Surabaya (Jelajahnusantara.co) -Hari Seni Cokro (HANCOK) kembali dilaksanakan di tengah hiruk-pikuk keramaian kota Pahlawan, yang di gelar pada 27-29 September 2019 di Warung Mbah Cokro. Kegiatan seni dan budaya ini merupakan acara tahunan yang melibatkan seniman dari berbagai kota di Indonesia.

Mulai seni musik, seni rupa, hingga sastra. Untuk tahun ini, panitia mengambil tema “Gugur Gunung”, yang merupakan ungkapan keyakinan akan kekuatan gotong royong sebagai metode berkegiatan sebagaimana tahun sebelumnya, kali ini HANCOK dilaksanakan selama 3 hari berturut-turut, dengan mendatangkan seniman musik, sastra, tari, monolog, seni tradisional ludruk dan teatrikal dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Tuban, hingga Jakarta, “Secara khusus kami mengundang Anto Baret, budayawan sahabat karib Alm. W.S Rendra”.

Di tahun ini HANCOK juga membuka Pasar Malam yang diisi beragam pelapak independen yang berjualan barang-barang hasil kreatifitas mereka sendiri. Dari segi pameran, tahun ini HANCOK #3 diramaikan dengan pameran fotografi, bekerjasama dengan Komunitas Matanesia.

Dalam perjalanannya ditahun ke 3 ini HANCOK Masih berjalan secara independen, dimana dalam peristiwa ini tidak ada nama sponsor yang berdiri dan mendorong aspek finansial di belakang HANCOK #3. Semua kebutuhan pelaksanaan HANCOK diperoleh dari berbagai upaya yang didasari oleh prinsip kemandirian yang dilakukan secara bergotong royong sejak HANCOK pertama kali digelar pada Desember 2017.

Seluruh kebutuhan pelaksanaan HANCOK, dipenuhi melalui berbagai upaya, diantaranya hasil penjualan merchandise, Pentas Kecil (re: ngamen) di Warung Mbah Cokro, dan lelang karya, maupun “urunan” baik materiil/ material dari para dermawan yang juga ingin mensukseskan HANCOK #3.

Berbeda dengan HANCOK sebelumnya, di tahun ini, panitia melaksanakan kegiatan yang lebih beragam diantaranya bakti sosial di kampung keputih timur gang baru, pameran bertajuk “Ampun Seniman” yang ditunggalkan oleh M. zurqoni, pemutaran film indie dari komunitas film festival proyeksi, pentas tunggal yang dilakukan oleh Ndimashoe, dan Seket Astakula, lomba menggambar anak-anak, berbagai workshop diantaranya batik lukis, tiedye, dan photografi.

Kata “HANCOK” memanglah bukan satu kata yang asing lagi bagi masyarakat Surabaya dan Jawa Timur. Diksi ini dapat menjadi perwakilan atas sapaan akrab, hingga semangat dalam melakukan suatu hal, seperti perubahan dan perlawanan.

Hari Seni Cokro diharapkan dapat menjadi ikon kesenian yang konsisten dalam mewujudkan semangat gotong royong dan berdikari dalam mengisi ruang-ruang kebudayaan. Melalui HANCOK #3, juga
HANCOK-HANCOK di tahun selanjutnya.