Kelahiran Anoman, bayi berwujud wanara putih ini menandai akhir Iaku tapa ibundanya Dewi Anjani di dunia namun tidak demikian dengan dua saudara ‘sekala’ Anjani yaitu Subali dan Sugriwa yang ditakdirkan berlanjut merajut kisah pengabdian dharma. Bersama dua pamannya yang juga berwujud wanara inilah keberadaan Anoman senantiasa berpihak pada kebenaran dan kebajikan berbekal kanuragan anugerah para Dewa, khususnya Dewa Bayu yang dititah menjadikan Anoman sebagai ‘putra asuh’.

Anoman, perannya tidak saja tercatat pada era Ramayana tetapi tercatat pula dalam kisah Mahabharata sehingga sosok Anoman dipandang sebagai tokoh lintas jaman. Keberadaan lintas jaman ini senada dengan angin yang bertiup memberi kehidupan pada alam semesta dari jaman ke jaman seolah menandakan bahwa dia sungguh ‘putra Bayu’. Anoman, Iewat bingkai pewayangan, menghadirkan simbol pemuliaan sumber daya angin Bayu Pramana.