Penulis: Lilik (lawu)

Tahun 2006, Saya terlibat produksi pementasan teater kolosal berjudul NYAI ONTOSOROH, adapatasi dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer (PAT), skenario ditulis oleh Faiza Marzoeki.

Mengapa Saya katakan kolosal? Karena memang secara produksi, skenario teater ini disebar di beberapa kota di seluruh Indonesia, termasuk Surabaya.

Membutuhkan banyak pemain sekaligus kolaborasi tim produksi yang besar. Ketika membaca skenario teater ini, memang benar-benar turunan dari novelnya, adaptasi pyur tapi menitik-beratkan kepada ketangguhan, kecerdasan, rasa dendam sekaligus keanggunan dari sosok Nyai Ontosoroh atau Nyai Wonokromo atau Sanikem.

Jelajahnusantara.co -Bercerita tentang bagaimana masa muda Nyai Ontosoroh yang dijual oleh ayahnya (Sastrotomo, juru tulis) kepada Tuan Herman Mellema seorang Belanda totok, untuk sebuah jabatan di perkebunan (menjadi kasir setelah magang selama dua tahun).

Hal tersebut menjadikan Nyai Ontosoroh harus bersekutu dengan penderitaannya karena menjadi gundik adalah hina di mata masyarakat, tapi juga harus bertindak cepat dalam menyerap semua ilmu yang diajarkan Tuannya, agar menjadi perempuan survive.

Sampai suatu saat, Herman Mellema terbunuh karena racun di tempat pelacuran, anak lelakinya (Robert Mellema) hancur di tempat yang sama dan menghilang, anak perempuannya (Annelies Mellema) diasingkan ke negeri Netherlands dan harta kekayaan Nyai dirampas Hindia Belanda.

Itulah keputusan akhir dari proses sidang demi sidang pengadilan yang dihadapi Nyai dan Minke (suami Annelies). Pembelaan dan bukti tertulis bahwa seluruh kekayaan atas nama Sanikem tak digubris dan Annelies hanyalah anak akuan Herman Mellema dengan perempuan bernama Sanikem tapi tetap saja Sanikem bukanlah Mefrouw (Nyonya) Mellema karena belum dinikahi secara syah.

Pementasan ini berdurasi hampir tiga (3) jam, dibagi menjadi dua (2) babak, dengan jeda istirahat selama tiga puluh (30) menit. Sama halnya dengan film Bumi Manusia yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo, produksi PH Falcon (gala premiere di XXI Surabaya Town Square, Jum’at, 09 Agustus 2019).

Film ini, merupakan adaptasi pyur dari novelnya. Seolah Hanung dan Salman Aristo (Penulis Skenario), ingin menuangkan keseluruhan novel dalam film. Ini jelas tak mungkin, dikarenakan perbedaan media.

Novel dengan kekuatan tulisan, membebaskan imajinasi pembaca, membuat pembaca memilih karakter mana yang cocok dengan kepribadiannya, membuat pembaca melepaskan sejenak realita kehidupannya sehari-hari dan secara sadar masuk kedalam realita novel.

PAT berhasil melakukan itu melalui kekuatan para karakter tokoh dan pencerahan dengan kalimat-kalimat bijak dalam menghadapi kerasnya kehidupan.

Terbukti, novel Bumi Manusia menjadi karya besar yang disukai masyarakat Indonesia, bahkan dunia. Novel berjudul Bumi Manusia (1980) adalah satu (1) dari tetralogi karya PAT, judul selanjutnya adalah Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985) dan Rumah Kaca (1988).

Sementara Hanung dalam film Bumi Manusia, seharusnya memakai kekuatan visual dan audio, yang membuat penontonnya rela membayar tiket untuk dapat melihat goresannya pada gambar bergerak, di dalam ruangan yang bernama bioskop, yaitu ruangan tertutup yang gelap, nyaman, tanpa bisa memutar-ulang dan mem-pause film untuk sekedar ke toilet, tanpa iklan yang menjeda pemutaran dan memaksa mata serta telinga penonton supaya terfokus pada layar lebar.

Apa yang ditawarkan Hanung dalam film ini? Bukankah imajinasi penonton tak boleh muncul di sana karena dijejali oleh imajinasi sutradara? Penonton dengan pengalaman hidupnya masing-masing, pendidikannya, latar-belakangnya dan sebagainya, disodori karakter tokoh dalam film untuk dipilih, dengan maksud agar realita keseharian penonton sejenak terabaikan. Penonton harus memasuki realita film.

Lantas, realita film yang bagaimana yang ditawarkan Hanung? Edukasi apa untuk penontonnya? Ide segar apa yang bisa diendapkan kepada penonton untuk dibawa pulang? Atau hal yang menghibur yang bagaimana, yang diinginkan Hanung, diantara kesibukan penonton yang menyempatkan waktunya untuk menonton film ini? Halo? Saya rasa, Hanung kurang berhasil menggiring imajinasi penonton terhadap ide besar yang diembannya.

Kalau memang Hanung bermaksud menuangkan keseluruhan novel dan ide besar PAT dalam film, harusnya dengan menggunakan kekuatan visual dan audio, dengan memanfaatkan semua unsur dalam film melalui framing-framing, ia mampu mengolah secara kreatif dan filmis.

Membawa hal yang segar. Yang inovatif. Yang keluar dari kekhasan PAT. Yang menunjukkan sentuhan orijinal Hanung, kekhasan Hanung yang bukan hanya tentang percintaan biasa tapi lebih amazing,lebih kompleks menyentuh kehidupan berbangsa. Karena dengan satu (1) frame atau bingkai shot, Hanung dapat berbicara banyak hal, baik tersirat maupun tersurat.

Memang mengkritik adalah hal mudah tapi mengingatkan betapa pentingnya kekuatan film dalam membentuk paradigma masyarakat adalah hal yang amat perlu. Sebagai seniman, filmmaker, artis, Hanung pasti paham akan itu. Karena seniman haruslah menawarkan ide cemerlang yang tak biasa, out of the box dan pencerahan atas pendapat kebanyakan orang dengan caranya di ranah kreatif.

Mari kita mengenal tujuh (7) unsur dalam bidang film:

Penyutradaraan – pimpinan kreatif film menyangkut konsep ide, karakteristik dll.
Penulisan skenario – ide cerita, dramaturgi, karakter tokoh dll.
Manajemen produksi – pimpinan produksi menyangkut sumber dana, jadwal dll. Penataan suara – menata perekaman dialog, suara alam/ambience, skoring musik dll.

Penataan artistik – menata kostum, make up, seting, properti dll.
Penataan kamera – menata tipe shot, pencahayaan, pergerakan kamera dll.

Penyuntingan gambar/editing – menata gambar, memberi efek dll.

Sebanyak itulah unsur dalam film yang harus dikerjakan, dikolaborasikan dengan banyak orang dengan keahlian masing-masing, memerlukan proses yang panjang, uang yang tak sedikit, energi yang besar, sehingga memahami bersinergi adalah penting.

Tak ada yang tak bagus dalam film Bumi Manusia, banyak hal yang bagus. Semoga semua dilakukan dengan riset yang mendalam, karena film bukanlah alat pembodohan massal tetapi sebagai aset yang mendidik sekaligus menghibur.

Meskipun ada beberapa adegan yang tak mirip dalam novel, Saya rasa tak mengapa, syah saja, toh pasti untuk kebutuhan film supaya lebih efektif dalam memanfaatkan durasi dan unsur-unsur filmis, sehingga pesan diterima penonton dengan mudah.

Hanya saja, skenario film ini nanggung, film ini nanggung. Kekuatannya tak jelas, apa yang mau ditonjolkan. Beberapa adegan bisa dipenggal sana-sini untuk memadatkan esensi ide, esensi cerita, tak bertele-tele.

Ada gambar dan suara tapi tak tersusun dengan cantik, yang harusnya dapat menjelaskan suatu keadaan penting melalui pemilihan tipe shot yang tepat, yang memberikan penekanan informasi (emphasis) atau melalui kekuatan audionya.

Benang merah cerita dititik-beratkan kepada karakter tokoh Minke, yang menurut Saya tak cukup kuat, malahan terjebak pada unsur percintaan biasa, bukan hal besar yang menyangkut bagaimana Hindia Belanda memperlakukan Pribumi dengan segala strata dan aturan undang-undang pengadilannya dalam segala aspek kehidupan di bumi Indonesia.

Terlihat ada arah ke sana sebenarnya, tetapi tak tergambarkan dengan jelas, kuat dan cantik. Entah kenapa. Seperti kurang menguasai ide besar PAT.

Seperti kesulitan menentukan detil-detil yang dirangkum sederhana dan dituangkan dengan elok dan kreatif. Semoga itu semua bukan alasan karena adegannya dipotong oleh Lembaga Sensor Film (LSF) kan? Karena adegan Minke dan Annelies diselimuti Nyai dalam kamar, yang jelas menggambarkan bahwa mereka bercinta sebelum menikah, tak dipotong.

Seandainya film Bumi Manusia memanfaatkan kalimat dan tindakan bijak dalam novelnya, semisal:

Kalimat Nyai, “Anakku tak boleh dijual oleh siapapun dengan harga berapapun. Aku akan berkelahi untuk harga diri anakku. Ibuku dulu tak mampu mempertahankan aku, maka dia tak patut menjadi ibuku.

Bapakku menjual aku sebagai anak kuda, diapun tak patut jadi bapakku” – kalimat ini kalau dipadukan dengan gambar bagaimana Ibunda Sanikem mendebat keras keinginan suaminya yang akan menjual Sanikem seharga dua puluh lima (25) gulden dan jabatan, alangkah eloknya.

Bagaimana Sanikem tidak menemui orangtuanya ketika mereka bertamu ke rumah Herman Mellema, sebagai jawaban bahwa Sanikem memutuskan hubungan dengan orangtuanya.

Ini Saya rasa jauh lebih efektif menuangkan pesan mendalam, dibanding hanya memperlihatkan Ibunda Sanikem berteriak sambil berlari mengejar Sanikem yang dibawa ayahnya dengan dokar, kemudian tergesa meminta bantuan anak lelakinya yang sedang bermain ayam di halaman rumah, lalu memukulkan kurungan ayam ke anaknya tersebut karena anak lelakinya seolah tak mengetahui apa yang terjadi.

Bagi Saya, adegan yang seharusnya ironis tersebut menjadi agak konyol. Adegannya membuat Saya tertawa. Saya tertawa atas human trafficking. Bayangkan.
Kalimat pujian guru HBS Minke (Magda Peters), “Minke, Mamamu luar biasa. Pakaiannya, pemunculannya, sikapnya, kecuali renda kebaya dan bahasanya, ia seluruhnya Perempuan Pribumi.

Patut dia menjadi gurumu. Sekiranya tak ada sifat pendendam itu, sungguh gemilang. Perempuan yang tak mau berdamai dengan nasibnya sendiri. Betapa dia punya kesadaran hukum begitu tinggi. Dia bisa lebih maju lagi.

Sayang orang semacam itu takkan mungkin dapat hidup ditengah bangsanya sendiri. Dia seperti batu meteor yang melesat sendirian, melintasi keluasan tanpa batas, entah dimana akan mendarat, di planet lain atau kembali ke bumi atau hilang dalam ketakterbatasan alam” – jika saja kalimat ini diberi gambar Nyai sedemikian keras belajar apapun demi menaikkan derajatnya agar tak menjadi seperti gundik naas seperti kebanyakan, karena ternyata Herman Mellema adalah tuan yang baik pada suatu masa tertentu, yang berjasa mengajarinya belajar banyak hal untuk menjadi pengusaha, pedagang dan tahu tentang hukum, sehingga mampu membuat Annelies mempunyai alasan kuat mengapa dia ingin menjadi Pribumi seperti Nyai. Alangkah indahnya, tapi Saya tak medapatkannya dalam film.

Nyai seolah digambarkan sebagai sosok luar biasa tapi penggambarannya hanya sekilas dan sebatas Nyai memeriksa pembukuan perusahaan.

Annelies juga hanya diperlihatkan menulis pembukuan dan memeriksa cabai tetapi tak ada gambar yang memperlihatkan bahwa Annelies benar-benar dididik Nyai belajar banyak hal setelah Nyai mengeluarkannya dari sekolah.

Adengan bagaimana Nyai dan Minke memperjuangkan legalitas syah pernikahan Minke dan Annelies yang didapat karena Nyai mendorong Minke menggores penanya lebih tajam untuk menggugat pengadilan Hindia Belanda karena tak mengakui pernikahan syahnya secara Hukum Islam, sehingga Annelies sebagai istrinya tak perlu diasingkan ke Netherlands dan bagaimana goresan keras pena tersebut dicetak di koran Melayu dan disebarkan Nyai serta Darsam ke masyarakat dengan bantuan Kommer (teman Minke di media Surat Kabar), sehingga menimbulkan tindakan demo Ulama-ulama Islam di Surabaya beserta massanya, sampai akhirnya keluar pernyataan dari Mahkamah Betawi bahwa “Pernikahan Minke dan Annelies syah dan dapat dipertanggung-jawabkan, tidak dapat diganggu-gugat” — ini bisa dipadukan dengan kejadian bahwa sedari dulu, Nyai berusaha melegalkan hubungannya dengan Herman Mellema untuk syah dimata hukum — tapi semuanya tak bergambarkan dengan kuat dan jelas, malahan terkesan Minke seolah kaget ketika mendapat surat resmi pernikahannya.

Kalimat Nyai ketika kalah dalam hasil akhir persidangan, yang diucapkannya kepada Minke, “Kita telah melawan, Nak, Nyo. Sebaik-baiknya.

Sehormat-hormatnya”– kalimat ini seandainya diperkuat adegan perjuangan debat Nyai atas hak-hak yang terabaikan dengan bukti-bukti kuat di sidang pengadilan dan goresan keras pena Minke di Surat Kabar, dipadukan adegan dalam film bagaimana perlawanan fisik Minke melompat mendekat ke Hakim, sampai adegan Annelies dibawa pergi dari rumah, alangkah dahsyatnya. Bukan hanya menonjolkan posisi Minke dan Annelies yang duduk di kursi, sementara Nyai duduk di lantai sambil berjalan berlutut dalam beberapa kali.

Ahh.. mengkritik terus Saya. Memang mengkritik itu mudah. Tak sesulit membuat filmnya. Dari segi artistik menarik, seting lokasi keren, make up natural, hair style natural, kostum oke. Logat para pemain dalam bahasa Belanda dan Jawa Timuran, amat terasah, meskipun ada yang lepas. Editing menarik saat slow motion Annelies jatuh di atas jerami dalam kandang. Gambar cantik dan alami, meskipun tak ada beautiful shot dengan kedalaman tertentu dalam framing-framingnya.

Musik orkestranya terkesan hanya tempelan, agak mengganggu karena terdengar cukup keras, original sountrack (OST) suara Iwan Fals dan kawan-kawan kurang matching masuk dalam adegan akhir, lebih menarik ketika ditempatkan pada credit title, suara alam tak terasa (langkah kaki kuda, angin di danau yang membawa keromantisan Minke dan Annelies, pekerja perkebunan, pekerja peternakan dan sebagainya).

Keaktoran biasa saja, hanya salut kepada Iqbal Ramadhan yang bisa lepas dari karakter Dilan, meskipun menjadi Minke juga harusnya lebih bisa diasah, karakter Iyem (pembantu) sangat menghibur dan kuat meskipun sekilas, karakter Ibunda Minke juga kuat hanya saja menurun di adegan selanjutnya, sosok Darsam hanya sebagai lelucon bukan selayaknya pendekar andalan Nyai, adegan fighting pun terasa tak tergarap.

Tuh kan kritikan lagi.. Apa karena Saya pembaca novel Bumi Manusia ya? Jadi gemas sebagai penonton.. Hahahaha.. Tapi Saya juga filmmaker yang mempunyai ekspektasi tinggi terhadap film ini, sehingga merasa berhak menulis resensi filmnya. Dengan harapan sekaligus ucapan, selamat kepada para filmmaker yang membuat Bumi Manusia.