Jelajahnusantara.co -Sosok Nyai Ontosoroh tak terlepas dari hasil goresan tinta Pramoedya Ananta Toer dalam novel “Bumi Manusia”. Pemilik Perusahaan Pertanian Buitenzorg ini punya masa lalu yang kelam. Sepenceritaan Pram, Nyai Ontosoroh yang bernama asli Sanikem, dijual ayah kandungnya pada usia 14 tahun. Sanikem dijual oleh sang ayah yang haus kekuasaan kepada pengusaha Belanda bernama Herman Mellema.

Itulah mengapa, Sanikem menjadi gundik sehingga menerima julukan “Nyai”. Kata “nyai” saat itu digunakan untuk menggambarkan seorang perempuan yang bodoh, jorok, bermoral rendah, pelacur, gundik, selir, atau wanita piaraan para pejabat dan serdadu Belanda.

Hidup dengan seorang Eropa tak lantas menjadikan Sang Nyai berperadaban maju. Ia tetap harus berusaha bangkit dan belajar untuk keluar dari segala keterpurukan, penghinaan, dan kebodohan. Sanikem alias Nyai Ontosoroh pun belajar berhitung dan baca tulis.

Dia juga belajar tata niaga, belajar bahasa Belanda, bahasa Melayu, membaca media Belanda, belajar budaya dan hukum Belanda. Sebab dia berharap pada suatu hari semua pengetahuan itu akan berguna untuk dirinya dan anak-anaknya.

Apa yang ia lakukan merupakan sikap untuk mengubah citra buruk gundik pada masanya. Bahwa seseorang yang sudah terlanjur menjadi gundik mampu memperbaiki harga dirinya. Tak ayal, Nyai Ontosoroh berhasil menguasai bahasa Belanda dengan cukup baik dan fasih serta piawai mengerjakan urusan perkantoran seperti administrasi dan surat menyurat.

Tak heran jika Magda Petters, seorang guru berkewarganegaraan Belanda -guru Minke-, memuji Nyai Ontosoroh dengan, “Baru aku bertemu seorang, dan perempuan pula, yang tidak mau berdamai dengan nasibnya sendiri.”

Melalui tokoh Nyai Ontosoroh, Pram menghadirkan sosok perempuan yang kuat, pintar dan melindungi keluarga. Tokoh ini tidak genit ketika bertemu dengan laki-laki, tidak mencoba merayu laki-laki Belanda atau menjual tubuhnya agar persoalan menjadi beres. Bahkan setelah ditinggal suaminya meninggal pun Nyai Ontosoroh tidak segera mencari pendamping hidup untuk mengisi kekosongan hatinya. Padahal banyak pria yang datang untuk melamarnya.

Nyai Ontosoroh merupakan potret perempuan yang kuat dan senang belajar. Dalam masa keterpurukannya, dia berpikir, hanya dengan belajarlah dia bisa memperbaiki hidup dan mengubah cara pandang masyarakat.

(Fadhil Nugroho Adi, Berbagai sumber/CN41/SM Network)