Flores (Jelajahnusantara.co) -‘Tula Ahar’ merupakan salah satu ritual adat khas desa Watuwawer, Kecamatan Atadei, yang diselenggarakan secara meriah dan melibatkan segenap warga desa setempat.

Berdasarkan bahasa tutur yang terbetik dari berbagai nara sumber, ritual ini dijalankan dalam rangka memandikan anak sulung oleh pemangku adat, yang terselenggara di ‘koker’ (rumah adat).

Di desa Watuwawer terdapat 6 (enam) ‘koker’  yang dapat dijadikan sebagai tempat diselenggarakannya ritual ini, yakni Koker Luwa Bruin, Koker Luwa Nujan, Koker Wawin, Koker Lerek, Koker Huar dan Koker Koban.

‘Tula Ahar’ yang diselenggarakan di salah satu ‘koker’ dapat diikuti oleh keluarga lain dari suku-suku penghuni desa Watuwawer yang sama-sama mewarisi tradisi ini, yakni Wawin, Lajar, Karang, Lerek, Tukan , Koban, Huar dan Lejap. Hal ini menggambarkan ikatan kebersamaan yang dilukiskan melalui syair-syair ‘Kolewalan’ (setangkai-setandan) yang biasanya dilantunkan dalam tarian adat yang dipertunjukan masyarakat untuk meriahkan pesta ‘Tula Ahar’.

TAHAP-TAHAP RITUAL ‘TULA AHAR’

Ritual ‘Tula Ahar’ lazimnya berlangsung selama satu pekan, karena harus melewati 4 (empat) tahapan ritus yang masing-masingnya berselang 2 (dua) hari, diantaranya: Pertama, diawali dengan ritus pembuka di hari pertama, yakni ‘Tar Elor’ (penetapan jadwal).

Pada tahap ini, kepala suku atau ‘Temulu Kenahin’ (pemandu/pemimpin upacara yang menguasai seluruh rangkaian acara) menyampikan kepada leluhur bahwa ibu dan anak dari keluarga terkait akan dihantar memasuki ‘koker’ guna temu wei aheren (menerima permandian adat).

Kedua, ritus ‘Beraweye Gewei’.  Tahapan kedua terjadi pada hari ketiga, dimana ibu dan anak memasuki ‘koker’ , namun hanya ‘ina beneren’ (peserta utama) yang tinggal selama dua hari. Keesokan malamnya ‘beroweye beneren’ (peserta tambahan utama) menyusul masuk dan tinggal semalaman menunggu upacara keesokan harinya.

Ketiga, ritus ‘Beraweye Dopai’. Tahapan ini berlangsung pada hari kelima, dimana ibu dan anak keluar dari ‘koker’ sekaligus menjalani upacara mandi adat. Pada tahap ini, ‘hama etiken’ (menarikan anak) dan ‘lebu etiken’ (memandikan/mereciki anak) menjadi bagian inti dan sangat penting karena aktivitas tersebut sesungguhnya memiliki symbol harapan bagi anak-anak yang dimandikan. Bagi anak pria diharapkan akan menjadi orang yang mempunyai pekerjaan yang baik agar dapat membantu sesama yang berkekurangan. Hal ini dilukiskan dalam syair ‘hope bala hogo roi tau kuna ae rua’ (belilah gading untuk membantu orang yang melarat). Bagi anak wanita diharapkan memiliki keterampilan sebagai wanita yang menunjang kehidupan keluarga. Hal ini dilukiskan dalam syair ‘lei limuta helaga wewan demu ro ketebu’ (jadilah wanita yang terampil memintal benang dan menenun). Ritus Ini merupakan ritus puncak yang dirayakan secara meriah. Akhir dari tahapan ini dilanjutkan dengan acara makan bersama secara adat dan ditutup dengan pagelaran tarian rakyat ‘Kolewalan’ (setangkai-setandan).

Keempat, ‘Hemelung Ketane’, yang merupakan ritus penutup yang terjadi pada hari ketujuh. Pada tahapan penutup ini, ‘wei aheren’ (air adat) akan dihabiskan dengan memandikan ibu dan anak peserta upacara dan anggota keluarga yang membutuhkan restu leluhur dan memohon penyembuhan.

Ritual ‘Tula Ahar’ ini diwajibkan hanya 1 (satu) kali untuk tiap keluarga, artinya kalau anak sulung sudah mengikuti ritual ini maka adik-adiknya yang terlahir kemudian tidak perlu lagi mengikuti ritual ini, atau cukup satu anak dalam keluarga. Apabila ritual ini tertunda sementara sudah terlahir anak berikutnya maka acara ‘hama etiken’ (menarikan anak sambil diiringi lagu ‘Dei Pana Ro’: Bangun dan Berjalanlah) dilakukan untuk anak terakhir.

TULA AHAR’: RITUAL INISIASI  

Inisiasi berasal dari kata bahasa Latin, initium, yang berarti masuk atau permulaan, secara harafiah berarti masuk ke dalam. Di dalam bahasa Inggris, Inisiasi berasal dari kata initiate, yang berarti memulai suatu kegiatan. Inisiasi adalah sebuah perayaan ritus yang menjadi tanda masuk atau diterimanya seseorang di dalam sebuah kelompok atau suku atau komunitas atau masyarakat

Berpijak pada arti  harafiah istilah inisiasi, ‘Tula Ahar’ dapat dikatakan sebagai tahap awal/pembuka untuk selanjutnya ‘masuk lebih ke dalam’ guna memahami dan menghidupi nilai dan norma yang telah dikukuhkan sebagai pedoman bertutur dan berperilaku dalam lingkup budaya Watuwawer. Dengannya ‘Tula Ahar’ merupakan sebuah seremoni ritual yang menjadi tanda masuk atau diterimanya seseorang di dalam kelompok suku atau komunitas atau masyarakat desa Watuwawer.

Ritual inisiasi orang desa Watuwawer ini merupakan ritual adat yang diwajibkan secara turun temurun bagi setiap anak sulung. Adalah menjadi keharusan bagi setiap keluarga baru yang telah melahirkan anak pertama agar menghantar anak tersebut ke rumah adat guna dimandikan (Temu Wei Aheren).

Seorang wanita sejak resmi menjadi pasangan hidup seorang pria dari desa Watuwawer, otomatis diikat oleh aturan adat (uhur ahar) ini dan harus patuh di bawah pantangan-pantangan adat, yakni pantang terhadap jenis makanan tertentu dan patuh pada tatakrama tertentu.

Pelanggaran terhadap pantangan dan aturan tatakrama akan berakibat keluarga tidak sehat, khususnya ibu dan anak akan mudah terserang penyakit, dapat menderita penyakit kulit tertentu, rambut gugur dan gangguan kesehatan yang lain.

Sejauh dimaknai sebagai ritual inisiasi, ‘Tula Ahar’ memiliki beberapa fungsi, antara lain (a) Fungsi Inisiasi, yakni anak dan mamanya diterima sebagai warga komunitas suku atau masyarakat.

Fungsi inisiasi ini untuk menyatakan makna yang dalam dari keadaan menuju generasi baru dan membantu mereka memikul tanggung jawab atas tindakan manusia yang benar dan partisipasi dalam kebudayaan.

(b) Fungsi Pembebasan, dimana ibu dan anak dinyatakan bebas dari pantangan/larangan  ahar sebelum melewati ritual ini dan sekaligus terbebas dari penyakit diderita akibat melanggar  pantangan/larangan  ahar. Dalam ritual ini, ‘wei aheren’ digunakan sebagai media yang berfungsi sebagai pembersih. ‘Wei aheren’ memiliki makna membersihkan/membebaskan dari kotoran.

(c) Fungsi Pemersatu, dimana dengan gelaran ritual inisiasi ini, iklim kebersamaan dan gotong royong yang mengarah pada semangat persatuan terjalin harmonis, bukan hanya dengan mereka yang kelihatan (warga suku/masyarakat)  tetapi juga dengan mereka yang tidak kelihatan, yakni para leluhur dan  wujud tertinggi ‘Lera Wulan Tana Ekan’ (leluhur para leluhur).

(d) Fungsi Cinta Lewotana, dimana ritual inisiasi dengan daya perekatnya, mampu menggerakan, menarik kembali atau memanggil pulang kampung segenap keluarga yang merantau atau berkarya di luar daerah demi sebuah proses normalisasi adat dengan menyelenggarakan ritual khas Watuwawer ini.

OPINI

Berikut ini adalah beberapa opini beberapa pelaku dan penikmat ritual inisiasi khas desa Watuwawer. Opini ini berisi pengalaman yang mereka rasakan ketika berada dan terlibat dalam gelaran budaya ini.

“Upacara yang diselenggarakan ini merupakan warisan budaya turun-temurun yang diwariskan para leluhur yang perlu dipelihara dan dikembang-lestarikan, tidak saja sebagai sarana pemersatu suku tapi juga sebagai event budaya yang merupakan kekayaan pariwisata budaya di Pulau Lembata. Untuk itu diperlukan yang paling utama ialah kesadaran para ahli waris budaya yakni masyarakat desa Watuwawer untuk tetap menghargai dan menjalani upacara tradisional ini dengan bangga atas dasar: (1) warisan budaya adalah jati diri warga suku yang perlu tetap dijaga. (2) sebagai bentuk penghargaan kita kepada leluhur/nenek moyang kita. (3) sebagai bukti bahwa leluhur kita telah memiliki kebijakan magis religious yang bernilai tinggi. (4) sebagai sarana untuk menjalin persatuan dan kesatuan serta semangat gotong-royong warga suku. (5) sebagai kekayaan rohani warga suku yang dapat menjadi daya tarik pariwisata.” (Kornelis Kae Lejap, Lewoleba, Juni 2011).

“Menjalankan dan menghidupkan Ahar berarti mempererat jalinan relasi baik dengan sesama (horisontal) maupun dengan Lera Wulan Tana Ekan ( vertikal). Artinya dengan Ahar iman akan Lera Wulan Tana Ekan semakin di perteguh karena keduanya merupakan sebuah benang merah yang mengikat satu tujuan. Dengan Ahar pula Allah mentrasformasikan dirinya sehingga Ia tidak lagi menjadi transenden namun dapat dijumpai, dirasakan, dan akrab dengan manusia hasil kreasiNya. Oleh karena itu meremehkan Ahar apalagi menghilangkannya, sama saja dengan mengkhianati kemartabatan para leluhur yang berarti pula mengingkari iman kita akan Allah, Leluhur para Leluhur. Maka marilah kita senantiasa melestarikan warisan budaya leluhur ini yang sungguh kaya akan nilai-nilai hidup yang tidak dimiliki oleh orang lain. Saya sungguh bahagia dan bangga memiliki adat seperti ini. Semoga para leluhur dan Lera Wulan Tana Ekan selalu pada pihak kita yang berkehendak baik.” (Fr. Radja Lejap, HHK, Yogyakarta, 29-9-2012).

“Upacara adat ‘Tula Ahar’ dapat dikagumi dari ketahanan tradisi yang masih dijaga oleh alih waris (masyarakat Watuwawer), namun ada beberapa masalah yang muncul. Upacara ini belum memiliki kalender adat. Hal ini penting untuk diperhatikan kalau upacara ahar mau diangkat menjadi objek wisata budaya. Selain itu, mental masyarakat yang lamban yang menjadi penghambat jalannya prosesi ritual ini dan nyaris menjadi ciri khas orang Watuwawer. Meski sudah ada kesepakatan waktu dan tugas, namun ketika dibutuhkan, masih harus dipanggil dan dijemput. Dan satu hal yang patut diperhatikan ke depan, yakni ritual ini memiliki kesamaan esensi dan aksistensi dengan ritual yang dijalankan di kampung-kampung sekitar seperti Lewograma, Lewokoba dan Bnolo-Bauraja (Ahar tu: satu ahar)). Untuk itu, perlu dilakukan penyelarasan atau penyerasian identitas sebagai langkah antisipatif terhadap bahaya penyimpangan atau pembelokan makna ahar. (Petrus Ata Tukan dan Anton Dolu Wawin, Watuwawer, Agustus 2014).

 

Naskah: Hans Koban
Video: Irno Wukak (Jelajah Nusantara)