</p>
<p>&nbsp;</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jelajahnusantara.co/po-content/uploads/202606/1003850651.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Meimura (Istimewa)]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[E.F. Wens, Suara Kaum Indo yang Menggema di Parlemen Pasca Pemilu 1955]]></title>
                    <link>https://jelajahnusantara.co/news-7725-ef-wens-suara-kaum-indo-yang-menggema-di-parlemen-pasca-pemilu-1955</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jelajahnusantara.co/news-7725-ef-wens-suara-kaum-indo-yang-menggema-di-parlemen-pasca-pemilu-1955</guid>
                    <pubDate>Mon, 08 Jun 2026 19:29:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[JELAJAH NUSANTARA - Ada kebanggaan yang sulit disembunyikan ketika E.F. Wens melangkah menuju Istana Negara, Jakarta, pada Maret 1956. Di tengah ratusan wajah]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>JELAJAH NUSANTARA</strong> - Ada kebanggaan yang sulit disembunyikan ketika E.F. Wens melangkah menuju Istana Negara, Jakarta, pada Maret 1956. Di tengah ratusan wajah yang mewakili beragam kekuatan politik hasil Pemilu 1955, dirinya hadir sebagai bagian dari kelompok yang jumlahnya jauh lebih sedikit: wakil dari kalangan minoritas keturunan asing.</p>
<p>Hari itu menjadi salah satu momen penting dalam sejarah demokrasi Indonesia. Presiden Sukarno melantik anggota Dewan Perwakilan Rakyat hasil pemilu pertama yang digelar secara nasional. Bagi Wens, pelantikan tersebut bukan sekadar seremoni politik, melainkan simbol bahwa kelompok minoritas juga memiliki ruang dalam kehidupan bernegara yang baru tumbuh setelah kemerdekaan.</p>
<p>Jumlah mereka memang tidak banyak. Dari total 272 anggota DPR yang dilantik, sebagian besar berasal dari partai-partai politik peserta Pemilu 1955. Namun terdapat pula perwakilan yang diangkat untuk mewakili kelompok tertentu. Menurut catatan Aisyah Amini dalam Pasang-Surut Peran DPR-MPR, 1945-2004, sebanyak 12 kursi diberikan kepada wakil golongan minoritas keturunan asing dan Tionghoa. Wens menjadi salah satu figur yang menempati ruang politik tersebut.</p>
<p>Kehadiran tokoh-tokoh minoritas di parlemen sebenarnya mencerminkan wajah Indonesia yang plural. Negara yang baru berusia satu dekade itu berusaha merangkul berbagai kelompok masyarakat agar turut terlibat dalam proses pembangunan politik. Di atas kertas, semangat persatuan dan kesetaraan menjadi landasan utama.</p>
<p>Namun jalan yang ditempuh Wens tidak selalu mulus. Di balik kursi parlemen yang berhasil diraih, muncul pertanyaan mengenai status kewarganegaraannya. Isu tersebut berkembang menjadi polemik yang tidak hanya bergulir di ruang politik nasional, tetapi juga memicu intrik di lingkungan organisasi Indo. Identitas kebangsaan yang semestinya telah selesai setelah kemerdekaan justru kembali menjadi bahan perdebatan.</p>
<p>Fenomena itu menggambarkan kompleksitas masa transisi Indonesia pada dekade 1950-an. Saat negara berupaya membangun sistem demokrasi yang inklusif, persoalan identitas, kewarganegaraan, dan loyalitas masih menjadi isu sensitif. Kelompok Indo, yang berada di antara warisan kolonial dan identitas Indonesia yang baru, kerap menghadapi pertanyaan mengenai posisi mereka dalam republik yang sedang dibangun.</p>
<p>Di tengah berbagai polemik tersebut, nama E.F. Wens tetap tercatat dalam sejarah sebagai salah satu representasi kelompok minoritas yang berhasil masuk ke lembaga legislatif nasional. Kisahnya menunjukkan bahwa demokrasi Indonesia sejak awal tidak hanya dibangun oleh tokoh-tokoh dari partai besar, tetapi juga oleh individu-individu yang mewakili kelompok kecil dengan tantangan identitas yang jauh lebih rumit.</p>
<p>Lebih dari tujuh dekade kemudian, perjalanan Wens menjadi pengingat bahwa keberagaman selalu menjadi bagian dari fondasi Indonesia. Di balik perdebatan mengenai kewarganegaraan dan identitas, terdapat upaya panjang untuk memastikan bahwa setiap kelompok masyarakat memiliki tempat dalam kehidupan politik bangsa.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jelajahnusantara.co/po-content/uploads/202606/1003846215.png" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[E.F. Wens (Istimewa)]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Feature]]></category></item></channel></rss>