Jelajahnusantara.co – Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia tidak lepas dari euforia semangat Idul Fitri. Setelah selama bulan Ramadhan menahan hawa nafsu, umat muslim sampai pada kemenangan karena berhasil bertahan. Selain budaya mudik, ketupat, dan opor ayam, ada salah satu budaya yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Tentunya budaya halalbihalal.

Awal mula budaya halalbihalal sudah ada sejak zaman Pangeran Sambernyawa. Pemimpin Surakarta ini mengumpulkan punggawa dan prajurit di balai istana untuk melakukan sungkem kepada Sang Raja dan Permaisuri setelah perayaan Idul Fitri. Sejak saat itu, budaya mengunjungi orang yang lebih tua atau yang kedudukannya lebih tinggi untuk meminta maaf sudah menjadi tradisi tersendiri.

Istilah halalbihalal sendiri baru muncul pada tahun 1948. Pada tahun tersebut, Indonesia yang baru merdeka selama tiga tahun dilanda gejala disintegrasi bangsa. Hal tersebut ditandai dengan adanya berbagai pemberontakan serta para elit politik yang saling bertengkar. Pada pertengahan bulan Ramadhan tahun 1948, Presiden Soekarno memanggil KH Wahab Hasbullah ke istana negara. Tujuannya untuk membantu menyelesaikan permasalahan pelik yang mengancam persatuan bangsa tersebut.

KH Wahab Hasbullah kemudian menyarankan untuk mengadakan kegiatan silaturahmi dengan tajuk ‘Halalbihalal’. Kiai yang juga salah satu pendiri Nahdlatul Ulama ini berpendapat bahwa elit politik tidak mau bersatu karena saling menyalahkan. Dan menurutnya, saling menyalahkan merupakan perbuatan dosa (haram). Sehingga untuk menghilangkan dosa, maka harus ‘dihalalkan’. “Para elit politik harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan.” (KH Fuad Hasyim, 2015)

Saran dari Kiai Wahab ini kemudian dilaksanakan oleh Soekarno. Para elit politik diundang ke istana menghadiri acara halalbihalal ini. Dari situ, kemudian para elit politik dapat berkumpul dan duduk dalam satu meja untuk kembali menyusun kekuatan dan persatuan bangsa. Tidak hanya itu, giat halalbihalal ini kemudian digerakkan ke masyarakat luas, baik di kalangan pemerintah maupun masyarakat bawah.

Perkuat Persaudaraan

Halalbihalal sendiri tidak ada dalam budaya ataupun grammar bahasa Arab. Hal ini membuat budaya ini semakin melekat sebagai budaya asli bangsa Indonesia. Walaupun tidak berasal dari arab, namun budaya halalbihalal ini sesuai dengan semangat persaudaraan dalam agama Islam.

Budaya halalbihalal kini sudah menjadi salah satu untuk sarana memperkuat persaudaraan bangsa. Ditengah munculnya berbagai ancaman bangsa seperti terorisme, dan intoleransi, halalbihalal mampu menjadi benteng terakhir dalam mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Hal ini sesuai dengan semangat agama Islam yang mencintai persaudaraan serta perdamaian.

Dimensi Sosial

Secara leksikal halal bi halal berarti boleh dengan boleh, namun karena katahalalsudah menjadi kosa kata bahasa Indonesia maka bolehlah kita mengartikan halal dengan halal, menurut AG.H Sanusi Baco Lc (Ketua MUI Sul-Sel) : Halal bi halal berarti bertemunya dua Insan dalam keadaan saling merelakan untuk saling memaafkan terhadap berbagai kekhilafan dan kesalahan yang pernah diperbuat satu sama lain baik lahir maupun batin, jadi bukan termasuk halal bi halal ketika ada di antara kaum muslim/muslimah yang secara lisan mengaku telah maaf–memaafkan namun di hatinya masih terdapat karang benci atau kedengkian yang mengganjal, namun malah yang terjadi adalah halal bi haram bahkan lebih parah adalah haram bi haram, karena tidak adanya totalitas untuk secara ikhlas saling memaafkan satu dengan yang lain.

Kreasi budaya sperti halal bi halal, merupakan satu kekayaan lokal yang semestinya tidak hanya sebatas acara seremonial tahunan pasca idul fitri yang kadang masih cenderung elitis, namun juga seharusnya menjadi satu media penyadaran tentang pentingnya hablu min annas (hubungan sesama manusia) baik oleh sesama masyarakat lebih-lebih pemimpin dengan masyarakatnya.

Halal bi halal mengandung dimensi sosial yang sarat dengan nilai-nilai egaliter, dimana masing-masing orang berkewajiban meruntuhkan ego dirinya untuk tulus meminta maaf dan memaafkan orang lain. Spirit halal bi halal tidak hanya terbatas pada hubungan antar personal, tetapi lebih jauh sebagai sarana dan momentum berbenah bagi para pemegang dan pengawas kebijakan negeri ini untuk memperbaiki hubungan satu sama lain, dalam rangka mengurai simpul-simpul sosial-ekonomi-politik yang kusut akibat tata kelola pemerintahan yang hanya bersifat prosedural, agenda tahunan yang juga diselenggarakan di berbagai lembaga dan instansi ini, juga selayaknya menjadi ajang memperbaiki dan mencairkan hubungan antar elit partai di musim pilkada dan pilgub yang tentunya menimbulkan ketegangan dan sentimen politik antar parpol, sebagai bentuk kedewasaan berpolitik yang akan menjadi mir’ah (cermin) bagi masyarakat.

Halal bi halal memangcenderung dikhususkan seusai idul fitri, namun nilai-nilai dan spirit yang terkandung di dalamnya tidak bersifat lokal-temporal, dan juga dapat menjadi sebuah momentum positif terjadinya transformasi sosial ditengah maraknya konflik sosial-komunal yang terjadi di masyarakat yang merupakan indikasi dari error of human relationship, meskipun masih menjadi ladang perdebatan dikalangan umat Islam namun lebih memakni halal bi halal sebagai salah satu kekayaan khazanah budaya bangsa akan menempatkannya pada proporsi yang semestinya, karena Islam adalah agama yang sarat dengan nilai-nilai sosial-kemasyarakatan tidak terbatas pada urusan kedekatan relasional dengan Sang Khalik.

 

Penulis: Fadli
Foto: Budi w
Sumber: Jalan Damai