Yogyakarta, Jelajahnusantara.co -Yogyakarta masih di kenal dengan kawasan Malioboro yang masih menjadi pusat wisata. Namun, usai jalan-jalan dan berbelanja di pusat perbelanjaan Malioboro, wisatawan disarankan lanjut menuju desa wisata di pinggiran Kabupaten Sleman yang populer dengan nama Kampung Flory.

Desa wisata yang berada di kawasan Kali Bedog dengan kejernohan airnya plus suasana khas pedesaan serta sawah yang membentang luas.

Lokasi Kampung Flory seluas lima hektar yang terletak di Desa Wisata Tlogoadi, Mlati, Kabupaten Sleman, Yogyakarta itu cukup mudah di akses lewat Jalan Magelang-Yogya dengan jarak kurang lebih 20 kilometer.

Desa wisata yang resmi beroperasi sejak 2016 itu, kerap menjadi langganan outbond dan plesiran keluarga karena memiliki fasilitas cukup lengkap.

Zona Taruna Tani merupakan area pertanian di Kampung Flory yang di dalamnya terdapat usaha tanaman hias, tanaman buah, kampung oleh-oleh dan sentra kuliner bernama Iwak Kalen.

Sedangkan zona Dewi Flory merupakan kawasan desa wisata yang menyajikan jasa penginapan (homestay), area outbond, jembatan gantung dan sentra kuliner Bali Ndeso serta kedai kopi bernama Kopi Keceh.

“Kampung Flory awalnya terbentuk dari inisiatif kelompok pemuda desa dalam wadah bernama Taruna Tani tahun 2015 silam yang berfokus pada kegiatan budidaya tanaman hias dan hortikultura” ujar Pengelola Wisata Flory Sudihartono saat Pelatihan Wartawan Rekanan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Se-Jawa Timur, Jumat (23/8/2019).

Kampung Flory ini dikelola seluruhnya oleh warga desa setempat dengan jumlah total sekitar 40 orang plus pemandu lepas sekitar 10 orang, setiap harinya beroperasi dari pukul 08.00 – 21.00 WIB itu tak hanya menyuguhkan pemandangan alam khas dan wahana rekreasi.

Para wisatawan juga bisa mendapatkan wisata edukasi dan pengetahuan pelestarian lingkungan. Banyak obyek di desa wisata ini yang menyediakan sarana untuk pembelajaran tentang alam dan lingkungan itu. Seperti pengenalan bibit hingga cara menanam.

Sudihartoni menuturkan meski belum lama beroperasi, namun setiap akhir pekan, lahan parkir yang disediakan seluas satu hektar selalu penuh kendaraan wisatawan berbagai daerah.

Rata-rata kunjungan di Kampung Flory berkisaran 200 pengunjung perhari sedangkan hari libur bisa mencapai 2000 pengunjung. Dengan omset awal 30 juta perbulan, dalam tahun ini omset mencapai 600 juta perbulan, dengan target 1 miliar perbulan.

Untuk outbond sendiri di Kampung Flory relatif murah, hanya sekitar Rp 25-65 ribu per orang. “Outbond yang tersedia untuk berbagai usia,” ujarnya.

Meski mulai mapan membawa Kampung Flory menjadi wisata alternatif di Yogyakarta, pihaknya masih belum puas dan tetap berharap sentuhan pemerintah daerah juga swasta demi menyempurnakan desa wisata itu.

“Kami ingin membawa Kampung Flory ini menjadi sarana penggerak perekonomian warga sekitar, sehingga semua bisa ikut merasakan peningkatan kesejahteraan dari destinasi wisata ini,” tutupnya. (dhn/bj/bud)