Surabaya (jelajahnusantara.co) – Ada yang menarik dan selalu ditunggu tunggu oleh warga saat menggelar acara Sedekah Bumi. Bukan karena arak arakan buah maupun tumpeng yang lezat tapi permainan tradisional Gulat Okol selalu menjadi pusat perhatian masyarakat.

Gulat okol atau gulat tradisional merupakan permainan tradisi warisan nenek moyang yang selalu dihadirkan setiap menggelar acara Sedekah Bumi. Bertujuan menyatukan dan mempererat persahabatan baik antar anak anak maupun remaja.

Seperti Gulat Okol yang dilakukan oleh warga Dukuh Bungkal Sambikerep, Surabaya saat menggelar tradisi Sedekah Bumi pada Minggu, 06 September 2019 di Panggung Balai RW 03 Bungkal.

Sariadi selaku Ketua Panitia acara menyampaikan bahwa, olahraga ataupun permainan tradisional Gulat Okol yang sekilas serupa olahraga Sumo di Jepang ini diikuti oleh anak anak usia 10 tahun hingga remaja usia 25 tahun.

“Bedanya, alas untuk Gulat Okol ini menggunakan jerami. Sehingga, tidak akan membuat sakit para peserta meskipun jatuh. Sedangkan, para pemainnya menggunakan udeng (ikat kepala) dan selendang yang dilingkarkan dibagian tubuh,” kata Sariadi usai menggelar acara Sedekah Bumi, Minggu, (06/10/19).

“Kenapa harus pakai ikat kepala atau udeng, karena itu salah satu simbol orang Jawa dahulu kala, sedangkan selendang memiliki arti persahabatan yang erat. Meski pada permainan mereka saling menjatuhkan dengan membanting di atas jerami,” sambungnya.

Dalam permainan tersebut, masih menurut Sariadi, para peserta saling banting layaknya atlet gulat untuk menjadi pemenang. Tak ada kemampuan khusus yang harus dimiliki untuk menjdi peserta Gulat Okol. Pemenangnya ditentukan berdasarkan peserta yang mampu menjatuhkan lawan.

“Dalam permainan ini bukan kalah atau menang tujuan utamanya melainkan lebih mengarah untuk menyatukan persahabatan . Baik antar warga satu lingkungan maupun dengan warga lainnya,” terangnya.

Dalam permainan ini, peserta dijamin keselamatannya karena gelanggangnya tak lain adalah panggung yang disulap menjadi arena gulat dan beralaskan jerami. Hal ini ditujukan agar pegulat yang terjatuh atau berguling-guling tidak akan merasakan sakit.

Suasana gulat okol semakin menarik dengan diiringi musik gamelan. Sehingga, membuat suasana terlihat lebih ke alam desa.

Antusias warga untuk mengikuti gulat okol semakin tinggi. Terlihat, yang dulunya peserta gulat okol hanya diikuti oleh warga sekitar RW 03, kini diikuti hampir semua wilayah diluar RW 03. (Tls)